"Qonita! 'rapat jarak jauh' . Sekarang ya! di ruang audio!" Kamila, seperti biasa, memberi kejutan –sengatan listrik, 4786 watt. Ajaibnya aku masih hidup! Sengatan listrik itu hanya membuatku shock, bingung, dan panik mendadak. Sementara bisa diperkirakan, pasir dalam otakku mendadak gosong sebelum bekerja seusai prosedur. "Ha?!" aku harus ekstra berhati-hati. Khusus menghadapi Kamila aku harus ekstra waspada. Terutama setelah dipergoki aku menumpang di mobil pak Jan. Bisa jadi Kamila iri, cemburu, berburuk sangka. Pendeknya Kamila tambah sebal padaku. "Hapus muka bodohmu! merusak citra perusahaan saja." Kamila menarikku tanpa persiapan. Di ruang auditorium, telah menanti beberapa kru kami. Tring! Aku baru ingat, ini adalah p

