Sebuah tim yang sukses adalah tim yang kompak, tim yang menghormati satu sama lain, selalu mementingkan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi. Menciptakan sebuah tim yang dapat dikatakan kompak tentunya sangat tidak mudah, ada banyak sekali hal yang harus dikorbankan dari macam-macam orang, baik ketua tim, wakil tim, penanggungjawab, bahkan anggotanya sekalipun. Hal tersebut juga tentunya dirasakan oleh Rintik. Ada banyak sekali hal baru yang dirasakan oleh gadis belia yang masih berusia lima belas tahun tersebut, terlebih menjadi seorang anak tunggal pastinya membuat sifat Rintik menjadi ingin menang sendiri, namun hal tersebut harus Rintik hindari dan ubah sedikit demi sedikit. Rintik sangat setuju juga jika dikatakan tim jurnalistik merupakan ajang pembelajaran yang bisa diambil banyak manfaatnya. Intinya tim jurnalistik adalah segalanya bagi Rintik.
Saat ini Rintik sedang berada di ruangan jurnalistik, ruangan favorit baginya karena menghabiskan keseharian di ruangan ini. Jam istirahat pertama pada hari ini sebenarnya akan dijadwalkan menjadi jam penyambutan anggota jurnalistik yang kemarin sudah lulus seleksi oleh Rintik dan Teratai. Namun, sebelum jam istirahat Rintik memang sudah berada di sini karena jam pelajaran pertama adalah jam kosong dan tidak mendapatkan tugas sama sekali dari guru mapel tersebut.
“Ibu ketua memang selalu rajin kalau urusan tim jurnalistik ya,” goda Naya yang baru saja memasuki ruang jurnalistik sembari membawa batagor yang ia beli barusan. “Gak perlu diragukan lagi memang ibu ketua kita yang satu ini,” lanjutnya masih berisi godaan.
Rintik yang semula duduk diam di hadapan layar laptop dengan otak yang berpikir keras demi menghasilkan sebuah puisi langsung teralihkan fokusnya dan berdecih sebal. “Mana yang lainnya? Udah gak betah di jurnalistik apa gimana sampai telat gitu?” balas anak remaja tersebut.
“Sabar atuh, Neng. Orang sabar disayang Tuhan tau! Mereka masih pada pelajaran kali, ada ulangan atau yang lainnya juga mungkin,” timpal Naya serealistis mungkin. Naya tentunya sangat tahu bagaimana seorang Rintik bekerja. Ia bisa dibilang sangat in time sekali dan selalu mengajarkan anak didiknya untuk memiliki sikap seperti itu.
“Awas aja kalau telat, gue bejek mereka.”
Meneguk salivanya dengan gusar. “Sadis amat, Neng.” Ternyata Rintik bisa sekeras itu juga ya jadi manusia yang berstatus ketua tim jurnalistik.
Tak berselang lama pintu ruangan jurnalistik kembali terbuka, menampilkan ramai sekali orang yang mulai masuk dan duduk di kursi panjang dalam ruangan tersebut. Teratai yang menjabat sebagai seorang wakil pun duduk di kursi kebesarannya, tepat di sebelah kanan posisi Rintik. Gadis berbandana putih itu menyondongkan tubuhnya ke arah kanan, berbisik sejenak sebelum memulai acara penerimaan anggota baru.
“Dari mana aja lo, anjir? Perasaan kelas lo udah keluar dari tadi deh, Ra. Tapi lo baru ke sini, ya. Hebat banget in time-nya. Salut sih gue sama lo, udah gak betah di tim ini, ya?” sindir Rintik secara sarkas dan gambling sekali.
Teratai yang disindir seperti itu langsung membeku seketika. “Sorry, gak bermaksud buat telat kok, Rin. Lagian juga gue masuk ke tiga di ruangan ini, gue enggak telat lah,” kilahnya tak mau disalahkan. “Biasa, Rin. Gue laper tadi, makanya gue ke kantin dulu buat beli jajan abis itu ke sini. Jangan nyalahin gue gitu, dong. Kan gue dengerin kata lo kalau kerja harus fokus, hilangkan segala jenis distraksi dan salah satu distraksi gue adalah laper, makanya gue berusaha menghilangkan itu semua.”
Rintik diam, tak merespon apa pun yang dikatakan oleh Teratai. Biarkan saja Teratai merasa sebal atau pun kesal. Lagian Teratai juga yang mulai membuat Rintik sebal sampai harus merotasikan bola matanya. “Ekhem …. Assalamualaikum semuanya, selamat pagi. Pada pagi ini saya selaku ketua tim jurnalistik ingin menyampaikan beberapa hal. Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah mengenai anggota baru. Selamat datang kepada anggota baru yang kemarin lolos seleksi, semoga kalian semua bisa mengemban tanggung jawab yang diberikan oleh pihak sekolah kepada kita semua. Hal kedua yang saya sampaikan yakni mengenai tata tertib yang sudah lama berada di satelit ini. Di mana isi tata tertib sebagai anggota jurnalistik yaitu setiap anggota harus bisa mengerjakan setiap pekerjaan yang kita berikan dengan baik dan dengan tepat waktu. Sistemnya nanti akan kita kocok sesuai dengan bidangnya, misalkan puisi membutuhkan empat lembar dan tiga orang, nanti akan kita kocok untuk tiga orang tersebut dan mereka diharuskan bekerja sama dalam membuat empat lembar puisi. Untuk tema yang diberikan tergantung bulan dan hasil diskusi kita. Misalkan bulan Februari tentunya identik dengan kasih sayang, dan lainnya. Sampai di sini kalian paham?”
