Begitu membuka mata, aku sudah ada di kamar. "Bundaa." Puput memanggil seraya mendekat. Dia menyentuh pipiku.
"Kamu sudah sadar rupanya, Lan." Kutengok sebelah kiriku ada Bu Rina. Tetangga dekat rumah.
"Alhamdulillah sudah sadar. Yang kuat ya, Lan. Sabaar." Satu lagi ucapan perempuan dari samping Bu Rina. Adalah Bu Halimah. Masih tetanggaku juga. Ucapannya mengingatkanku pada sesuatu.
"Mas Aris ...." Lirih aku ucapkan itu.
"Suamimu ada di rumah sakit, Lan," ucap Bu Rina.
Aku menangis. Ya Allah, sesak rasanya.
"Ini, minum, Lan. Biar lebih tenang." Bu halimah memberiku air minum. Aku meneguknya perlahan sampai habis setengah.
"Sabar, ya, Lani." Bu Rina mengelus-elus lengan tanganku.
Aku berusaha bangun. Bu Halimah membantuku. Ternyata aku masih mengenakan mukena. Siapa yang membawaku ke sini? Wira? Pasti lelaki itu. Tapi, aku tidak peduli. Mas Aris, bagaimana denganmu?
"Saya mau lihat Mas Aris, Bu."
"Iya. Kamu bisa melihatnya, tapi nanti. Sekarang pulihkan dulu badan kamu. Masih lemas," kata Bu Halimah.
"Ya, Allah .... " Aku tidak sanggup baik-baik saja dan menangis lagi. Rasanya seperti mimpi dan tidak ingin percaya kabar itu.
"Wira yang menemani suamimu di sana."
Aku menyeka tangisku. Jadi lelaki itu bergegas pergi menemui Mas Aris? Dia pasti yang meneruskan berbicara dengan orang yang sudah menelponku. Diberitahu keadaan Mas Aris dan alamat rumah sakitnya.
"Wira datang ke rumah kami memberitahu kamu yang pingsan. Dia mengatakan Aris kecelakaan. Kami diminta untuk nemenin kamu di sini. Sedangkan dia sendiri langsung pergi ke rumah sakit."
Aku terdiam tak berkata-kata lagi. Wira sudah mau repot mengurusi kami. "Terimakasih Bu Rina, terimakasih Bu Halimah sudah ke sini."
"Sama-sama," jawab Bu halimah. "Nanti kami juga mau jenguk suami kamu."
***
Aku memeriksa isi tas sekali lagi. Memeriksa barang-barang keperluanku. Dompet, Ktp, KK, baju ganti, dll. Aku akan menyusul mas aris ke rumah sakit. Aku harus segera ke sana.
"Ayah kenapa Bunda?" Puput di sampingku bertanya. Aku melihatnya. Wajahnya tampak sendu sama sepertiku. Anak kecil ini pun merasakan kesedihan.
"Gak kenapa-napa, Put."
"Ayah berdarah, ya, Bun? Ayah kesakitan, ya, Bun?"
"Doain aja Ayahnya supaya cepat pulang dari rumah sakit."
"Ayah .... " Anak itu menyebut lirih Ayahnya.
"Bunda mau ke Ayah, nanti puput Bunda anterin ke Nenek, ya?"
"Puput mau ikut, Bun."
"Anak kecil gak bisa ikut, sayang. Nanti bisa sakit. Puput diem di rumah Nenek, ya."
"Bunda mau berangkat sama siapa?"
Aku terdiam. Aku sudah mempersiapkan diri. Tapi, entah, sama siapa? Mungkin aku bisa minta bantuan tetangga?
"Assalamualaikum." Wira datang dan masuk. Aku berdiri dari sofa, Puput juga.
"Bagaimana keadaan Mas Aris?" aku langsung menghampirinya dan lupa tidak menjawab salamnya. Aku sudah sangat kawatir dengan suamiku. Wira tampak menghela napas.
"Mas Aris di ruang ICU. Tidak sadarkan diri. Kritis."
"Astagfirullah ...."
Buliran bening meluncur lagi dari mataku. Aku menangis kembali. Tak peduli Wira melihatnya. Separah itu keadaan kamu Mas? "Aku mau ke sana."
"Aku antar."
Aku mengangguk. Tidak peduli berangkat dengan siapa. Aku hanya ingin segera melihat suamiku. Tidak peduli apakah Wira kecapean atau tidak? Toh, dia tidak keberatan. Apa dia sudah makan apa belum? Apa dia lapar atau haus? Aku tidak terlalu memikirkan itu. Dipikiranku hanya ada Mas Aris.
"Kamu siap-siap aja."
"Udah."
"Puput sama siapa? Anak kecil gak bisa masuk."
"Aku titipkan ke Ibuku dulu. Di kampung sebelah."
"Iya."
Aku meraih tas menyampirkannya di bahu. "Put, ayo, ke rumah Nenek, ya."
