Semakin Sulit

1407 Kata
Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Walau tidak menyukai ada pada sebuah kerumunan, Kintan berusaha untuk tetap tersenyum mempertahankan mimik mukanya. Gadis itu harus memberi kesan baik kepada keluarga Fiko walau nyatanya dia tidak tahu ujungnya akan seperti apa. Ada di dalam perkumpulan orang-orang yang ia kenal saja rasanya energinya seolah digerogoti, apalagi ini. Wajah-wajah baru yang belum pernah ia temui. "Kamu kenapa? Sakit?" tanya Fiko seusai berbincang dengan beberapa kerabatnya. "Atau kamu memang sebenarnya nggak berselera hadir di tengah keluarga besar aku?" "Please, Fiko ... bisa nggak untuk kali ini jangan mancing-mancing keributan. Ini di acara nikahan keluarga kamu lo." Kepala Kintan mulai terasa nyut-nyutan. Fiko berdecak lalu pergi begitu saja, meninggalkannya. Serius, Kintan diginiin? Kintan memegang perutnya yang mulai tidak nyaman. "Jangan, jangan hari ini," mohonnya lirih sambil berlari kecil mencari kamar mandi. Begitu menemukan apa yang ia cari seketika apa yang ada di dalam lambungnya keluar seiring ia membuka mulutnya. Kintan sampai tidak mampu berdiri saking lemasnya. Air matanya keluar, lidahnya pahit. Bahkan sekarang mata Kintan mulai berkunang-kunang. Kintan terhenyak tidak mampu menoleh saat menyadari ada sepasang tangan memijit kedua bahunya dari belakang. Gadis itu tidak perlu menoleh ke belakang hanya untuk mengetahui siapa yang melakukan itu. Dia sudah sangat hafal aroma parfum itu. Entah seperti mendapatkan keajaiban, perasaannya mulai tenang. "Udah gue bikinin teh jahe anget. Katanya, bagus buat ngredain mual," ucap pria di belakang yang masih setia memijat leher belakangnya. Kintan mencengkeram pinggiran kloset, dia terlalu lemas untuk hanya sekedar membalas apa yang Geo katakan. Gadis itu melotot saat tiba-tiba tubuhnya melayang. Geo, memapahnya tanpa permisi. "Turunin," lirihnya lemah. Geo mengabaikannya. Berjalan pria itu akhirnya mendudukan tubuh Kintan di atas sova setelah memberi bantal-bantal di sekeliling agar Kintan merasa nyaman duduk di sana. Gadis itu menahan tangis oleh hal-hal kecil yang kekasihnya sendiri tidak mampu melakukannya. Geo berjalan ke pantri mengambil nampan yang diatasnya sudah ada minuman yang tadi dikatakannya. Bukan hanya itu, bahkan ada berbagai camilan juga di sana. Geo meniupnya pelan lalu mengayunkan cangkir ke arah bibir Kintan. "Ini, selagi masih anget," katanya sembari tangan satunya ia gunakan untuk membantu Kintan memperbaiki posisinya. "Mau cemilan?" tawar Geo setelah mengelap bibir Kintan dengan jemarinya. Tentu saja gadis itu tertegun. Tidak pernah sekali pun ada yang memperlakukan dia sedemikian baik dan lembutnya. Kintan menggeleng berusaha keras agar tidak mengeluarkan air mata. Sungguh, akhir-akhir ini dirinya gampang sekali menangis. "Mau pulang aja? Wajah lo pucet banget, soalnya. Atau mau istirahat di kamar? Kamar gue ada di atas." Kintan mengerutkan kening menatap Geo. Pria itu tidak mengerti atau pura-pura bodoh si, sebenarnya? Kalau pun dia harus istirahat, lebih tepat harusnya ia beristirahat di kamar Fiko bukan malah