Semua anggota baru hanya mengangguk sebagai jawaban yang diartikan jika mereka semua paham. Ditatapnya satu persatu para anggota baru, tidak ada yang membuat ulah, bahkan Dava yang Rintik anggap sebagai pembuat onar pun hanya diam sembari menunduk saja. Syukurlah, setidaknya Rintik bisa merasa baik-baik saja. Ia tidak merasa salah mengambil langkah serta keputusan.
“Bagus! Selanjutnya akan ada yang mau disampaikan oleh Teratai mengenai pembagian tugas bulan ini. Jadi para anggota baru sudah bisa mulai membuat karya yang nantinya bisa dinikmati setiap pembaca.”
***
Rintik berjalan memasuki kantin sekolah yang sudah dapat dipastikan padat rayap dikarenakan bel tanda istirahat baru saja berbunyi. Gadis berbandana putih tersebut memang sendirian, tidak bersama Teratai ataupun Naya, apalagi orang lain yang tidak Rintik kenal. Niatnya pada istirahat kedua ini Rintik akan menghabiskan waktu di kantin untuk memakan nasi rames kesukaannya dan menyelesaikan beberapa jumlah cerita pendek untuk dipasang di web sekolah. Ya beginilah kesibukan seorang Rintik Ranayla Carisha, tak jauh-jauh dari tim jurnalistik, pelajaran yang mengharuskan Rintik ambis, dan dunia literasi yang kebetulan Rintik habiskan menjadi editor di penerbit mayor.
Bagi Rintik, makan adalah kegiatan yang bisa dilakukan dengan multitasking, bisa dilakukan sembari menulis sebuah cerita, mengedit naskah, atau bahkan mengerjakan tugas yang ringan. Sangat disayangkan sekali jika membuang-buang banyak waktu dan jatuhnya tidak efisien.
“Rintik!” Suara panggilan dari belakang membuat Rintik membalikkan badannya, ia dapat melihat seorang pria tampan yang tengah berlari menghampirinya dari pintu masuk kantin. Pria yang sejauh ini selalu menghantui pikiran Rintik, pria yang sialnya bisa Rintik percaya dengan mudahnya.
“Iya, kenapa?” tanya Rintik dengan raut wajah datar. Sebenarnya raut wajah tersebut Rintik paksakan supaya tidak kentara jika Rintik senang atas kehadiran pria tampan itu. Ingat, Rintik tidak mungkin memberikan pengaruh buruk pada namanya. Sejauh ini Rintik dikenal sangat ketus dan datar pada pria, maka akan seterusnya demikian, tidak ada yang boleh mengubahnya.
Pria di hadapannya itu tersenyum manis membuat matanya sedikit tenggelam, namun kharisma serta ketampanannya tidak akan pernah luntur. Aish, astaga! Apa yang sedang kau pikirkan, Rintik? Ingat, kau harus fokus! Tidak boleh memikirkan hal yang aneh-aneh, yang sebenarnya menghambat segalanya. Menghambat segala mimpi dan rencana yang sebenarnya sudah disiapkan secara matang.
“Makasih, ya.”
Rintik mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh pria aneh ini. Bukankah sangat aneh sekali jika tiba-tiba bilang terima kasih padahal Rintik tidak melakukan apa pun juga.
“Makasih?” tanya Rintik penuh dengan keheranan. “Makasih untuk apa emangnya, Dava?”
Ya, benar! Pria yang dari tadi Rintik maksud adalah Dava Danaraja, Dava yang merupakan pacar dari Naya. Dava yang selalu menghantui pikiran Rintik padahal Rintik sendiri tidak tahu mengapa ia memikirkan pria tersebut.
“Untuk semua kepercayaan lo sama gue, lo udah kasih gue kepercayaan dengan kasih gue lolos tim jurnalistik, lo juga kasih gue kepercayaan karena sebelumnya tim dokumentasi adalah lo sendiri. Itu artinya lo percaya sama gue, lo percaya kalau gue bisa menggantikan lo di tim dokumentasi.”
Perkataan dari Dava seketika membuat Rintik menyetujuinya. Rintik setuju jika Dava adalah orang yang pantas untuk menggantikan Rintik. Dava adalah orang yang bisa Rintik andalkan.
“Gak usah kepedean, gue kasih lo lolos karena Pak Budi sendiri yang kasih izin, dan Teratai yang pilih lo.”
Pedas dan ketus tidak akan pernah hilang dari ciri khas seorang Rintik, walaupun sebenarnya adalah sebuah kenyataan, namun Rintik malas mengakuinya saja.