Puput mengangguk. Aku menggamit tangannya. Wira keluar lagi. Aku dan Puput menyusul.
"Harus make helem, Lan." Wira memberi tahu.
"Aku ambil dulu kalo gitu." Aku kembali masuk dalam rumah mengambil helem punyaku. Setelahnya keluar lagi.
Aku mengunci pintu rumah. Kuncinya dimasukkan dalam tas. "Mas Aris sama siapa di sana?" tanyaku pada Wira.
"Ada Mas Andi dan Mba Aras yang jaga."
"Mas Andi dan Mba Aras ada di sana?" Mas Andi dan Mba Aras adalah Kakak kandung Mas Aris.
"Iya, aku yang menghubungi mereka."
"Memangnya kamu kenal?"
"Kan ada kontaknya di handphone Mas Aris."
Benar juga. Aku lega karena sudah ada keluarga Mas Aris yang tahu dan sedang menunggu. Tinggal aku memberitahu keluargaku. Sekalian aku titipkan Puput.
Wira memberikan ponsel Mas Aris padaku lalu bergegas menghidupkan mesin motor. "Sini, Put. Di depan." Dia mengajak Puput untuk duduk di depan motor.
Ingin aku menolak agar Puput di tengah saja. Biar jadi penghalang antara aku dan Wira. Tetapi setelah kupikir lagi, biarlah. Toh, Puput naik motor hanya beberapa menitan. Akan singgah di rumah neneknya. Tetep ke sananya, aku hanya berdua dengan Wira. Biarlah, aku ada tas. Bisa menjadi sekat di antara kami. Tas itu akan kutaruh di depanku.
Puput yang berjaket pink sudah naik ke motor. Aku menyusul naik duduk menyamping seraya memegang helem. Nanti saja kupakainya setelah dari rumah Ibu.
"Udah?"
"Udah."
"Bismillah." Wira mengucapkan itu lalu menjalankan motor.
Setelah sampai aku langsung buru-buru turun membawa Puput ke teras rumah Ibu. "Assalamualaikum."
Pintu rumah Ibu dibuka dan Ibu sendiri yang membukanya. "Waalaikumsalam. Lani? Puput? Malam-malam kemari ada apa?"
"Ibu ...." Aku langsung memeluk Ibu dan menangis.
"Loh, loh, kenapa? Kok datang-datang malah nangis?"
"Mas Aris, Bu."
"Kenapa dengan Mas mu?"
"Mas Aris kecelakaan .... " Aku sesenggukan. Tangisku keras. Aku tidak peduli sekitar. Tidak peduli Wira yang menunggu di motor. Di hadapan Ibu aku tunjukan kepiluanku dengan leluasa.
"Astagfirullahalaziim ..." Ibu mengelus-elus punggunggku. "Sabar ... Ayo, ke dalam dulu. Puput, ayo."
Aku melepaskan pelukan dari Ibu. Tidak bermaksud singgah lama. "Aku mau nitip Puput, Bu. Mau ke rumah sakit sekarang."
"Yasudah kalo begitu. Kamu harus segera ke sana. Biar Puput di sini sama Ibu. Kamu berangkat sama siapa?"
"Sama Wira."
Aku melihat Wira di motornya di depan rumah Ibu. Dia membuka kaca helem. Ibu melihat padanya. Wira tersenyum pada Ibu seraya mengangguk kecil.
"Dia temen suamimu itu?"
"Iya, Bu. Dia Wira. Wira yang udah ngurusin Mas Aris di rumah sakit. Sekarang dia mau nganterin aku ke sana."
Agak heran Ibu melihatku bersamanya, tapi tidak protes. Mengerti situasi. "Terus, suamimu sekarang di rumah sakit sama siapa?"
"Sama Mas Andi dan Mba Aras."
"Mereka sudah tahu?"
"Iya. Dikabari Wira, mereka langsung ke sana."
"Yaudah, hati-hati, ya."
"Iya, Bu."
Aku melihat pada Puput. Berjongkok di hadapannya. "Bunda pergi dulu."
"Jangan lama-lama, Bunda."
"Iya, sayang." Aku mencium keningnya dalam. Tidak tega rasanya meninggalkannya, tapi aku harus pergi. Aku peluk tubuh mungilnya. Maaf, kita harus berpisah dulu untuk waktu yang entah kapan. Bunda harus menemani Ayahmu. Doakan saja sayang, semoga Ayah cepat pulang.
Aku melepas Puput dan mengusap air mataku sendiri yang betah keluar. Aku berdiri.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aku menaiki motor Wira. Kali ini tidak menyamping. Aku sudah mengenakan celana kulot dalam rok plisketku. Butuh waktu satu jam ke rumah sakit Mas Aris dirawat. Aku tidak bisa duduk menyamping di motor dalam perjalanan cukup lama.
Wira memberiku helem yang dipegangnya. Aku memakainya. Wira menekan klakson dan menganggukan kepala pamit pada Ibu. Puput dan Ibu melihat kepergian kami.
***