Geo berulang kali mengerjap melihat pemandangan di hadapannya. Dia tidak melebih-lebihkan. Kintan sangat cantik sekarang. Padahal hanya mengenakan kebaya tanpa mengoleskan apa-apa di wajahnya.
"Ini agak besaran dikit sih tapi nggak apa. Soalnya, takut nanti perut gue kan semakin membesar."
Geo seketika tertampar. "Terus, kalau perut lo membesar, gimana?" Dia seratus persen tahu sebenarnya, namun hanya memastikan saja.
Kintan mengendikkan bahu. "Gue masih belum tahu."
Geo membuang napas menatap Kintan dari pantulan kaca besar di depannya. Posisi dia saat ini tepat di belakang Kintan setelah tadi membantu gadis itu. Mereka tatap-tatapan di kaca, Kintan terlihat jelas sedang gamang.
"Kenapa lo nggak mau aja sih nikah sama gue?"
"Lo kira bisa segampang itu?" Kintan berbalik dan karena itu akhirnya mereka benar-benar berhadapan.
Geo menggeleng. "Enggaklah. Pasti nggak bakalan segampang omongan gue tadi." Pria itu memegang lengan Kintan. "Tapi, Kin ... mau nggak mau kita juga harus hadapin konsekuensi soal apa yang pernah kita lakuin." Geo memotong saat Kintan ingin menepis ucapannya. "Bukan soal siapa yang salah, Kintan ... bukan lo doang gue juga ikut andil sama semua ini. Kalau waktu itu gue nolak lo mentah-mentah, hal kayak gini juga pasti nggak bakalan terjadi. Tapi, gue kan malah nerima ajakan lo dengan sadar. Gue nggak sedang minum, gue sadar betul, Kin."
Kintan melepaskan tangan Geo yang bertengger di lengannya. "Lo lebih baik pulang, deh."
"Kin...."
"Gue pengen sendiri, Ge."
Geo membuang napas. "Mau dibantu lepasinnya?"
"Nggak perlu. Gue bisa sendiri."
"Nanti mau makan malam sama apa? Jangan bilang bubur, lagi? Gue masakin, ya? Terus gue kesini buat ngasihinnya." Melihat raut wajah Kintan yang tidak senang dengan ide darinya, Geo pun buru-buru meralat ucapannya. "Gue gojekin kalau lo nggak mau lihat gue," putusnya pada akhirnya. Kemudian Geo pun menghilang dari balik pintu kamarnya.
Beberapa saat kemudian seseorang terdengar menaiki tangga lalu membuka pintu kamarnya.
"Apa lagi? Udah gue bilang kan lo pergi aja gue pengen sendiri!" seru Kintan tanpa menoleh ke sumber suara
"Lo ada masalah apa sama gue? Gue baru kesini, juga! Heran."
Kintan terkejut saat bukan Geo yang masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu buru-buru mengusap air matanya.
"Lo nangis? Lo kenapa sih? Itu cowok tadi siapa? Mukanya kok gak asing, ya?" cecar Mona. Gadis dua puluh lima tahun itu merupakan sahabat Kintan dari mereka masih duduk di bangku SMA dan kebetulannya lagi mereka juga bekerja di kantor yang sama. "Ini kenapa lo pakai kebaya? Mau acara apa? Nikahan lo dipercepat?"
Kintan duduk di pinggiran ranjangnya. "Gue hamil."
Meski Mona terlihat terkejut, namun detik berikutnya dia sudah berhasil mengontrol mimik wajahnya. "Ooh, itu makanya pernikahan lo dipercepat? Syukur deh ... biar lo nggak kesepian lagi kayak yang lo selalu bilang, kan. Lo bisa dua puluh empat jam ketemu bang Fiko yang super sibuk itu. Terus, kenapa lo nangis? Nyantai aja kali."
"Masalahnya, Mon ... gue hamilnya bukan sama Fiko."
"Hah! Lo, gila! Sama siapa?"
"Sama adiknya."
"Adik siapa?" tanya Mona terbata.
"Adik Fiko."
"Anj***!" Mona memijat pelipisnya. "Kin! Pasti gue salah denger kan tadi atau ini gue mimpi? Hah? Ini beneran?"
Kintan hanya membuang napas putus asa.
"Jadi tadi yang gue papasan sama cowok itu adik Fiko? Kintaaan kenapa bisa sih? Gue tahu adik bang Fiko emang ganteng sih, tapi bang Fiko kan juga ganteng ... lagi pula kalau dilihat-lihat tadi memang mereka mirip. Itu makanya gue tadi bilang familiar sama wajahnya. Kintan ... bilang ini enggak bener."
"Sayangnya gue saat ini udah hamil anak dia, Mon. Ini udah mau jalan sebulan."
"Paling nggak kalau lo tergoda sama adik bang Fiko, minimal jangan sampai hamillah. Kenapa bisa-bisanya lo malah kebobolan."
"Gue juga nggak tahu. Padahal juga sekali doang kenapa bisa jadi gue nggak tahu, Mon."
"Kenapa sih? Apa yang kurang sama bang Fiko, Kin? Banyak lo yang pengen jadi lo. Dia ganteng, kaya, pekerja keras."
"Gue kesepian Mon ... gue akui gue salah tapi dia sama sekali nggak ada waktu sama gue. Gue bahkan berpikir kalau dia nggak beneran suka sama gue."
"Kalau dia nggak suka, nggak bakalan juga dia ngajakin lo nikah, kan? Terus gimana?"
Kintan menggeleng. "Gue nggak tahu. Gue bingung."
Mona menatap Kintan cukup lama lalu tiba-tiba memeluk gadis itu erat. "Lo jadi kurusan gini. Baru juga dua minggu kita nggak ketemu," kata Mona setelah melepas pelukannya dan dia tergugu setelahnya.
"Kenapa lo malah nangis?"
"Gue mikirin lo pek-ak!"
Kintan tersenyum lalu kembali memeluk sahabatnya.
"Yang jelas adik bang Fiko bukan cowok baik-baik, Kin. Udah jelas lo calon iparnya eh dianya malah mau-mauan! Terus, respon dia gimana? Jangan bilang pengen lo gugurin ini anak! Awas ya kalau sampai lo gugurin calon ponakan gue! Jangan nambah-nambahin dosa lo!"
"Dia baik, Mon. Baik banget. Gue malah yang berencana gugurin ini cebong. Dia berulang kali ngajak gue nikah dan bilang sama keluarganya. Gue yang nggak mau."
"Kenapa lo enggak mau, si!"
"Karena gue tahu diri! Gue yang ngegoda dia berulang kali meskipun berulang kali juga dia nolak gue. Gue tokoh antagonisnya di sini, Mon. Kalau dia harus menanggung ketololan gue, gue nggak punya muka lagi."
"Lo emang t***l! t***l banget! Sefrustasi-frustasinya kenapa malah ngegoda adik calon suami lo sendiri, si! Pusing kepala gue denger kelakuan lo! Terus kalau sudah kayak gini, gimana? Sesuai yang kayak lo bilang ini itu murni kesalahan lo dan jangan lo sampai gugurin calon ponakan gue. Itu juga bukan salah dia."
Memikirkan hal yang belum terjadi dan pasti suatu saat bakalan terjadi itu membuat gejolak di dalam perutnya semakin menjadi-jadi. Padahal beberapa waktu tadi, perutnya jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya kenapa ini mulai lagi? Kintan buru-buru berlari masuk ke dalam kamar mandi memuntahkan bubur ayam yang baru saja dimakannya. Kemudian dia menangis. Kenapa juga dia harus mengeluarkan makanan favoridnya itu sih? Bagaimana, ini? Kalau dia ingin bubur ayam lagi, gimana?
