Sabarlah, anggap saja dirimu sebuah bola bekel. Jika kau dibanting, bukan
jatuhnya yang penting tapi memantulnya yang penting.
Semakin dibanting, kau akan semakin melambung,
karena Tuhan meninggikan derajatmu,
tapi itu terjadi jika kau ikhlas.'
Bis yang aku tumpangi ternyata bukan bis dengan rute yang biasa aku naiki. Bis ini bertujuan ke Pasar Lama. Sial seribu sial. Arah yang berlawanan dengan kantorku. Kesialan nomer dua adalah aku tak bisa semena-mena menghentikan bis ini. Aku baru bisa turun di halte berikutnya.
Kulihat jam di atas papan iklan perempatan jalan. Jam telah menunjukkan –bahwa aku sangat kesiangan-.
Jam itu seolah berteriak, “Apa? Kesiangan lagi? Woiii... ini sudah sangat siaang...!”
Kupejamkan mataku, lalu fokus berdoa dalam hati. Tuhan! Jangan biarkan aku kesiangan di rapat pertamaku. Aku telah menyiapkan laporan survey pasar sejak tiga hari lalu. Jangan biarkan usahaku untuk survey itu menjadi sia-sia. Tuhan, plis... plis... plis..
Di halte berikutnya aku turun, dan menyeberang jalan lewat jembatan penyeberangan, untuk berganti bis ke arah sebaliknya. Menuju kantorku.
Syukurlah, akhirnya aku melihatnya. Sebuah gedung mewah yang terdiri dari berbagai kantor dari beberapa bendera korporasi.
Tunggu! Apa benar rasa Syukur ini? Bolehkah syukurnya aku batalkan? Karena ternyata kini aku memandang gemas angka lift yang tak jua berhenti tepat dimana dia berdiri. Lantai 1. Angka lift cuma berlari-lari anatara 2-3-4-5-3-4-2-. Sial seribu sial, itu penumpang lift kenapa tak pernah mampir di lantai 1?
Sial! Oh, Tuhan! Sial-sial-sial, duhai Penggenggam Waktu, aku ikhlas bila lift ini lama menghampiriku, tapi tolong tambah waktunya sekarang sudah jam 10.00, bisakah Kau hentikan waktunya sementara lift ini begitu sombong untuk mengangkutku?
Dalam keadaan apapun aku selalu mencoba menjadi pribadi yang seimbang. Menyeimbangkan antara gerutu, keluh kesah dan doa. Setidaknya kebiasaan ini, menurut keyakinanku, tidak akan membuat aku merasa terlalu berdosa.
Telpon genggam yang kubawa berbunyi. Panggilan Bu Kim, atasanku. Aku bisa langsung merasakan hembusan nafasnya, bahkan merasakan lidah apinya yang menyala dari dalam lidahnya. Mengiringi kata-kata khas 'hello'nya.
"Anak bawang! Dimana?! Cepat! Semua sudah menunggu!"
Wuuuuzzzz... kurasa telingaku langsung gosong tersambar lidah apinya yang keluar dari Telpon genggamku. Apinya menyambar bagian dalam telingaku, mencairkan kotoran kupingku, dan membuat system keseimbangan kupingku rusak. Aku limbung.
Tentu saja itu cuma bayanganku. Kamu t***l bila memercayainya. Itu suara Bu Kim entah darimana. Dan bu Kim adalah manusia normal, sepertiku. Tak mampu mengeluarkan api dari dalam mulutnya, apalagi apinya menerobos telpon genggam ini.
"Qonitaaaaaaaaaaaaaaa!" teriak bu Kim terdengar tak sabar.
"Eh, iya bu... liftnya mati."
Lalu kulihat pemandangan indahku. Lelaki misteriusku karena aku belum mengenalnya. Sudah seminggu ini aku sering melihatnya. Aku terpesona sejak pertama milhatnya. Betapa tampannya dia. Tubuhnya tinggi atletis. Auranya nya mengabarkan kecerdasan dan kekayaan.
Namun sisi sadarku selalu mengingatkan, sehingga berikutnya aku beristigfar. Aku ingat pesan alim ulama, tentang hadis 'tundukan pandangannmu!'.