di kamar pria itu. "Lo mau cari mati? Kenapa gue harus ke kamar lo?" Seolah baru tersadar Geo mengusap belakang kepala. "Sorry, terkadang gue lupa kalau lo adalah tunangan abang gue." "Gimana perut lo? Sudah, enakkan?" Kintan mengangguk. Ini benar-benar ajaib. Semua gejolak dan perasaan tidak nyaman di dalam dirinya mendadak lenyap tanpa sisa. Walau pun dia masih sedikit lemas. Bagaimana dirinya tidak lemas? Makanan-makanan yang masuk dalam perutnya sudah terkuras habis beberapa waktu tadi. "Kin, lo nggak mau pikirin lagi apa yang gue omomgin kemarin?" Kintan menoleh ke sekitar. Takut-takut ada orang lain yang melihat dan mendengar pembicaraan mereka. Apalagi jika itu Fiko, akan ada perang dunia, nantinya. Kintan tahu pasti, bagaimana hubungan kakak beradik itu yang tidak baik. "Ge, lo sadar kan ini di mana? Bisa-bisanya kita bahas ini di rumah lo. Lo mau mati!" Geo menunduk dan memegangi kedua tangan Kintan. "Gue, gak tahan lagi liat lo kayak gini." Tatapan mereka lalu beradu. "Lo kira gue gak merhatiin lo dari tadi? Gimana lo ke sana-ke mari ngintilin abang gue padahal lonya nahan semua ini. Gimana, sikap abang gue ke lo? Gue gak tahan, Kin. Kenapa lo nggak marah aja sih sama abang gue dan pulang. Kenapa, lo berlagak kuat di depan abang gue?" "Itu bukan urusan lo." Lagi-lagi Kintan tidak mampu menatap mata Geo. Dia takut tidak bisa mengendalikan diri. "Ge, nak Kintan ... ada apa?" Kintan seketika melepas tangan Geo yang masih memegangnya. Jantungnya dag dig dug tidak karuan. Apa mama Geo sempat melihat adegan baru tadi? Semoga saja tidak. Mama Geo buru-buru mendekat ke arah mereka. "Kamu pucat banget, Sayang ... kamu sakit? Maafin Mama, ya? Pasti gara-gara Mama, kamu jadi maksain ke sini meskipun kamu lagi sakit. Kamu bisa kok bilang sama Mama kalau Kintan memang sakit. Mama udah bilang kan sama Kintan nggak perlu sungkan sama Mama. Anggap Mama ini Mama kamu sendiri." Mama Geo membelai calon menantunya itu. Tatapan beliau kemudian berpindah ke arah Geo yang saat itu tengah memperhatikan Kintan dengan sorot mata yang begitu khawatir. "Terus kenapa kamu yang di sini, Ge? Abangmu mana?" Sang mama mendekat "Matamu merah, kenapa?" Geo yang baru tersadar langsung menata kembali ekspresinya. Pria itu mengendikkan bahu seolah acuh padahal diam-diam menata degup jantungnya. Dia takut, jika sebenarnya mamanya tengah menilainya. Sang mama adalah satu-satunya manusia yang bisa dengan mudah membacanya, bahkan semua di rumah ini tidak mampu membohonginya. "Geo tadi nggak sengaja waktu mau kencing liat Kintan, jadi yaa gitu." Sial kenapa dengan otak dan mulutnya? Geo seperti seorang yang gagu saat menyembunyikan sesuatu kepada sang mama. "Biasain panggil kak dong. Bentar lagi kan kak Kintan jadi kakak kamu. Yaudah, makasih buat perhatian kamu. Kamu bisa pergi biar Mama yang urusin Kintan." "Tapi, Ma-" "Tapi, apa?" Geo melongok ke arah Kintan. "Lo yakin udah nggak apa-apa?" "Biasain kakak, Geo!" "Ehm, Kak Kintan yakin udah nggak apa-apa? Perutnya udah enakkan belum?" Kintan meringis menahan geram. Kalau seperti ini tingkah Geo, tidak sampai menunggu lama mereka