Bab 42

616 Kata

Halaman belakang rumah itu sunyi. Angin sore bergerak pelan, menggoyangkan dedaunan dan kelopak mawar merah yang mulai layu. Lusi berdiri mematung di dekat pagar kayu, tatapannya kosong menembus taman seolah apa yang ada di depannya hanyalah bayangan masa lalu yang terus menghantuinya. Ia masih mengenakan pakaian rumah yang sederhana, lengan panjang meski udara tidak dingin. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Setiap tarikan napasnya terasa berat, seperti ada beban yang menekan dadanya tanpa ampun. Di bangku taman, Gevan duduk menghadapnya. Senyum tipis terukir di wajahnya, senyum yang tidak dibuat-buat, penuh kesabaran dan ketulusan. Tatapannya lembut, berbeda jauh dari sorot dingin yang selalu dimiliki Gerald. Gevan tidak langsung berbicara. Ia tahu, Lusi tidak butuh cerama

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN