Merasa Bersalah

1250 Kata
"Kamu kenapa? Dari tadi diam aja?" tanya Fiko begitu mereka tiba di depan rumah Kintan. "Aku capek." Kintan hendak akan membuka sabuk pengamannya namun ditahan oleh Fiko. Pria itu mendekat, bergerak mengambil alih lalu membukakannya. Fiko menatap Kintan penuh tanda tanya. "Ada yang kamu sembunyiin?" Kintan membuang muka berusaha melepas kukuhan Fiko. "Aku mau turun," pintanya. Takut, jika nanti pria itu bisa membaca pikirannya. Fiko masih mengamati kekasihnya. Tangannya lalu berayun menyentuh pipi kemudian turun ke tengkuk Kintan. Pria itu mendekat, mencium lembut bibir gadisnya. Ciumannya turun ke leher, kemudian bersarang di sana. Setelahnya, memeluk Kintan cukup lama. "Aku kangen sama kamu," bisiknya tepat di samping telinga Kintan. Kintan yang beberapa menit tadi sempat terkejut perlahan melemaskan otot-ototnya. Gadis itu menyandarkan kepala pada bahu kekasihnya, lalu membalas pelukan itu tak kalah erat dan ia pun tergugu. Fiko yang terkejut berusaha melepas pelukannya, namun buru-buru ditahan oleh Kintan. "Tetep kayak gini. Aku juga kangen banget sama kamu." "Kenapa menangis?" Perasaan Kintan campur aduk sekarang. Dia merasa telah berbuat sangat kejam dengan dua bersaudara. Apakah Tuhan akan mengampuninya? "Aku sayang banget sama kamu, Sayang. Maaf, ya? Akhir-akhir ini aku memang sibuk banget di kantor. Banyak hal-hal yang musti aku selesein sebelum kita menikah nanti. Aku harap kamu mengerti." Perlahan Fiko melepas pelukannya, memegang kedua pipi Kintan, menatap matanya. "Kenapa masih menangis?" Kintan menggeleng mengusap bulir-bulir di pipinya. Fiko kembali mendekatkan wajah, menyatukan kening mereka. Kemudian bibirnya turun mencium mata, hidung, dan terakhir mendarat pada bibir Kintan. Ciuman lembut itu semakin lama semakin menuntut. Tangan pria itu bahkan sudah tidak bisa diam dan memegang apa-apa yang sudah lama ia tidak rasakan. Saat Fiko akan membuka sabuk celananya, Kintan menahannya. "Jangan sekarang, ya?" pinta Kintan tiba-tiba. Fiko terlihat memejamkan mata beberapa saat berusaha menguasai dirinya kembali. Pria itu mengangguk lalu mencium kening kintan cukup lama. "Kalau begitu aku pulang, Sayang," katanya sembari mengusap kepala Kintan. Kintan masih terpaku di depan rumahnya walau mobil Fiko sudah menghilang cukup lama. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Bagimana dia akan berkata jujur kepada Fiko? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja menghantui dirinya. Menjadi tokoh jahat ternyata semenyiksa ini. Begitu balik badan Kintan lagi-lagi dibuat terkejut dengan sosok wanita yang jongkok di depan pintu rumahnya. "Lo apa an dah liat gue kayak liat setan aja." Mona berdiri merangkul Kintan dan membawa gadis itu masuk ke dalam. "Laah, ngapain lo malam-malam di rumah gue?" Kintan masih bingung dengan beberapa koper yang sudah ada di sekitar mereka. "Mulai hari ini gue tinggal di sini." "Heh! Ngapain? Kata siapa lo boleh tinggal di sini?" "Kata guelah!" Mona lalu duduk selonjor pada sova, memijat-pijat kedua kakinya. "Gue mau nemenin lo. Kali-kali lo butuh bantuan. Ketimbang gue kepikiran terus di rumah mending gue di sini aja sama lo." Gadis itu beralih memukil pukul kakinya. "Capek banget kaki gue." "Salah sendiri kenapa jongkok di situ nggak nunggu di dalem aja." "Gue masih penasaran sama Geo Geo itu. Gue pikir itu tadi dia. Eh, ternyata yang dateng mobilnya Fiko." "La ngapain Geo yang nganter gue pulang? Secara, yang tunangan sama gue kan abangnya. Terus, tante gimana lo tinggal?" "Bunda cuma iya-iya aja. Palingan dia seneng gak ada yang gangguin dia pacaran sama suaminya." "Suaminya itu bapak lo, Mon!" "Ehehee, iya juga ya, lupa. Habisnya ya katanya tuh kan bapak selalu sayang sama anak perempuannya. Kayaknya, untuk bapak gue pengecualian, deh. Bapak gue lebih bucin sama istrinya dari pada sama anaknya yang imut ini." Kintan terkekeh. Sebenarnya dia cukup iri dengan kehidupan Mona. Mona punya segalanya, termasuk kedua orang tua yang menyayanginya. Terlepas cerita-cerita konyol Mona, Kintan yakin sahabatnya itu juga sangat menyayangi keluarganya. Yah, didikan keluarga cemara memang lebih banyak menghasilkan anak seperti Mona yang ceria dan