'Pandangan pertama adalah anugrah, dan pandangan kedua adalah kesesatan'. Maka untuk menjaga agar tak sesat, tak kan kutundukan pandanganku. Sah? Sah! Kurasakan setan terbahak-bahak di pikiranku. Hanya sedikit saja jiwaku gelisah. Pemandangan di depanku menyenangkan sisi sesatku. Aku pun semakin terkejut saat melihat dia berjalan menujuku. Menujuku!
"Lari (bodoh)! Lewat tangga!" suara bu Kim tak sabar di head setku menyambar. Menyadarkan aku.
Tap. Telpon genggamku mati. Alamak! Naik tangga? Setelah marathon yang diteruskan dengan sprint lalu naik tangga? Bagus! Setidaknya kalau aku sampai dipecat dini, aku sudah berlatih menjadi atlit.
Aku langsung lari menuju tangga darurat. Dua anak tangga aku lalui sekaligus.
Lantai delapan.
Pfuh... akhirnya sampai juga. Tepat di depan pintu Lift nakal itu. Kuhela nafasku. Oksigenku harus cukup, sebab aku akan menghadiri rapat pertamaku, sebagai pekerja magang di perusahaan iklan.
***
Sampai dilantai delapan, aku segera berlari menuju ruang rapat. Lalu aku diam sejenak. Menghirup nafas setenang mungkin. Saat yang sama, di depanku pintu lift membuka. Dia, lelaki tampan misteriusku keluar dari sana.
Sial! Liftnya berarti membuka saat aku lari tadi. Ya Tuhan kenapa kau biarkan aku menyia-nyiakan tenagaku? Kenapa kau biarkan aku melewati kesempatan berdua dengannya di lift. Sial.
Dia, si tampan itu, melihatku. Aku tak tahu rupaku seperti apa. Yang ku tahu dia menengok ke arah lain. Tapi lewat cermin dekorasi, aku tahu dia tersenyum dan matanya mengkerut. Dia pasti menyorakiku karena berlari-lari lewat tangga, sementara liftnya 'baik-baik' saja. Sialan.
"Qon...!" dari jauh Kamila, teman baruku yang cantik, mengibaskan tangannya dengan anggun. Gayanya yang berkelas selalu membuatku berangan-angan, andai aku seperti dia, maka akan seperti apakah dunia di sekelilingku?
Dengan terburu aku memasuki ruang rapat yang sempit.
"Qon, Gimana sih?" Tanya pak Rudi mengaggetkanku. Dia adalah seniorku. Pria botak bertubuh atletis itu memandangku dengan pandangan kesal. Ampuun...
"Maaf sodara-sodara... hehe.." aku bisa dengar tawaku mulai salah nada. Aku tak mungkin menjelaskan tentang kejadian aneh tadi. Usaha penculikan.
Yup, itu semua malah akan mengundang tawa dan cemooh. Bahwa aku berhalusinasi. Berbohong, demi memberi alasan kesianganku itu. Tak akan, tak perlu.
"Yah sudah lengkap. Pak Jan ini anak bawang itu. Qonita, pak Jan adalah pemilik usaha ini. Pak Jan baru balik dari bawah laut." Bu Kim mengenalkan seorang yang nampak akrab di benakku. Si muka pucat nan tampan yang misterius itu!
"Haaa...?" jantungku berdenyut lebih cepat, tak teratur, dan mungkin mau loncat dari selubungnya. Tuhan!
"ya ampun Qon, hapus muka bodohmu!" Kamila berbisik gemas ditepi telingaku.
Maka begitu bisikan Kamila berhenti, segera wajahku kuputar seratus derajat, menjadi senyum Zombi. Tapi aku masih mendengar bisik gemas Kamila "dasar kampungan."
"Mana konsepnya?" Lalu volume suara Kamila beranjak normal. Kamila nampak tersenyum manis. Tapi aku tahu sebenarnya dia tak sabar menghadapi gaya patungku. Terhadapku, Kamila selalu tak sabar. Tapi tunggu dulu, dia bilang apa tadi?
Konsep? Konsep apa?
Aku baru sadar dan membuktikan bahwa jatuh cinta adalah penyebab utama kebodohan. Ternyata kebodohan bukan karena faktor genetis atau kesalahan kurikulum pembelajaran. Karena begitu melihat pak Jan, lelaki misteriusku, otakku langsung berhenti bekerja. Jelas, Jatuh cinta bisa jadi penyebab salah satu kerusakan otak. Kini aku sedang merasakannya akibatnya.
"Dia telah menyiapkan dengan detil pak." Suara Kamila terdengar empuk.
Aku melirik Kamila. Apa maksudnya 'menyiapkan dengan detil'? Bukankah semua konsepnya Kamila yang menyanggupi untuk membuatnya? sebagai tim kami telah menyepakatinya. Aku sudah menangani bagian survey pasarnya. Dia yang merancang konsepnya.
Hah! Ini pasti serangan dhuha (bukan fajar). Karena aku melakukan pencegahan 'pencurian hak intelektual dan kreatifitas' dengan menolak mengirimkan file rancanganku –yang belum aku buat-! Karena aku baru tahu manusia seanggun Kamila ini adalah mahluk jadi-jadian di kantorku. Srigala berbulu domba.
Itu semua terjadi karena aku pernah terkena tipu olehnya. Maksudku, aku pernah masuk perangkapnya, saat pertama dulu kukirimkan file gambar konsepku kepadanya. Tanpa prasangka apapun. Khas mahluk baik hati. Lalu keesokan harinya aku menemukan gambar kamila dengan alur konsepku di layar 'promosi kreasi terbaru' untuk para desainer iklan junior.
Aku harus bagaimana? Berteriak pada semua yang hadir dan bilang bahwa itu karyaku yang dibajak? Apa buktinya? Gambarku dan gambar Kamila sangat berbeda gaya.
Jadi saat aku dipanggil untuk mempresentasikan iklanku dengan gambarku yang 'serupa tak sama' apa yang harus aku lakukan?
Aku ingat, saat itu aku cuma bisa bilang "Maaf..."
"Cepatlah Qon...!" kini suara tak sabar bu Kim terdengar diujung meja.
"Oh... eh..." kuketikan dengan cepat sesuatu yang melintas di kepalaku. Semua yang hadir disini bisa melihatnya melalui dinding layar.
"Haaa... apa yang kau buat?" Tanya pak Rudi keras seperti biasanya.
"Nah itu... yang tulisan 'iklan s**u!'" Kamila menujuk dengan laser dari bangkunya. Sial! Kenapa penunjuk kursor lesernya ada ditangannya?
Aku tak yakin. Tuhan, benarkah aku baru saja mengetikkannya? Tuhan pasti tahu. Tuhan... katakan pada mereka...
Aku menarik nafas. Tenanglah, aku pasti bisa. Ini dia prolog iklannya.
SUSU
oleh
QONITA
Dari:
CITRA INDAH C.O
Partner anda untuk ek$i$
Latar belakang
Kejenuhan pasar terhadap produk yang sama
Tujuan
Merekayasa pencitraan terhadap Air s**u Ibu atau ASI isi ulang
Konsep:
Adegan 1:
?
?
Lalu seputar meja hanya hening sejenak. Terdengar desah lenguh kecewa. Seolah aku mendengar sorakan kecewa penoton 'wwwuuuuuuu' satu stadion bola.
"Dasar narsis!"
Wajahku merona.
"Huuuuf..." seorang senior wanita, mbak Runi, melorot dari sandarannya.
Aku mengkerut.
"Hahahaha... lucu... kalo dari jauh terbaca 's**u Qonita'" kulihat Rudi dengan suara kerasnya sambil menyenggol teman sebelahnya. Sebelahnya langsung membuat gerakan genit menggenggam dadanya sendiri. Mendesah manja. pecahlah tawa seputar meja.
Aku malu.
"Hahahaha..." yang lain menggeleng-geleng kepala. Ada yang memukul meja.
Aku malu sekali.
"Lha adegan-adegannya mana?"
"Apa-apaan ini?" Lidah api bu Kim, bergerak.
Maka gempalah! Maksudku pasir diotakku menerjemahkannya seperti gempa. Kau tak usah bingung, aku sering mengalami keanehan seperti ini. Sebuah respon berlebihan dari kepanikan akutku.
Oh Tuhan! duhai Maha Kreatif... kenapa Kau tidak menciprati aku dengan setetes inpirasi saja?
Tak ada jawaban dari Tuhan. Tapi aku diam saja. Aku tunggu Tuhan meneteskan anugerah inspirasi di otak pasirku.
Kini kurasakan kejatuhanku. Aku tak punya ide apapun. Sepertinya otakku ini hanya berisi pasir. Pasir yang akan mengalir lewat telinga saat aku memiringkan kepalaku.
"Te... te... tenang sodara-sodara." Aku mulai mencium angin kekacauan di meja ini. Hanya Kamila yang tersenyum. Kamila tersenyum? Oh... oh... aku mencium bau busuk dikepalanya.
"Masih ada,..." Kumainkan kursorku. Tuhan, jika kau tak mengabulkan doaku, setidaknya Kau kabulkanlah doa ibu Ratija, ibu kesayanganku yang aku yakin dia sedang sujud dhuha,memohon padaMu untuk kelancaranku hari ini.
Gambar 1 : Pose ibu menyusui balita.
Gambar 2 : Pose sapi menyusui anaknya.
Gambar 3 : Pose Sapi menyusui anak manusia.
"Iklan apaan ini?!" bu Kim langsung memotong. Wuuuuzzz... aku nyaris kena lidah apinya. Maaf, ini hanya bayanganku saja.
"Sabaar bu... dia kan pemula, baru bekerja magang. Kita harus memberinya kesempatan." Kamila tersenyum, aneh, bagaimanapun aku harus berterima kasih padanya, dia membuat aku –sedikit- tenang. Yah tapi jika berkaitan dengan Kamila, aku harus selalu waspada, apalagi dengan senyumnya yang seperti itu. Mencurigakan.
Maka kutunjukan gambar primitifku yang lain:
Gambar 4 : Seorang android wanita (robot multifungsi) menyusui seorang anak manusia.
"Apa maksudnya?" tanya bu Kim, mulai tak sabar.
"Coba jelaskan!" suara pak Rudi yang keras memantapkan pertanyaan mulut bu Kim.
"Hoooo, anak bawang, beraninya kau.." kegelisahan mulai merayapi ruangan.
Aku melihat orang-orang bergerak resah, berbisik bisik gelisah. Jika tak ada pak Jan, pimpinan yang tampan itu, pasti meja ini sudah seperti arena pasar diserbu angin ribut. Jika tak ada pak Jan dan bu Kim pasti peserta rapat ini sudah melempariku segala camilan kepadaku. Maksudku mereka protes dengan gaya bebas, bukan menganggapku seperti binatang di kurungan kebun binatang. Tapi itu bayanganku yang berlebihan.
Kulirik di sisiku, Kamila, hanya dia yang tenang di meja ini.
"Tolong jelaskan Qonita!" suara keras pak Rudi membuatku kaget, lagi. Dia pasti terlahir dari keluarga yang tuli. Hidupnya dikelilingi oleh tetangga yang tuli, Anjing tuli, Kucing tuli, Burung tuli, Kecoak tuli, Tikus tuli, nyamuk tuli, sehingga sepanjang pertumbuhannya dia harus bicara teriak agar suaranya di dengar.
"Jelaskan!" volume suara pak Rudi loncat naik, dua skala.
Jelaskan? Kupikir mereka adalah pekerja cerdas dan mengerti maksudku, si otak pasir ini.
"Hmmm... kukira gambarnya sudah jelas?" kutunjukan gambar sederhanaku, yang berupa batang-batang untuk kaki dan tangan, bulat-bulat untuk kepala dan perut, sedikit pohon kelapa, pohon pinus, yang hanya berupa garis-garis putus. Aku bukan seorang pelukis naturalis. Menurutku konyol, di era kecanggihan fotoshop, seorang naturalis masih di dewa-dewakan? tapi aku juga bukan pelukis surealis, aku cuma tukang gambar. Di masa lalu kau mungkin mengenal master aliran gambarku. Tinoisme. Aku cuma penggemar almarhum pak Tino Sidin.
Aku mengetuk-ngetukan pinsil elektronik di layar kosongku. Ini pertanda kemacetan di otakku sedang berlangsung.
Oh ayolah....! ke 9 adikku tak pernah protes jika aku bercerita sambil menggambar kartun primitif ini.
"Sodara-sodara, kita cuma membutuhkan model, wanita kuno bergaya ibu Kartini, sapi, balita, dan tentu saja androidnya." Aku memberi jeda, mengulur waktu, memberi kesempatan bagi pasir diotakku membentuk 'sesuatu'. Tuhan, ijinkan aku memiliki otak yang mampu berpikir spontan.
"Lalu...?" Tanya seseorang, bersuara lembut, menikung tajam. Suara merdu Kamila.
Lalu apa ya?
Buntu.