Bertemu Lagi

1096 Kata
Geo melamun setelah membaca pesan pemberitahuan yang mengatakan bahwasanya dia tidak diperkenankan masuk kantor dalam dua minggu ke depan. Pria itu menimbang-timbang kesalahan apa yang baru diperbuatnya kemarin. Dan tentu saja nihil. Dia tidak merasa melakukan pekerjaan yang berdampak buruk bagi perusahaan. Selama ini semua tugas yang diberikan kepadanya selalu mampu ia kerjakan dengan baik, bahkan sebelum masa tenggang yang telah diberikan. Karena itulah pada akhirnya dia sempat menghubungi HRD untuk mendapatkan alasan mengapa ia berakhir diberi hadiah skors oleh perusahaan yang notabene perusahaan abangnya sendiri. Tunggu, apa gara-gara kemarin? Tapi, abangnya, bukan tipe yang mencampur-baur masalah pribadi dengan kantor. Geo harus mencari tahu setelah ini. Geo memutuskan untuk berjalan-jalan membuang rasa jenuh di apartemennya. Dia sungguh tidak menyukai keadaan yang dia harus berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Namun, baru saja ia berniat akan membuka pintu, ponsel miliknya mendadak berbunyi. Ia buru-buru mengangkatnya, karena panggilan itu berasal dari yang mulia ratu penguasa di keluarganya. "Iya, Ma. Ada apa?" "Kamu di kantor, ini?" "Enggak. Geo cuti, capek kerja," bohongnya karena tidak mau memperburuk masalah. Dia tidak ingin lebel pria suka merengek semakin menjadi fakta saat nanti sang mama mengonfirmasi apa yang ia katakan kepada bang Fiko. "Tumben bisa capek kerja segala," sindir sang mama dari seberang sana. "Namanya Geo juga manusia, Ma," dalihnya tak mau kalah. "Manusia? Manusia apaan yang hari gini masih jomblo aja. Ingat, Dino di rumah aja istrinya udah tiga." "Itu kucingnya aja yang emang murahan!"seru Geo tidak terima dirinya disamakan dengan kucing sang mama. Dino adalah kucing mamanya yang sempat hilang beberapa hari. Semua orang ikut bingung, termasuk juga dirinya. Sialnya, begitu pulang hewan berbulu itu malah membawa tiga betina. Kan asem! Sejak saat itu Geo selalu dibanding-bandingkan dengan makhluk pengangguran itu. "Waaah kebetulan sekali!" seloroh sang mama yang tetu saja bukan sesuatu yang baik untuknya. "Berhubung sekarang kamu nganggur dan jomblo. Kamu cepet pulang ke rumah. Mama minta tolong antar kebaya buat calon kakak ipar kamu. Kebetulan kebayanya sudah jadi. Sekalian kamu coba juga—" "Kebayanya?" "Kalau mau nggak apa-apa." "Lagi pula yang nikah ponakan mama kok yang ribet mama sih." Satu minggu akan ada acara pernikahan salah satu ponakan dari mamanya. Segala t***k bengek sang mama yang mengurusnya untuk menggantikan peran adiknya yang telah lebih dulu berpulang. "Cepet pulang!" "Iya iya. Emang mama gak punya applikasi pesan antar? Kan bisa diantar lewat gojek, Ma." "Nggak sopan! Nanti biar kakak kamu coba itu kebaya. Terus, kalau masih kurang pas kamu bawa lagi. Udah nggak usah kebanyakan alasan. Cepet!" "Kenapa nggak abang aja sih, Ma?" "Abangmu itu sibuk! Cepet!" Geo menghela napas panjang. Situasi macam apa ini? batinnya, nelangsa. Setelah berbagai drama dari sang mama, kembali Geo berdiri di depan pintu rumah calon iparnya. Sungguh, kenapa harus dia sih yang mengantarkannya. Kenapa bukan abangnya saja yang jelas-jelas calon suaminya. Masak sesibuk-sibuknya tidak mampu meluangkan waktu dengan calon istrinya? Setelah selesai dengan pergulatan batinnya Geo akhirnya memberanikan diri menekan bel rumah Kintan. Setelah bunyi irama bel berhenti, sipemilik rumah akhirnya keluar juga. Sepertinya sang mama sudah memberitahukan kedatangan dirinya, karena dilihat gadis itu sama sekali tidak terkejut melihatnya. Geo menyodorkan totebag berisi kebaya titipan mamanya tadi. "Ini sekalian lo coba nanti kalau nggak pas biar gue bawa pulang lagi." Kintan mengangguk mengambil totebag tadi lalu membuka lebar pintu setelahnya masuk ke dalam rumah. Itu diartikan Geo bahwa tidak apa dia ikut masuk juga ke dalamnya. Geo duduk di sova ruang tamu tanpa menunggu persetujuan pemiliknya. Matanya menyisir ke dalam rumah melihat-lihat foto dua gadis SMA di dekatnya. Pria itu tersenyum. "Mau minum apa?" "Nggak usah, terimakasih." Tunggu, kenapa mereka berdua jadi secanggung ini? "Lo udah nggak apa-apa? Maksudnya apa masih mual?" "Masih," jawab Kintan singkat. "Sudah makan?" "Gue ke atas dulu," balas Kintan mengayunkan kebaya yang ia pegang. Gadis itu seolah enggan menjawab pertanyaan dari Geo. Untuk membunuh waktu, Geo memutuskan mengambil ponsel miliknya. Namun, belum juga sempat pria itu memainkannya terdengar suara seseorang terjatuh dari lantai atas. Mendengarnya Geo pun berlari untuk mengecek keadaan dan benar saja Kintan di dalam kamarnya telah merangkak mencoba mencari pegangan untuk dirinya. Geo buru-buru membantu gadis itu berdiri dan mendudukannya pada ranjang. "Ada yang luka?" tanyanya sembari mengamati tubuh Kintan. Kintan menggeleng. "Lo belum makan, ya?" tanyanya sekali lagi, karena dilihat wajah Kintan yang semakin pucat. Melihat Kintan menggelengkan kepala, Geo membuang napas berat. "Mau makan apa?" "Gue boleh minta dibuatin bubur ayam yang kayak dulu, enggak?" pinta gadis itu ragu-ragu. Geo menatap Kintan cukup lama sebelum pada akhirnya memeluk gadis itu dengan eratnya. Sungguh dia tidak tahu kenapa ia memeluk gadis di hadapannya, entahlah. Hanya ingin saja. "Iya gue buatin. Lo tiduran aja di sini. Gue keluar dulu beli bahan-bahannya habis itu ke sini lagi." Geo menatap gorden kamar yang masih tertutup. "Gue boleh buka gorden dan jendelanya. Biar udara segarnya bisa masuk?" Kintan cuma mengangguk saja mengiyakan. "Tunggu di sini. Nanti kalau buburnya udah jadi gue ke sini. Kalau mau tidur, tidur aja dulu." "Sebelum itu gue boleh minta peluk dulu enggak? Akhir-akhir ini gue nggak bisa tidur." Geo langsung menggeser tubuhnya duduk di sebelah Kintan. Gadis itu pun langsung membuat d**a Geo menjadi alas tidurnya. "Terimakasih," lirih Kintan. "Sudah berapa hari sulit tidur? Bawah mata lo sampai hitam gitu." Kintan menggeleng. "Saking banyak hari gue lupa buat ngitungnya. Tunggu di sini sampai gue bisa tidur, ya?" Diam-diam gadis itu tersenyum. Sungguh, Geo adalah tempat ternyamannya saat ini. Bahkan belum sampai lima menit saja gadis itu sudah tenggelam dalam mimpinya. Setelah berjibaku dengan perbuburan Geo kembali lagi ke kamar Kintan. Duduk di samping ranjang menatap betapa kacaunya gadis yang tengah tertidur lelap itu. Padahal beberapa waktu tadi Kintan mengatakan, jika akhir-akhir ini gadis itu menderita gangguan tidur. Geo mendadak teringat akan suatu hal lalu buru-buru telunjuknya ia letakkan di bawah hidung Kintan demi mengetahui masihkah gadis itu bernapas dan ia menghela napas setelah menyadari, jika masih ada napas di sana. Geo memukul kepalanya yang akhir-akhir ini selalu berpikir hal konyol. Perlahan Geo menggoyang-goyangkan lengan Kintan. "Kintan ... lo masih ngantuk? Buburnya udah matang nih." Dengan gerakan perlahan gadis itu akhirnya terbangun mencoba bersandar pada sandaran ranjang. "Gue suapin aja, mau? Lo kayaknya lemes banget." Tanpa menunggu anggukkan Kintan Geo meniup-tiup buburnya lalu menyuapkannya ke mulut Kintan. "Gimana?" tanyanya. "Enak banget," jawab Kintan jujur. Bubur itu begitu nyaman masuk ke dalam perut miliknya. Hanya makanan ini yang tidak pernah ditolak oleh perut Kintan. Gadis itu memakannya dengan lahap. "Soal kebayanya bisa nanti-nanti aja lo coba. Nanti biar gue bilang sama nyokap kalau lo lagi sibuk." "Lo mau nolongin gue buat makein ini kebaya?" "Hah?" "Lagi pula lo kan udah pernah liat semua." "Iya, eh apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN