Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi, seorang gadis dengan bando pita berwarna abu-abu yang matching dengan seragam putih abu-abunya itu langsung membereskan segala buku-buku yang berada di laci meja, memasukannya ke dalam tas, setelah itu tak lupa juga untuk memasukan laptop kesayangannya ke dalam tas. Ia langsung berdiri, tak memedulikan keadaan sekitar yang masih pada ribut dengan urusan masing-masing. Ada yang ribut dengan tugas yang belum selesai dan belum dikumpulkan, ada yang ribut dengan ekstrakurikuler dan segala rencana untuk absen. Ada juga seperti Naya yang sedang sibuk dengan aktivitas bengongnya. Biasa, gadis itu masih sakit hati karena pertengkarannya dengan sang pujaan hati.
Merasa sudah sangat kejam dengan Naya, tidak membantunya di saat kesulitan seperti ini, Rintik yang sudah berdiri dan melangkahkan kakinya sampai depan kelas tiba-tiba saja menoleh ke belakang dan menatap Naya yang masih menelungkupkan tangannya disertai dengan kepala yang disandarkan di atas tangan tersebut. Wajahnya pucat pasi, sejak tadi pagi tidak beralih ke kantin sama sekali. Tak memiliki semangat juga untuk mengikuti setiap pelajaran hari ini. Huh ... sudah lama Rintik tidak merasakan patah hati dan sakit hati sehingga saat ia melihatnya kembali, rasanya kaget bukan main lagi.
"Nay, balik yuk! Udah waktunya pulang nih. Lo enggak ada janji buat apa gitu, kan?" tanya Rintik yang sedang berusaha mencari topik dengan sahabatnya.
Rintik tahu jika ia adalah salah satu gadis yang masa bodo, tidak akan bertanya terlebih dahulu, tidak akan menyapa terlebih dahulu, atau melakukan hal lainnya yang merepotkan. Namun kali ini nampaknya Rintik memang harus melakukan itu semua karena sahabatnya membutuhkan itu. Naya yang biasanya maju paling depan jika Rintik ada masalah apa pun, jadi saat ini Rintik harus membalas budi dengan melakukan hal yang sama.
Gelengan kepala menjadi respon dari Naya. Namun nampaknya gadis itu tak bergerak sama sekali untuk kembali ke rumah atau bahkan sekadar membereskan semua bukunya yang ada di laci. Masih tetap sama yang dilakukan oleh Naya, lesu dengan kepala yang disandarkan di meja.
"Are you okay, Nay? Gue ke rumah lo boleh? Mumpung gue lagi enggak ada kerjaan nih, bisa lah mampir ke rumah lo sebentar. Kalau lo kasih izin juga sih," tutur Rintik dengan penuh kehati-hatian. Rintik tak mau jika nantinya niat baik yang ia inginkan justru menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
"Seriusan lo mau ke rumah gue? Lagi enggak ada siapa-siapa sih di rumah, gapapa kalau misalnya cuma ada gue sama lo? Terus juga ujungnya kita makan mie instan doang atau pesen makanan lain, soalnya enggak ada nyokap gue dan gue enggak bisa masak." Akhirnya setelah sekian lama bungkam, suara Naya bisa kembali Rintik dengar. Meskipun suaranya amat lirih dan tidak seceria biasanya, namun tak masalah bagi Rintik. Yang terpenting ia sudah berusaha dan Naya sudah lumayan membaik setidaknya.
"Ya enggak apa-apa, kan emang gue mau ketemunya sama lo, bukan sama orang banyak. Justru gue suka kalau misalnya sepi, lo tau itu kan. Oh iya, emangnya nyokap sama bokap lo lagi ke mana? Tumben banget lo sendirian di rumah, biasanya aja enggak pernah berani kalau sendiri."
"Ke Solo, Tante gue ada yang sakit makanya nyokap sama bokap ke sana, bantuin rawat tante gue. Ayo deh kalau lo mau ikut balik. Eh salah, kalau lo mau mampir. Kan gue yang bakalan nebeng mobil lo ya," celetuk Naya dengan tawa garing yang jujur saja tidak serenyah biasanya. Nampak sekali jika ini semua hanyalah dibuat-buat saja. Naya sebenarnya masih bersedih namun menghormati usaha Rintik yang mengajaknya balik ke rumah.
Tetapi apa pun yang terjadi Rintik tetap tertawa juga, tawanya pun hanya sebentar saja. Tidak enjoy sama sekali. "Dah buruan ayo! Sekalian ke warungnya Pak Kamso ya, gue traktir mie ayam buat lo. Lagi enggak mau mie instan juga soalnya gue, maunya mie ayam."
"Boleh, deh! Mumpung gue lagi bokek juga, kuy dah!" Tangan Naya dengan riang langsung memeluk leher Rintik, keduanya keluar dari kelas secara bersamaan dengan candaan kecil yang terlontar satu sama lain. Mulai detik ini ada satu lagi pelajaran yang Rintik dapatkan jika sahabat memang hal yang paling utama kita butuhkan setelah patah hati mulai dirasakan.
*
"Lo pernah sakit hati apa enggak sih, Rin? Kayaknya selama gue kenal sama lo, lo enggak pernah sakit hati, deh. Gue sendiri udah enggak bisa keitung lagi berapa bulan sekali sakit hatinya. Cara biar bisa hidup normal kayak lo itu gimana, sih? Fokus banget sama karir, sama sekolah, sama jurnalistik bae lo perasaan."
"UHUK UHUK!" Tiba-tiba saja Rintik terbatuk mendengarkan apa yang Naya tanyakan, mie ayam yang sedang gadis itu makan bahkan sampai terasa di hidungnya, entah karma buruk mana yang Rintik dapatkan hingga hari ini menjadi hari yang cukup menyebalkan bagi gadis itu. Padahal niatnya serta apa yang sudah ia lakukan adalah suatu kebaikan, ia pergi ke rumah Naya yang sedang sakit hati lalu berusaha menghiburnya, setelah itu mentraktir mie ayam untuk sahabatnya, namun Tuhan tetap berkehendak lain.
Dengan menarik napas panjang, Rintik langsung mengambil gelas yang ada di meja, lalu setelah itu diteguknya sampai tuntas membuat suara tegukannya sampai terdengar di telinga Naya. Padahal pertanyaan yang Naya tanyakan cukup simpel sekali, namun Rintik justru terheran-heran seperti ini. Naya jadi curiga jika sifat Rintik yang seperti ini dalam artian cuek dan berusaha bodo amat dengan keadaan sekitar adalah hasil dari perjalanan hidup atau ujian hidup yang pernah Rintik alami sebelumnya.
"Are you okay, Rintik?" tanya Naya sembari mengusap secara perlahan punggung sahabatnya itu.
Rintik mengangguk secara pelan. Gadis itu mengusap lembut lehernya yang nampak sedang kaku sekali. Huh, astaga. Mie ayam masih banyak, rasa lapar masih ada, namun Rintik trauma sehingga tidak ingin memakannya lagi. Sudah tidak bisa melakukan apa pun juga, Sepuluh ribu satu porsinya sudah terbuang sia-sia.
"Oke," balas Rintik singkat. Ditariknya napas dalam-dalam, Rintik memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan untuk satu pertanyaan sialan yang sudah membuatnya menjadi seperti ini. "Gue pernah sakit hati, sakit hati banget malah. Sakit hati itu di saat kita udah yakin dengan apa yang kita pilih, tetapi pilihan itu justru bukan yang terbaik. Gue pacaran sama seseorang, gue cinta mati sama dia, justru jatuhnya hubungan ini jadi toxic. Apa yang dia katakan ke gue, bakalan gue iyain dan gue lakuin sebisa gue. Tapi ujungnya lo tau apa? Dia malah dengan gampangnya bilang bosen ke gue setelah gue milih dia dari banyaknya orang yang ngemis ke gue. Dia enggak mutusin gue, justru jauh lebih dari itu. Dia selingkuh sama temennya yang udah gue anggap enggak akan berpengaruh terhadap hubungan gue sama dia, tetapi lagi-lagi gue salah. Gue sakit hati banget."
Hati Rintik terasa sangat sakit sekali mengingat hal seperti itu, hal yang sempat membuatnya down sampai akhirnya ia sakit dan memilih untuk tidak berangkat sekolah selama beberapa saat. Hatinya teriris-iris merasakan bagaimana menderitanya kehidupan saat itu, kehidupan di mana Rintik tidak tahu apa tujuan hidupnya. Oleh sebab itu setelah merasakan rasa patah hati yang panjang, Rintik menjadi seperti ini, perempuan dingin yang tidak dapat tersentuh oleh siapa pun. Rintik bangga ada di posisi ini karena perlu langkah panjang untuk berada di sini, Rintik bangga ada di masa sekarang, di mana ia jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Proses memang membutuhkan waktu yang sangat panjang, oleh karena itu hasilnya akan maksimal.
"Lo nantinya pasti akan menemukan masa-masa kayak gue, Nay. Masa di mana lo mikir apa tujuan hidup lo, apa langkah yang harus lo ambil, apa yang mau lo lakuin dan akhirnya lo bangkit oleh keadaan. Lo berjuang sampai lo lupa sama yang namanya cinta. Ada masanya nanti, lo nikmati aja suasana lo kayak gini, kasmaran, sakit hati, ribut, kasmaran lagi. Karena kalau gue boleh jujur, gue juga kangen sama situasi kayak gitu, tapi gue enggak siap untuk sakit hati lagi."