Lorong penjara itu dingin dan berbau logam. Langkah kaki Gevan menggema pelan, berirama dengan detak jantungnya yang berat. Setiap langkah terasa seperti membawa amarah, penyesalan, dan tekad yang bercampur menjadi satu. Tangannya mengepal sejak ia turun dari mobil, dan hingga kini belum juga mengendur. Petugas membuka pintu ruang kunjungan. "Sepuluh menit," kata petugas singkat. Gevan mengangguk tanpa menoleh. Di balik kaca pembatas, Gerald sudah duduk lebih dulu. Rambutnya sedikit lebih acak dari biasanya, tapi sorot matanya masih sama. Tajam. Meremehkan. Seolah dunia masih berada di bawah telapak kakinya. Ketika Gevan duduk, Gerald menyeringai. "Akhirnya anak durhaka ini datang juga." Gevan langsung mengangkat gagang telepon. "Aku tidak datang untuk berbasa-basi." Gerald terkek