Dari belakang Mona memijat leher Kintan sambil menepuk-tepuk punggungnya. "Habis ini kita ke rumah sakit, ya? Lo udah pernah periksain kehamilan lo?"
Kintan mengelap mulutnya dengan tisu yang diberikan oleh Mona berjalan ke wastafel untuk berkumur dan mengelap mulutnya lagi lalu berjalana merebahkan diri ke atas ranjang tempat tidurnya. Ia menggeleng. "Gue udah pernah priksa kok dan katanya hal kayak gini wajar di trimester pertama."
"Lo makan apa selama ini?"
Kembali Kintan menangis. "Gue paling suka bubur ayam, Mon."
"Iya ... iya nanti gue beliin nggak usah nangis juga kali. Gue jadi tambah bingung nih."
"Nah itu masalahnya, Mon. Perut gue cuma nerima bubur ayam buatan Geo."
"Oh, jadi namanya Geo? Berarti dia yang selama ini masakin bubur ayam buat lo?"
Kintan mengangguk. "Baik kan dia?"
Mona memutar bola matanya. "Gue beliin yang paling enak deh! Atau gue buatin sendiri, gimana?"
"Lo bisa masak, emang? Masak telur aja gosong lo mau akal-akalan masakin gue."
"Namanya juga usaha kali, Kin."
Ditengah perdebatan mereka soal makanan, bel rumah Kintan berbunyi. Buru-buru keduanya turun. Mona berlari. Begitu kembali, di tangan kanan dan kiri gadis itu sudah ada berbagai tentengan.
"Ini yang lo tunggu. Katanya pengirimnya Geo," katanya menaruh berbagai kantong berukuran berbeda-beda di atas meja makan, kemudian membukanya satu-persatu.
"Wuaa ... ada macam-macam buah. Ini juga ada suplemen, s**u ibu hamil, camilan-camilan, bubur ayam, tumis daging. Wuaaaao ... gue bingung mau ngomong apa. Sebentar, ini juga ada guling? Oh, ini digambarnya buat ibu hamil bobok, Kin. Ada lagi! Aroma terapy juga ada, masih banyak lo buka sendiri aja deh ya gue siapan makanannya aja buat lonya. Mau bubur ayam dulu atau ini tumis daging?" celoteh Mona rerkagum-kagum.
"Gue mau semuanya." Mendadak perut Kintan kembali bergejolak. Namun, bukan keinginan untuk membuang apa-apa yang ada di dalamnya, karena toh juga isi lambungnya sudah terkuras habis baru saja. Dia lapar sekali melihat makanan yang dikirimkan Geo baru saja. Semuanya begitu menggoda.
Mona masih tidak habis pikir. Hubungan macam apa yang dijalani oleh sahabatnya? Binar itu, tidak pernah ia lihat saat Kintan menceritakan tunangannya.
"Enak banget, ya?" tanya Mona terkagum-kagum dengan cara makan Kintan yang tidak pernah ia lihat. Gadis itu begitu menikmati makanannya, tersenyum-senyum sembari sesekali menggoyang-goyangkan kepalanya.
Kintan mengangguk-angguk. "Iya enak banget. Dia pasti masak sendiri makanan ini!" terang gadis itu menggebu-gebu.
"Masak, sih?"
Kintan menyodorkan ponsel miliknya yang di sana ada video seorang pria yang tengah berjibaku dengan berbagai bahan masakan kepada Mona.
"Kalian nikah aja nggak, sih? Mau sampai kapan kayak gini?"
Ekspresi Kintang langsung berubah. Ia meletakkan sendok makannya lalu menarik nafas dalam-dalam. "Boleh gue makan ini dulu, enggak?"
Mona akhirnya menutup mulut walau sebenarnya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di dalam otaknya yang memaksa dia untuk segera menuntaskannya.