berhati baik apalagi saat memperlakukan teman-temannya. Kintan bersyukur sekali bisa mengenal sahabatnya. "Terus tadi, gimana? Kok cepet banget mesumnya?" Kintan melotot. "Dari mana lo tahu gue m***m di mobil?" "Naaah bener kan m***m. Gue cuma ngarang aja tahu. Walau agak heran juga sama mobil yang mendadak goyang-goyang." "Masak sih sampai seperti itu?" Mona menonyor kening Kintan gemas. "Memang ada gila-gilanya ya lo. Dua sodara bisa-bisanya lo embat juga." "Bukan begitu, Mon...." "Bukan begitu gimana? Lo mau dua-duanya? Mau punya suami dua? Ih, nggak adil banget! Gue yang jomblo ini bisa-bisanya menyaksikan kelakuan lo." "La gimana lo nggak jomblo, pulang kerja kalau nggak ngintilin gue ya langsung pulang ke rumah. Tidur." "Tidur itu kebutuhan utama bagi b***k kayak kita ini, Kintan. Terus gimana perasaan lo sekarang?" Kintan menunduk membelai perutnya yang masih rata. "Gue merasa bersalah banget sih, Mon." "Setidaknya lo normal. Merasa bersalah, itu berarti lo masih punya hati. Lo bisa menghancurkan hubungan Geo sama abangnya tau, enggak?" "Hubungan mereka memang kurang baik." "Dan lo tambahin? Baik sekali si temen gue ini. Gue gemes banget tahu sebenarnya sama kelakuan lo ini. Lagian apa-apa itu cerita jangan dipendem sendiri. Kalau udah kayak gini gimana? Kacau, kan? Belum lagi kalau keluarganya sampai tahu, gimana? Gue bukan nakut-nakutin tapi lo juga harus mikirin ini." Kintan bersandar pada bahu sahabatnya. Semua kata-kata Mona walau terkesan sinis tidak ada yang tidak benar. "Gue mau bicara jujur sama Fiko." "Habis itu?" "Ya, kalau dia tetep mau sama gue kita lanjut kalau enggak yaudah." "Kok gue sanksi ya sama kata-kata lo." "Maksud lo?" "Gue aja heran kenapa lo bisa sampai jadian dan tunangan sama bang Fiko. Lo nggak terlihat secinta itu sama dia." "Sok tahu." "Gue kenal lo udah lama Kintan ... lo, kenapa tiba-tiba mutusin nrima lamaran bang Fiko?" "Siapa juga yang nggak mau sama pria mapan dan kaya? Bonusnya dia juga tampan." Mona memutar bola matanya. "Yakin itu alasannya?" Kintan mengendikkan bahu. "Gue mau resign kerja," ucapnya lalu. "Terus rencana lo setelah resign?" "Gue mau bikin usaha aja. Gue mau nerusin usaha jastipan gue atau ngembangin toko online gue yang sempat mangkrak. Makin lama perut ini kan juga makin besar, Mon. Atau planing Bnya gue mau nyusulin tante gue yang ada di Australia. Mau bantuin usaha dia juga." Mona memeluk sahabatnya. "Gue dukung semua rencana lo yang penting pokoknya nggak tiba-tiba ngilang aja." Kintan mengangguk. "Gimana ceritanya lo bisa khilaf sama Geo, sih? Yah, selain Geonya sendiri yang emang cakep, sih." Mona menyenggol-nyenggol lengan Kintan. "Emang beda ya rasanya Geo sama Fiko? Enak mana?" Kintan melotot. "Bisa-bisanya ya lo tanya hal yang kayak begituan!" "Gue kan penasaran. Tau sendiri gue awam soal begituan. Gimana? Enak Fiko apa Geo?" "t***l!" "Yaah, pelit banget sih lo sama temen sendiri." Kintan menerawang. "Geo lebih bisa diajak bekerja sama." Mona histeris. "Lo kerja kelompok atau bersetubuh, anjir! Diajak bekerja sama, gak sanggup gue dengernya, setan! Duh, gue ngebayangin lagi!" "Tiba-tiba gue kangen sama Geo." Mona menggelengkan kepala. "Nggak tertolong sih lo kali ini." Geo menyentuhnya dengan lembut penuh kehati-hatian seolah takut dia akan terluka. Apa mungkin, karena itu juga pengalaman pertamanya? Berbeda dengan kakaknya yang selalu dominan tanpa bertanya bagaimana perasaannya. Ok, haruskah ia terus membanding-bandingkan dua bersaudara itu? Bagaimana pun juga itu tidak bisa menjadi pembenaran atas segala kelakuan buruknya. Kintan tetap jadi yang salah atas kejadian yang terjadi ini, dia masih tidak memungkirinya. "Apa gara-gara gue hamil anak Geo ya, Mon jadi rasanya gue pengen selalu ada terus di dekat dia. Rasanya kayak bakalan aman aja saat ada Geo. Bahkan ya, Mon perut gue yang selalu bergejolak mual ini juga bakalan tenang aja saat Geo ada di deket gue. Hawanya adem, damai, tenang aja pokoknya kalau ada dia." "Jujur sama gue, lo bukan baru kenal sama Geo kan, Kin? Nggak mungkin lo kayak gini cuma gara-gara semalam?" Kintan kemudian menatap Mona. Dan gadis itu mengangguk setelahanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN