CHAPTER 12

1200 Kata
Nesya baru saja turun dari taksi yang tadi ditumpanginya setelah membayar uang taksinya. Nesya segera memasuki rumahnya setelah itu. Rumah Nesya sangat sepi hari ini. Karena mang Mama dan Papanya sedang berada di luar kota bersama dengan saudara angkatnya. Nesya memang memiliki seorang saudara angkat yang seumuran dengan dia. Saudara angkat Nesya juga seorang gadis. Jujur saja, Nesya tak terlalu dekat dengan saudara angkatnya itu. Ah tidak, bukan tak terlalu dekat. Namun benar-benar tak dekat sama sekali. Bukannya Nesya tak mau menganggap saudaranya itu karena saudaranya itu hanya saudara angkat. Hanya saja, memang saudaranya itu sendiri yang justru tak mau berdekatan dengan Nesya. Saudara angkatnya itu selalu saja membuat masalah. Saudara angkatnya itu juga selalu memfitnah Nesya sehingga kedua orang tua Nesya bahkan selalu memarahi Nesya dan membenci gadis itu. Entah apa salah Nesya, padahal Nesya tak pernah satu pun melakukan hal yang dituduhkan saudara angkatnya itu. Saudara angkatnya sendiri, dia juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Nesya. Namun, masih banyak anak di sekolahnya yang tidak tahu perihal Nesya dan saudara angkatnya itu adalah satu keluarga. Mungkin hanya Reni dan Shinta saja yang tahu. Dan perlu di ketahui lagi, saudara angkat Nesya itu merupakan salah satu dari hampir seluruh anak gadis di SMA nya yang merupakan penggemar dari Desta. Ah, Nesya tak dapat membayangkan. Bagaimana jika sampai saudara angkatnya itu tahu bahwa dia dan Desta sudah resmi berpacaran. Nesya tak dapat membayangkan bagaimana nasibnya nanti. Pasti, dia akan kembali di fitnah. Mungkin Nesya saat ini masih bisa duduk santai dan bernapas dengan lega karena kedua orangtuanya dan juga saudara angkatnya itu sedang tidak ada di rumah. Tapi, ketika mereka nanti pulang. Nesya mungkin saja tak akan pernah bisa tertidur dengan nyenyak lagi karena itu. Sekarang, tinggal tunggu waktunya saja. "Gimana nasib gue nanti ya? Apa mungkin mereka bakalan paksa gue buat putus dari Desta?" gumam Nesya bertanya-tanya dengan dirinya sendiri. Gadis itu berusaha menebak apa yang akan terjadi untuk selanjutnya. "Gue gak mungkin putus dari Desta hanya karena dia yang suka sama Desta. Gue udah banyak berkorban buat dia. Jadi, biarin untuk saat ini gue mempertahankan apa yang emang seharusnya hanya jadi milik gue. Dia udah rebut bokap nyokap gue, gue gak mau di juga ngerebut Desta dari gue," lanjutnya lagi masih bergumam. "Meskipun sekarang gue kecewa sama Desta, tapi gue jelas gak akan ngebiarin hubungan gue sama dia putus begitu aja. Mungkin saat ini gue cuma perlu sedikit meredakan rasa kecewa gue. Gue perlu menjauh dari mereka untuk beberapa saat. Gue saat ini gak dalam kondisi bagus. Jadi, gue hanya takut mood gue mempengaruhi semuanya. Gue takut malah gak bisa kontrol untuk nggak luapin emosi gue sama mereka," Nesya terus bergumam. Gadis itu memang senang sekali bergumam seperti itu. Rasanya seperti lebih afdol saja ketika dia bisa mengeluarkan apa yang ada di pikirannya melalui ucapan. Meski tidak ada yang mendengarkan atau menjawabnya. Namun Nesya lumayan satisfying dalam melakukannya. Nesya tak butuh jawaban atau di dengarkan tentang itu. Dia murni hanya sekedar ingin bersuara. Hufh. Nesya menghembuskan napasnya lelah. Gadis itu banyak memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Dia memikirkan bagaimana nasibnya ke depannya. Di samping itu, gadis itu juga memikirkan bagaimana cara untuk tidak bertemu dengan Reni, Shinta dan Desta selama beberapa waktu mulai dari sekarang. Dia benar-benar butuh waktu untuk berpikir jernih. Dia butuh istirahat. Dia butuh menenangkan diri dan dia juga butuh waktu untuk sendiri. Satu ide terlintas di otak Nesya. Gadis itu mungkin saja akan pergi menenangkan pikiran dengan cara gadis itu akan berlibur ke puncak Bogor. Nesya pikir, dengan begitu otak, badan dan pikirannya akan menjadi lebih tenang dan bisa menjadi lebih rileks. Ya, Nesya akan melakukannya. Gadis itu hanya perlu untuk membuat surat izin ke sekolah. Di samping itu, gadis itu juga hanya memerlukan sedikit uang untuk pergi kesana. Untuk yang bertanya bagaimana Nesya bisa mendapatan uang untuk berlibur ke puncak Bogor. Jawabannya adalah karena Nesya bekerja. Gadis itu sudah merintih karir sedari gadis itu duduk di bangku SMP. Karena mengetahui orang tuanya yang membencinya gara-gara fitnah dari saudara angkatnya, mungkin saja suatu saat nanti orang tuanya akan secara tiba-tiba membuangnya. Dengan itu, Nesya berpikir untuk merintih karir dengan uang hasil tabungannya dan juga uang dari mendiang kakek dan neneknya itu untuk membangun sebuah perusahan kecil yang saat ini sudah berkembang menjadi perusahaan yang lebih besar. Bahkan, perusahaan yang Nesya bangun itu melampaui perusahaan keluarganya sendiri. Dengan memiliki perusahaan itu, Nesya menjadi lebih tenang untuk ke depannya. Gadis itu tak perlu lagi mengkhawatirkan perihal bagaimana nasibnya nanti jika sampai gadis itu benar-benar di usir dari rumah karena Nesya sudah memiliki kekayaan yang cukup untuk hidupnya sendiri. Setelah mendapatkan ide untuk berlibur ke villa pribadinya yang ada di puncak Bogor agar bisa menenangkan pikirannya, Nesya segera bersiap untuk mengemasi pakaiannya sendiri. Jujur saja, Nesya tak suka hidup sendirian. Gadis itu benar-benar membutuhkan orang lain untuk berada di sekitarnya. Dia tak pernah bisa tinggal di satu rumah sendirian. Dan itulah yang membuat Nesya sampai saat ini masih bertahan di rumahnya meskipun batin dan fisiknya sering kali terluka. Selain karena gadis itu tak mau meninggalkan Mama Papanya, gadis itu juga tak bisa tinggal sendirian meskipun gadis itu sebenarnya memiliki apartemen pribadinya sendiri. Itu juga yang menjadikan alasan mengapa Nesya tak memiliki rumah sendiri padahal Nesya memiliki cukup uang untuk membelinya. Setelah selesai berkemas dan memasukkan pakaian nya kedalam koper, Nesya segera memesan satu tiket kereta api untuk pergi ke puncak Bogor itu. Lalu kemudian, gadis itu mengirimkan pesan kepada temannya yang merupakan pengabsen di sekolahnya. Gadis itu izin untuk satu minggu ke depan. Setelahnya, Nesya berjalan keluar rumah dan mengunci pintu rumahnya itu. Gadis itu lalu berjalan keluar dari area komplek rumahnya untuk menuju jalan raya. Gadis itu akan menunggu taksi disana. Beberapa menit berlalu, sampai akhirnya Nesya berhasil menemukan taksi dan gadis itu segera masuk kedalam taksi tersebut. "Ke stasiun gambir ya pak," ujar Nesya yang langsung diangguki supir taksi tersebut. "Baik neng," ujar supir taksi tersebut membuat Nesya terkejut bukan main. Nesya seperti familiar dengan suara ini. Tapi, ini suara siapa? Nesya terdiam berusaha mengingat suara ini. Suara yang sudah lama tidak Nesya dengar. Tapi Nesya benar-benar lupa dengan orang yang ada di balik suara ini. "Mmm, pak maaf. Apa saya kenal dengan bapak? Saya, seperti pernah mendengar suara bapak sebelumnya," ujar Nesya dengan pelan. Laki-laki yang ada di depan kemudi itu nampak tersenyum tipis mendengar perkataan Nesya. Beberapa saat sang sopir tak kunjung menjawab, Nesya hanya bisa pasrah. Gadis itu tak mungkin memaksa sopir taksi untuk berbicara menjawab apa yang gadis itu tanyakan. Lagipula, apa yang Nesya tanyakan memang akan sangat aneh jika sang sopir sebenarnya tidak mengenal Nesya. Jadi, Nesya maklum saja. Sampai pada akhirnya, sang sopir itu menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Nesya yang melihat itu menjadi bingung sendiri. "Pak, kenapa berhenti? Mobilnya ada masalah?" tanya Nesya. Sang sopir tak menjawab. Nesya menjadi sedikit takut karena itu. "Pak, saya turun aja yang kalau begitu," izin Nesya ingin pamit karena takut. Baru saja Nesya akan membuka pintu taksi itu. Satu tangan mencegahnya. "Pak, apa-apaan nih. Bapak jangan macam-macam ya sama saya," ujar Nesya panik. "Pak-," ucapan Nesya terhenti ketika laki-laki itu membuka topinya sembari menghadap kearah Nesya. Mata Nesya membelalak terkejut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN