Ruang sidang itu kembali dipenuhi suara langkah kaki dan bisik-bisik pelan. Kursi kayu panjang tersusun rapi, bau formalitas dan ketegangan bercampur menjadi satu. Lusi duduk di barisan depan bersama Gevan. Tangannya saling menggenggam erat di pangkuan, telapak tangannya basah oleh keringat dingin. Jantungnya berdebar tidak karuan. Setiap detik terasa seperti detik yang memanjang tanpa akhir. Ketika hakim memasuki ruangan, semua orang berdiri. Lusi ikut berdiri, kakinya sedikit gemetar. Ia menunduk, menarik napas dalam, lalu duduk kembali saat dipersilakan. Gerald masuk dengan pengawalan. Wajah lelaki tua itu tetap tenang, bahkan terselip senyum tipis di sudut bibirnya. Bukan senyum gugup, bukan senyum takut. Itu senyum orang yang yakin dirinya masih punya kendali. Lusi melihatnya sek