juga nanti bakalan cepat ketahuan. Kenapa sih dengan pria itu? Kintan mengangguk. "Udah nggak apa-apa, " jawabnya canggung. "Udah, kenapa masih di sini?" tanya sang mama yang sepertinya mulai jengkel dengan tingkah anaknya. "Iya iya, Ma. Geo pergi dulu." Tapi pria itu malah masih membatu menatap Kintan. "Ge!" "Iya ... iya! Geo pergi ini." "Eh, jangan lupa panggil abangmu!" "Enggak perlu, Ma. Kintan udah nggak apa-apa kok. Habis ini Kintan nyusul ke depan." "Mau dibantuin jalan?" tanya Geo dari kejauhan yang ternyata masih belum-belum pergi meninggalkan mereka. Kintan dan sang mama menatap Geo bersamaan. Kintan berusaha memberi kode jika Geo tidak perlu melanjutkan aksi bodohnya, di lain sisi mama Geo mulai menilai sikap aneh anak bungsunya. "Udah Mama aja, kamu sana ada Luna. Nyariin kamu dari tadi." "Mama ke kerabat-kerabat nggak apa-apa. Kintan udah baik-baik aja, kok. Mama, nggak usah khawatir." "Beneran? Kamu duduk di sana. Itu ada Fiko dan Geo juga di sana." Kintan mengangguk. Ia berjalan mendekat walau perasaannya sedikit tersayat. Siapa lagi itu? Gadis itu terlihat sangat dekat dengan Geo. Kintan jadi teringat juga soal gadis yang tempo hari berciuman dengan Geo di mall. Kenapa dia bisa lupa? Apa boleh dia menanyakannya? Benarkah gadis yang juga bekerja di kantor yang sama dengan Geo itu adalah kekasihnya? Lalu siapa lagi, ini? "Sayang!" panggil Fiko yang akhirnya sadar akan keberadaan dirinya. "Lun, ini calon istri gue." Kintan dan Luna bersalaman. Gadis itu tersenyum cantik menyambutnya. "Gue kira lo bakalan nikahnya sama laptop dan berkas-berkas aja, Bang. Ternyata suka juga sama wanita," sindir gadis itu. Kemudian melirik Geo. "Terus, lo kapan nglamar gue?" Kintan meremas buku-buku jarinya. Dadanya sesak melihat Luna bergelayut manja di bahu Geo. "Dia udah ada pacar tahu. Lo nggak tahu?" "Hah? Gimana? Kenapa lo pacaran sama cewek lain si, Ge? Pasti cuma rumor doang, kan?" Luna menoleh ke Fiko. "Bang Fiko kayak nggak tahu aja, sih. Geo kan friendlynya kebangetan, anaknya. Itu pasti cuma sekedar teman, kan?" "Mana ada teman, cipokan," sahut Fiko. "Hah, yang bener? Ih, bohong Abang, ih! Nggak bener kan, Ge? Itu kan bibir gue...," tunjuk Luna pada bibir Geo. "Tanya cewek gue. Dia juga lihat waktu Geo adu mulut sama tu cewek." Geo berdecak. Kenapa abangnya jadi banyak omong, sih? "Bener, Kak?" tanya Luna memastikan. Kintan mau enggak mau pun mengangguk. "Tanteeeee!" Luna berlari menyusul mama Geo. Pasti gadis itu akan mengadu ke sang mama. "Bang Fiko kenapa, sih?" serbunya tidak terima. Kalau seperti ini, situasi akan semakin rumit. "Kenapa? Ada yang salah? Omongan gue bener semua, kan?" Benar seperti dugaannya. Tidak menunggu waktu lama mamanya datang sembari melipat kedua tangannya di d**a. "Kenapa nggak kamu bawa cewekmu ke sini juga, Ge? Mau kamu sembunyiin dari mama? Kenapa? Takut mama berbuat jahat sama cewekmu? Besok bawa itu cewekmu ke rumah buat ikut acara makan malam keluarga!" Geo menatap Kintan putus asa. Dia lupa menjelaskan hubungannya yang sebenarnya. Tunggu, apa itu perlu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN