Hari ini adalah hari pertama Rintik dan Teratai untuk memerhatikan kinerja tim jurnalistik, mereka berdua mulai melihat bagaimana cara kerja dari anggota satu sampai lainnya, kerja sama yang mereka lakukan serta banyak lagi lainnya juga. Saat ini tugas Rintik adalah memerhatikan anggota yang bertugas membuat cerita bersambung, kebetulan salah satu dari anggota cerbung tersebut adalah Naya si sahabatnya sendiri.
“Gimana persiapan cerbungnya, udah ada lima puluh persen belum?” tanya Rintik pada kelima orang yang sedang duduk memutar di meja bundar dengan posisi berhadapan komputer.
Kelima orang tersebut hanya bisa diam, tidak ada satu orang pun di antara mereka yang berani mengatakan satu patah kata pun, bahkan langsung tertunduk dengan tangan yang meremas ujung roknya dengan tubuh yang bergetar. Rintik jadi menautkan kedua alisnya bingung, kenapa tiba-tiba jadi seperti ini? Mereka semua diam tanpa mengucapkan satu patah pun padahal Rintik sedang bertanya dengan baik. Tidak ada satu k********r dari mulut Rintik, kan?
“Helo, ini kalian kenapa malah diem, ya? Udah selesai atau belum? Kalau belum, progressnya udah sampai mana ya?” tanya ulang Rintik sedikit lebih tegas. Mungkin saja tadi bukan ciri khas dari Rintik, kurang tegas sehingga mereka semua menyepelekan pertanyaannya.
“Belum, Rin. Giliran kedua itu harusnya Naya, kita udah diskusi kejadian apa yang harus dia tulis, udah kasih tenggat satu minggu juga ke dia, tapi dia malah enggak ngapa-ngapain. Dia malah belum nulis satu kata pun, outline-nya aja dia tulis jauh dari alur, giliran kayak gini dia malah cuma diem aja, enggak bersuara. Kalau kayak gini caranya, kita enggak mau lah satu tim sama Naya, kerjaan dia enggak becus.” Salah satu dari tim cerbung berkata demikian membuat atensi Rintik langsung teralih pada Nayara, ia menatap lekat dan tajam pada gadis tersebut, dan balasan dari gadis tersebut hanyalah tundukan kepala saja.
Huh, entah apa yang terjadi pada Naya sampai pekerjaan seperti ini terbengkalai, padahal Rintik sudah berusaha sebisa mungkin untuk percaya kepada gadis tersebut, namun lagi-lagi gadis itu malah menghancurkan tingkat kepercayaan yang diberikan oleh Rintik. Jika seperti ini, Rintik harus apa coba? Rintik hanya bisa mengembuskan napasnya pasrah, ia langsung memijit puncak kepalanya yang sudah terasa sangat berat sekali. Mengambil keputusan teruntuk sahabatnya sendiri memang sangat berat, namun dengan berat hati Rintik harus melakukan itu semua. Rintik harus bisa bersikap adil pada semua anggota timnya tanpa memandang bulu.
“Naya, lo masuk ke ruangan gue sekarang. Kesalahan yang udah lo lakuin harus lo jelasin ke gue,” kata Rintik dengan penuh penekanan. “Tera, masuk ruangan sekarang!” lanjut gadis berbandana biru muda itu dengan sedikit berteriak, memanggil Teratai yang harus turut andil dalam menghukum Naya juga.
Teratai yang semula sedang memberikan arahan kepada tim puisi seketika mendongak dengan bingung. Entah masalah apalagi yang terjadi pada tim ini sehingga seorang Rintik Ranayla Carisha tiba-tiba berteriak memanggilnya. Tanpa perlu menunggu waktu lama lagi, Teratai langsung pamit kepada tim puisi dan mengikuti Rintik dari belakang.
“Kenapa, Rin?” tanya Teratai dengan wajah penuh tanda tanya, sudah ada satu wajah orang yang sangat Teratai kenal sekali di dalam ruangan ini. Orang tersebut juga salah satu sahabat dekat dari Rintik—Naya. Apakah Naya sedang membuat kesalahan sehingga ia dihukum oleh Rintik? Pasalnya jika seperti ini kondisinya sering kali Rintik memang memanggil Teratai untuk berdiskusi mengenai hukuman apa yang pantas untuk sang pelaku.
“Duduk, Ra!” perintah Rintik yang langsung dilaksanakan oleh Teratai. Gadis dengan rambut yang diikat satu biasa itu langsung duduk dan menoleh ke arah Rintik.
“Ceritain, apa sebenernya masalah lo sampai lo enggak mikirin tim jurnalistik? Gue juga liat setiap kali gue ngomong panjang kali lebar, lo malah ngelamun dan enggak dengerin gue. Gue udah kasih banyak kesempatan buat lo loh, Nay. Tapi lo malah kayaknya enggak berubah sama sekali. Lo udah enggak betah lagi di jurnalistik? Mau mundur?” todong Rintik dengan berbagai macam pertanyaan pada Naya yang masih terdiam dengan pandangan mata tertunduk.
Sang gadis yang berstatus sebagai wakil ketua jurnalistik itu saat ini mengangguk paham, ia jadi tahu apa akar permasalahan yang terjadi. Pasti sewaktu Rintik sedang memeriksa tim cerbung, Naya tidak melakukan pekerjaannya dengan benar dan Teratai sudah sangat hapal di luar kepala jika Rintik benci dengan seseorang yang mulur. Teratai juga sebenarnya dari beberapa hari yang lalu menyadari bagaimana keadaan Naya. Naya tiba-tiba murung dan terus menatap lurus ke bawah, bahkan gadis tersebut tidak terlihat sedang berinteraksi dengan sang tambatan hati—Dava.
“Lo ada masalah sama Dava, Nay?” tanya Teratai membuat semua pasang mata langsung mengarah kepadanya.
“Oh gue paham. Apa yang ditanya sama Teratai bener kan, Nay? Gue juga ngomong apa, lo enggak bisa dipercaya. Giliran kayak gini kinerja lo langsung buruk banget, harusnya gue enggak acc Dava supaya masuk ke tim jurnalistik ini,” sewot Rintik yang menyimpulkan semuanya dengan pemikiran diri sendiri.
“Gue emang lagi ada masalah sama Dava, gue cemburu pas dia deket sama temen perempuannya walaupun dia bilang cuma temen aja. Tapi ya pokoknya gue cemburu gitu!” curhat Naya kepada Teratai dan Rintik. Kedua siswi yang memiliki pengaruh besar di tim jurnalistik itu hanya bisa membelalakkan matanya kaget. Ini Naya sedang curhat? Bukannya seharusnya Naya disidang, kenapa gadis itu malah curhat? Memang ya manusia satu ini benar-benar tidak tahu malu dan tidak tahu tempat.
Rintik hanya bisa membuang wajahnya sembarang saja, gadis itu mendesah hebat saat melihat air mata mulai mengalir dari kelopak mata sang sahabat. Astaga, masalah apalagi ini? Sekarang ruangan pribadi ketua tim jurnalistik justru dijadikan tempat curhat dan tempat menangis, Tuhan.
“Astaga lo jangan nangis gini dong, Nay.” Dengan sangat panik Teratai langsung duduk di sebelah Naya, si wakil ketua jurnalistik itu menepuk bahu Naya dengan lembut dan juga memeluk gadis yang tengah menangis. “Lo yang sabar aja ya, Nay.”
“Gue tuh pengen sabar kan, Ra. Tapi Dava malah bodo amat gitu, enggak ada itikad buat ngechat gue atau nemuin gue. Dia juga enggak jemput gue lagi, enggak anterin balik gue lagi. Gue harus gimana coba? Dava egois banget kalau gini ceritanya ih! Dia udah enggak sayang sama gue lagi apa ya? Kok dia gitu sih astaga?” Tangisan Naya semakin kencang, isakan demi isakan juga dapat didengar dengan jelas. Rintik hanya bisa menghela napasnya gusar, ia tidak tahu harus menyikapi bagaimana keadaan sahabatnya ini. Di satu sisi turut sedih karena sebagai sahabat yang baik seharusnya Rintik memberikan solusi serta mendengarkan curhatan Naya, namun di sisi lain ada tanggung jawab yang seharusnya Rintik pegang untuk menghukum siapa pun yang bersalah di tim jurnalistik.
“Lo yang egois lah, Nay! Udah tau kalau perempuan itu cuma temennya Dava doang, ngapain cemburu coba? Kekanak-kanakkan banget!”
“Hua!!!”
“Rintik, astaga!"