Rintik memasuki kawasan perumahannya saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan gadis tersebut baru pulang dari sekolah. Sebenarnya sangat tidak pantas jika dikatakan Rintik pergi untuk sekolah, karena sebenarnya Rintik pergi untuk beraktivitas banyak sekali. Sesekali di sekolah, Rintik juga mengerjakan tugasnya sebagai editor di penerbit mayor, sesekali juga Rintik melakukan kegiatan yang lainnya sebagai seorang ketua di tim jurnalistik. Intinya Rintik dari pukul enam pagi sampai pukul sembilan malam ini berada di sekolah dengan tugas berbeda-beda.
Setelah membelokkan mobilnya beberapa kali ke gang perumahan, tibalah Rintik di salah satu rumah minimalis bercat putih. Gadis tersebut langsung memarkirkan mobilnya secara rapi dan turun dari mobil membawa tas ranselnya bersama dengan laptop silver kesayangannya. Gadis tersebut membuka pintu, langsung dihadapkan dengan wanita berusia empat puluh tahun yang sedang memelototinya.
"Anak ini masih kelas sepuluh udah berani pulang malem banget! Siapa yang ajarin kamu untuk pulang malam hah, Rintik? Sama kayak papahnya, deh! Jadi enggak inget rumah!" omel Dwi—mamah Rintik.
Rintik hanya bisa meringis penuh dosa mendengarkan omelan mamahnya yang selalu mengaitkannya dengan sang papah. Bukankah semua anak perempuan pasti akan mengikuti jejak papahnya? Dari tingkah sampai wajah, bukankah begitu? Pastinya Rintik mengikuti tingkah sampai wajah papahnya karena Rintik adalah putri satu-satunya. Sangat aneh sekali jika Rintik malah mengikuti tingkah orang lain yang entah siapa. Mamahnya ini bagaimana, sih?
"Rintik tadi ada beberapa hal yang harus diurus, Mah." Berusaha menjelaskan kepada sang ibunda, Rintik melepas kaos kaki dan duduk di sofa. Ibundanya tersebut masih bungkam, tidak merespon apa yang Rintik katakan.
Terkadang Rintik memang merasa bersalah sekali karena meninggalkan ibundanya sendirian di rumah, namun berada di sekolah membuat Rintik senang juga. Rintik bisa jauh lebih fokus dan Rintik bisa jauh lebih produktif, itulah alasannya mengapa Rintik lebih senang melakukan pekerjaan di sekolah daripada di rumah. Namun, Rintik juga tidak bisa menyalahkan ibundanya seratus persen mengingat sang ayah yang juga bekerja dengan ambisius sampai terkadang lupa untuk pulang ke rumah.
"Kamu itu masih muda, Rintik. Lebih baik waktu muda kamu dihabiskan dengan bersenang-senang, jangan terus berkutat di sekolah aja, mamah yang capek liatnya." Aneh sekali, kan? Jika para orang tua lainnya akan memerintahkan anaknya untuk berambisi kuat di waktu muda, hal tersebut tidak terjadi pada Rintik. Mamahnya justru lebih senang Rintik bermain banyak hal daripada seperti ini, menghabiskan satu hari penuhnya di sekolah.
"Mah, justru karena Rintik masih muda, Rintik pengen cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Tadi ada pendaftaran tim jurnalistik, ada banyak banget formulir yang harus Rintik sama Teratai urus, makanya Rintik sama Teratai lembur dan baru pulang. Kita juga harus nempel pengumuman siswa yang kepilih di ekskul jurnalistik baru deh pulang ke rumah. Lagian mamah kayak enggak tau Rintik aja, Rintik kan suka sastra, apa pun yang berkaitan dengan sastra harus Rintik selesaikan secara maksimal," jelas Rintik dengan menyentuh pipi sang ibunda, beberapa detik kemudian kecupan kasih sayang dari Rintik mendarat di pipi Dwi. "Udah, ya. Rintik mau ke kamar dulu, mau mandi sama mau ngerjain tugas, abis itu kerja lagi."
Sang ibunda hanya bisa menghela napasnya gusar melihat sang putri yang berlaku seperti ini. Sudahlah, suka-suka Rintik saja. Awalnya Dwi memang tidak menyetujui Rintik menjadi editor di beberapa penerbit mayor, namun karena Rintik meyakinkan jika ia akan bahagia jika menjadi editor, alhasil Dwi hanya bisa memberikan support saja. Anaknya ini memang maniak sekali dengan sastra.
***
"Tumben banget papah udah pulang," ujar Rintik saat menuruni anak tangga, melihat papahnya yang sedang duduk sembari membaca koran di meja makan dan di hadapannya ada secangkir teh yang selalu menemani.
"Kamu ini kayak mamahmu aja," balas Radit yang mendongak ke atas. "Komplain terus, papah pulang lama dikata enggak inget rumah, papah pulang dikata tumben."
Rintik tertawa sejenak, air mata dari pelupuk matanya bahkan sampai keluar saking lucunya. Ia sangat tahu betul apa yang terjadi sebenarnya, sang ayahanda tentu saja sibuk bekerja karena memiliki ambisi yang tinggi, sedangkan sang ibunda yang selalu panik berpikiran negatif.
"Sorry, tapi emang tumben," kata Rintik lagi.
"Hust! Enggak boleh ngomong kayak gitu, Rintik. Nanti malah papah enggak pernah pulang lagi abis kamu komen," timpal Dwi yang baru datang dari dapur sembari membawa nampan berisi nasi goreng. "Nasi goreng spesial untuk sarapan kita pagi ini," lanjutnya dengan riang.
Saat ini waktu masih menunjukkan pukul setengah enam pagi, Rintik akan berangkat setengah jam lagi sehingga Rintik sarapan dulu bersama keluarganya. Jika hari-hari biasanya Rintik hanya sarapan bersama sang ibunda saja, kali ini ada sang ayahanda yang melihat bagaimana gerak-gerik Rintik.
"Papah pulang jam berapa emangnya? Semalem Rintik pulang jam sembilan belum ada papah. Rintik begadang sampai jam dua pagi juga enggak denger suara mobil papah," tanya gadis dengan bandana putih tersebut.
"Oh ketauan nih kalau kamu pulang malem sama begadang lagi!"
Sial, Rintik bodoh sekali rupanya! Mengapa Rintik membuka kesalahannya sendiri di depan kedua orang tuanya? Jika seperti ini sudah dapat dipastikan Rintik hanya bisa meringis malu saja.
"Hehe, peace! Damai, Pah!" goda Rintik meminta keringanan.
"Ya gitulah, Pah. Emang sifat kamu nurun semua ke dia. Aku sampai bosen bilangin dia mulu," omel Dwi yang mulai memasuki pembahasan kedua orang di hadapannya. "Semalem pulang jam sembilan padahal berangkat sekolah jam enam pagi, gimana enggak marah coba aku? Pas jelasin katanya ada hal penting di tim jurnalistik. Tim jurnalistik mulu nih anak, enggak tau apa kalau mamahnya khawatir? Seharian jauh dari orang tua, ditelepon gak diangkat pula!" lanjutnya dengan kesal.
Rintik hanya bisa diam, ia tahu ke mana arah pembahasan akan berlangsung. Ya, Rintik akui jika dia salah, Rintik akui jika Rintik melakukan sebuah kesalahan dengan tidak mengangkat telepon ibunya, itu juga karena Rintik tidak membuka ponsel, Rintik jauh lebih senang membuka laptopnya.
"Kamu papah beliin handphone kan untuk kasih kabar ke orang tua, Rintik." Dengan penuh nada lembut Radit mulai mengatakan hal tersebut kepada Rintik. "Kamu ke sekolah bawa handphone, kan? Jangan diulangi lagi ya, Sayang. Kalau mau ada apa-apa, kabari mamah dulu. Dia pasti nungguin kamu."
"Bawa, Pah. Iya."
***
Rintik memarkirkan mobilnya di parkiran SMA Insan Muria, gadis tersebut langsung mengambil tas ranselnya yang berada di jok sebelah dan mengambil laptopnya juga. Turun dari mobil dengan gayanya yang dingin lalu melangkah penuh dengan wibawa. Banyak siswa-siswi dari SMA Insan Muria yang menatap ke arah Rintik, bisa Rintik tebak jika mereka semua sudah melihat papan pengumuman di dinding mading dan sebagian dari mereka pasti berbisik-bisik tentang Rintik yang berusaha keras menyeleksi banyak sekali calon jurnalis sampai larut malam.
"Rintik!" Suara panggilan dari arah belakang membuat Rintik langsung menoleh, dapat ia lihat sepasang kekasih yang baru turun dari motornya dan menghampiri Rintik yang sudah berada di pintu keluar parkiran.
"Kenapa, Nay?" tanya Rintik dengan polos. Benar, sepasang kekasih yang Rintik lihat tersebut adalah Dava dan Naya. Mereka nampaknya baru berangkat sekolah dan tentu saja mereka berangkat sekolah bersama.
"Makasih, ya! Lo emang bestie gue yang paling the best!" Tanpa diduga Rintik mendapatkan pelukan dari Naya, gadis tersebut tak membalas dan tidak juga menepis. Ia menerimanya tanpa perlakuan apa pun. "Lo emang paling baik hati sampai udah kasih lolos ke Dava, deh!" lanjut gadis manis tersebut yang nampaknya membuat Rintik semakin paham.
Ya, Rintik tahu arah pembicaraannya. Naya berterima kasih kepada Rintik karena Rintik sudah meloloskan Dava. Sudah dapat dipastikan juga di grup angkatan ramai yang membagikan foto yang berada di mading. Dari mana lagi memangnya? Kan sepasang kekasih tersebut juga baru memasuki sekolah.
"Gue lolosin Dava bukan karena Dava pacar lo dan gue pilih kasih ke lo! Enggak ada kayak gitu segala, ya!" gertak Rintik mulai kembali menjadi penuh wibawa. Rintik harus adil jika melakukan apa pun juga, kan? Tidak ada yang perlu dispesialkan hanya karena Nayara adalah sahabatnya saja.
"Mulai banget, tajem omongannya ya, Bu!" balas Naya dengan penuh sindiran.
"Pokoknya kalian berdua harus bisa jaga kepercayaan gue, jangan pernah libatin masalah kalian berdua ke tim jurnalistik, awas aja kalau sampai berani libatin masalah ke tim jurnalistik, gue pecat kalian berdua!"
"Siap, Bu! Enggak akan gue libatin jurnalistik ke dalam masalah kita berdua. Janji!" Naya menyodorkan jemari kelingkingnya, mengaitkan jemari kelingking gadis tersebut dengan milik Rintik sebagai simbol janji.
"Rintik, makasih ya udah kasih gue masuk ke tim jurnalistik. Lo emang ketua tim paling bisa diandelin!" Menyodorkan tangan sebagai ucapan salam dan terima kasih tidak mendapatkan balasan, Rintik justru fokus terhadap apa yang dilakukan oleh Dava, tangannya Dava yang nampak sekali keaestheticannya dan sedikit terbesit rasa penasaran dalam gadis tersebut.
Sial, kenapa Dava dengan mudahnya masuk ke dalam pikiran Rintik?
"Kenapa Dava tampan sekali jika seperti ini terus-menerus, Tuhan?" balas Rintik dalam hati saja tentunya.