Isi otakku benar-benar cuma pasir, bukan jutaan sel syaraf atau neuron yang siap berpikir spontan, apalagi berpikir mustahil. Ini mungkin akibat ibu kandungku malnutrisi saat mangandung aku. Hingga pertumbuhan otakku hanya terdiri atas pasir. Bukan saraf-saraf ajaib.
Lalu?
aku melihatnya. Pak Jan menatapku, alis tebalnyanya mengangkat seolah dia ingin mengajariku, memancingku bicara.
"Sodara-sodara, mereka akan tampil saat bersamaan hingga pemirsa bisa melakukan perbandingannya."
Seputar meja diam. Pak Jan mengangkat alis, lagi. Lalu mengkerut.
"Hanya itu?" Kamila melemparkan anak panah, tepat di kepalaku hingga kepalaku bocor, dan pasir di dalamnya mengalir bergulir jatuh. Panahnya berhasil mengosongkan otakku! Ya ampun... sekalipun cuma pasir, tapi aku harus mempertahankannya bukan? mempertahankan agar otakku tetap ada isinya.
Tuhan! Jika aku sampai kehilangan pekerjaan ini, bagaimana dengan sembilan adikku di rumah? Si kembar Rahman dan Rahim ? Bagaimana aku membeli s**u untuk mereka?
s**u untuk Rahman-Rahim.
Tring!
"Gambar pertama, seorang bayi menyusu pada seorang ibu yang gelisah memikirkan kesulitan hidup. Dia, ibu biologis, tapi hati dan pikirannya disandera oleh dunia. Kita gambarkan otaknya dengan isi gaya hidup, uang, fesyen, pesta gila atau pekerjaan gilanya yang lain yang bersifat matrealistis."
Semua diam, menatapku, aneh, seolah mereka menemukan diriku yang lain:
Qonita si otak 'berdenyut'.
"Kamu sadar? Bukan citra kasih sayang yang kau tampilkan, tapi kita akan dihujani kritik sebagai iklan 'batu bata'." Bu Kim menggigit bibirnya, dia pasti mulai mempertimbangkan ideku.
"Qonita masih seorang gadis bos, dia tak tahu rasanya jadi seorang ibu." Suara tenang Kamila, seperti membantu, tapi aku tahu maksudnya. Menurutnya, aku sama sekali tidak kompeten!
"Hah!" suara keras pak Rudi, terdengar lagi.
Seputar meja gelisah. Sistem pertahananku bergerak, waspada. Siapa tahu di ujung meja ini ada semburan api dari mulut besar bu Kim.
"Teman-teman, biarkan dia menyelesaikan penjelasan konsepnya!" Kamila tersenyum. Kini aku sadar, dia sengaja melakukannya, seolah-olah memberiku kesempatan, seolah-olah dia mendukungku, dengan menarikku ke dalam timnya. Nyatanya dia akan 'membantingku' kini.
Kalau itu tujuannya, akan kupastikan, dia akan gagal. Karena aku ingat pesan ibu Ratija yang rajin diulang-ulang sejak aku kanak-kanak. Pesan yang selalu ia berikan pada tujuh adikku, kala mereka pulang, menangis karena di dera hinaan sebagai anak-anak cacat dari rumah yatim piatu, tepatnya rumah buangan.
'Sabarlah, anggap saja dirimu sebuah bola bekel. Jika kau dibanting, bukan jatuhnya yang penting tapi pantulannya yang penting. Semakin dibanting, kau akan semakin melambung, karena Tuhan meninggikan derajatmu, tapi itu terjadi jika kau ikhlas.'
Aku harus membuktikannya! Bahwa aku si bola bekel!
"Gambar ke dua, anak sapi yang bahagia dalam dekapan ibunya, karena keduanya saling ikhlas.
"Gambar ke tiga, Sapi yang menyusui bayi manusia. Keduanya setengah ikhlas. Merasa, adegan itu bukan takdir mereka.
"Gambar ke empat, seorang android, yang dilengkapi dengan sistem penyediaan ASI hygienis, penuh nutrisi, kehangatan pelukan, dan dimasukan dikolom pojok pemandangan ibu biologis yang 'hebat' di luar rumah."
Ah! gambar ke empat membuatku kacau. Aku sendiri aneh, entah darimana ide ini.
Tuhan, maafkan aku, sepertinya aku menghianati takdirMu tentang penciptaan ibu. Tapi aku sendiri tak mengerti, sepenting apakah ibu biologis itu? Karena aku hidup di tengah ketidakberuntungan anak-anak yang ditinggalkan ibu biologisnya.
Entah sejak kapan tepatnya aku kehilangan ibu biologisku. Ibuku cuma ibu Ratija.
Aku melihat tatapan seputar meja semakin aneh. Menatapku seolah aku manusia buatan atau android versi terbaru di dunia ini.
"Hhhhmmm... gi-gimana sodara-sadara?" suaraku gugup terbata.
Mereka hanya diam.
"Bravo!" tak kusangka si suara berat, pak Rudi, memecah keheningan.
Aku menunggu reaksi di ujung meja. Bu Kim. Akan menjulur lidah apikah? Atau saweran kembang yang akan terlontar dari mulutnya?
Yang lain terburu merespon ide spontanku dengan memukul-mukul meja. Para seniorku memberi tanda salut yang berlebih. Kurasa mungkin seperti inilah rapat para bar-bar itu.
"Jadi? Jadi? Kalian suka? Bagaimana mungkin?" Kamila terlihat kaget melihat respon ramai yang menyambutku di seputar meja.
"Ke empat konsep ini kita tampilkan bersama. Jadi bukan kita mengarahkan penggunaan isi ulang ASI buatan ke dalam kantung android, tapi –setidaknya- kita memberi kesempatan pada mereka, calon konsumen, untuk memilih." Mendapat respon positif, suaraku mengalir bak air sungai tanpa hambatan.
"Kenapa? Itu bukan iklan! Dan kita tidak membuat iklan layanan masyarakat!" Kamila protes. Dia mulai terdengar berusaha menyudutkan.
"Ini semua atas nama: Tanggung jawab moral." Jawabku. Kurasakan pelukan ibu Ratija dalam bayanganku.
"Ha?" Kamila melirikku sinis.
"Jadi kau biarkan pasar 'bermoral', dan melihat iklan ini, lalu produk ASI isi ulang tak laku?" Pertanyaan Kamila disambut pukulan meja para senior lain. Respon absurd dari para seniman iklan.
"Setidaknya dengan menampilkan fakta yang ada, ini membuat kita, saya, tidak merasa bersalah karena menghianati takdir sebagaimana Tuhan ciptakan rahim pada seorang perempuan. Dan sepasang p******a untuk menyusui bayinya." Kataku dengan senyum ke arah Kamila. Senyumku tulus, senyum merasa menang atas dirinya. Tepukan para senior di atas meja seperti genderang perang yang menguatkan hati di medan peperangan.
"Taik kucing." Cetus Kamila, tepat saat tepukan meja berhenti. dan senyap menyergap. Memperjelas bunyi kata 'taik kucing'.
Membuat para senior menengok ke arah Kamila. Kamila si wanita cantik lemah lembut, berkelas, santun dan anggun, bisa bicara seperti 'itu'. Apa katanya? Taik kucing! Oh...
Kamila menutup mulutnya. O-oo, Tapi sudah terlambat.
"Oh?" si lidah api, bu Kim ragu. Aku merasakan api di mulutnya meredup. Entah tersumpal kata 'taik kucing', atau terpesona oleh paparan singkatku.
"Ya, bos, bagus juga, adik manis kita, Qonita, secara tidak langsung menjaga citra perusahaan kita di mata publik, sebagai pengusaha iklan yang menjaga moral." Seputar meja mulai bersuara di pihakku.
"Yee!"
Aku mulai merasakan hembusan angin sejuk.
"Tugas kita adalah mengenalkan produk baru."
"Yee! Bukan menghasut masyarakat untuk menggunakannya."
"Tapi para pengguna yang lain bisa putus dengan kita, karena kita 'gagal' membuat produk mereka laku." Kamila sepertinya menyiapkan anak panah baru.
"Ya bos, kita harus menjaga hubungan dengan para pengguna kita yang lain."
Meja mulai ramai. Semua bicara tanpa ada yang diam, kecuali aku. Aku melihat si lidah api diujung meja. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja, tanda dia sedang berpikir. Atau mungkin dia sedang mengipasi api didalam mulutnya, agar tak sembarangan menyembur lagi.
Aku lihat ujung meja yang lain. Pak Jan. pemilik kantor ini. Orang terkaya di meja ini. Dan tentu saja paling tampan. Dia... dia... dia sedang melihatku. Me-na-tap-KU.
Alamak!... bu Ratija!... Tuhan...! Rahman! Rahim! Mufti! Ilalang! Dinda! Karin! Ica! Muti! Nisa! Ada yang terlewat? Kupanggil semua yang kukasihi di rumah untuk menyaksikan keindahan di ujung meja sana.
Tangan pak Jan bergerak memberi isyarat padaku. Dia meraba lehernya. Lalu menarik-narik dasinya. Apa maksudnya? Dia menyombongkan bekas cukuran janggutnya? Atau menyombongkan dasinya? Oh, Tuhan haramkah bila kubayangkan aku merabanya? Glek! Tuhan aku malu, telah tamak menelan segala keseksiannya lewat dagu hijaunya.
Gunungan pasir diotakku tiba-tiba meletus. Yayaya, aku mengerti, pikiranku kotor.
Tapi dia tetap dengan gerakan itu. Lalu tangannya meraba-raba dadanya. Ya Tuhan, apa maksudnya?
Atau ada yang salah denganku? Kulirik bagian bawah daguku.
Oh, rupanya pak Jan melihat aku memakai Jilbab terbalik. Aku lupa! Aku belum membalikan lagi jilbabnya, sejak adegan pengejaran tadi. Begitu jelas. Karena benang ungu dari mesin jahit ibu Ratija begitu nekad terjahit di jilbab salemku. Tanganku meraba bagian kepala, dimana ibu Ratija yang matanya rabun memaksakan fantasi daun, dan berarti yang nampak adalah jahitan balikannya.
As-ta-ga. Penampilan yang memalukan, untungnya tak ada seorangpun yang menyadarinya. Mungkin mereka pikir aku memakai jilbab gaya baru.
Akupun ke luar ruangan dengan mengendap menuju ruang kosong, dan langsung membetulkan posisi jilbabku. Waktu aku masuk ruangan, orang-orang masih meributkan usulanku. Kulihat pak Jan mengangguk dan tersenyum ke arahku. Oh, tampan sekali dia.
Dia terlihat menarik nafas lega.
"Oke, mulai sekarang, kita akan berpartner dengan industri-industri yang bermoral, dengan begitu, otomatis citra kita pun akan linier dengan semua misi-visi yang menjadi tanggung jawab kita, sebagai perusahaan jasa pencitraannya." Pak Jan memecah keributan seputar meja, mendahului bu Kim.
"Yee...!" aku menghitung pendukungku, 4 lawan 3. Nyaris. Jika pak Jan tidak dipihakku.
"Kerja bagus Qon! Lho kayaknya tadi warna jilbabmu bukan hijau?" Bu Kim tersenyum puas padaku. Ternyata dia perhatian juga dengan warna jilbabku.
Kuanggukan kepalaku penuh hormat. "Terima kasih, bu."
"Oke, Kita kerjakan detilnya, Qon!" suara keras pak Rudi dibarengi sodoran donat dari tengah meja rapat.
Aku melirik Kamila. Aku yakin, dialah orang pertama yang menyadari jilbabku terbalik parah. Pasti dia sengaja membiarkannya.
Terima kasih Tuhan, kau naikkan aku hari ini lewat bantingan dua kali dari Kamila.