CHAPTER 11

1274 Kata
Nesya keluar dari kelasnya dengan perasaan kecewa yang berkecamuk. Gadis itu kecewa dengan Reni dan Shinta yang bersekongkol untuk menipunya. Padahal, gadis itu sangat percaya dengan kedua sahabatnya itu. Nesya, gadis itu padahal sangat mengkhawatirkan kesehatan Reni. Gadis itu rela melakukan apapun untuk sahabatnya itu. Namun, Nesya tak menyangka, semua kekhawatirannya akan dibalas seperti ini. Dia dibohongi. Meskipun dengan embel-embel demi kebaikannya, namun tetap saja dia di bohongi. Ditambah, fakta bahwa ternyata Desta turut ikut berpartisipasi dalam menipunya. Meskipun mungkin hanya masalah 'sepele' namun itu benar-benar menimbulkan kekecewaan yang besar di hati Nesya. Ketika Nesya keluar dari kelasnya, gadis itu berjalan cepat bahkan sedikit berlari. Dari wajah gadis itu sangat terlihat sekali bahwa gadis itu saat ini sedang tidak baik- baik saja. Nesya saat ini benar-benar sedang kecewa. Raut wajah gadis itu semakin menjadi-jadi ketika gadis itu sadar bahwa orang di sekelilingnya membicarakan tentang dia. Tanpa peduli dengan suara-suara yang terus bersahut-sahutan membicarakan dirinya, Nesya berjalan semakin cepat. Sampai pada akhirnya gadis itu sampailah di gerbang sekolahnya. Pak satpam yang melihat Nesya seperti akan keluar dari sekolah sembari membawa tas itu pun akhirnya mendekati gadis itu. "Maaf Mbak, Mbaknya mau kemana ya? Kok bawa-bawa tas? Ini kan masih jam pelajaran," ujar Pak satpam bertanya dengan sopan. Nesya memaksakan untuk sedikit tersenyum melihat itu. "Saya gak enak badan pak. Jadi saya harus pulang," ujar Nesya tak sepenuhnya berbohong karena gadis itu saat ini juga memang merasa kurang enak badan. "Tadi saya sudah minta temen saya buat izinin saya ke guru mata pelajaran saya selanjutnya. Jadi, apa boleh saya keluar sekarang Pak?" tanya Nesya lagi, memastikan. Pak satpam nampak mengangguk tanpa ragu. "Boleh Mbak, kalau Mbak sakit memang sebaiknya langsung pulang saja," ujar Pak Satpam seraya merogoh saku celananya untuk mencari kunci lalu pria paruh baya itu segera membukakan gerbang sekolah untuk Nesya. "Mbaknya pulang naik apa?" tanya Pak satpam. "Naik taksi mungkin Pak. Atau enggak saya pesan ojek online saja nanti," jawab Nesya sopan. "Perlu Bapak antar saja nggak Mbak? Daripada nanti Mbaknya kelamaan nunggu," ujar Pak satpam menawari. Nesya hanya menggeleng kecil. "Tidak usah bapak. Saya tidak apa-apa," ujar Nesya menolak halus. "Biasanya jam segini banyak taksi yang lewat atau enggak nanti saja naik bus umum atau angkot saja. Gak usah repot-repot Pak. Terima kasih juga atas tawarannya," ujar Nesya lagi dengan sopan. Gadis itu saat ini tidak memaksakan senyumnya lagi. Perasaannya menjadi jauh lebih baik ketika Pak satpam itu terlihat sangat mempedulikannya. "Oh iya, Mbaknya namanya siapa?" tanya Pak satpam lagi. Pria paruh baya itu basa-basi. "Oh, saya Nesya Pak," jawab gadis itu ramah. Nesya dan Pak satpam saat ini berjalan beriringan keluar dari gerbang sekolah. Pak satpam berniat untuk menemani Nesya dalam menunggu taksi yang akan di tumpangi Nesya nanti. Sembari menunggu taksi datang, Pak satpam sembari mengajak Nesya mengobrol agar gadis itu tak merasa bosan. "Dari kelas berapa?" tanya Pak satpam lagi. "Dari kelas 11 MIPA 2 pak," jawab Nesya lagi. "Oalah, kelas unggulan toh," ujar Pak satpam manggut-manggut yang hanya ditanggapi Nesya dengan senyuman kecilnya. "Oh iya Pak. Bapak udah kerja jadi satpam disini sudah berlama lama ya Pak?" ujar Nesya bertanya random. "Maaf Pak pertanyaan saya random. Tapi saya benar-benar ingin tahu pak, he he," ujarnya diakhiri dengan kekehan kecil. "Iya tidak apa-apa, Bapak malah suka kalau kamu banyak bertanya," ujar Pak satpam menanggapi. "Saya kerja disini kurang lebih sudah 9 tahun lamanya," lanjutnya. "Wah, berarti lama banget ya Pak? Emangnya kerja disini enak ya Pak? Bapak kayanya betah banget," tanya Nesya lagi. "Ya gimana ya. Enak nggak enak sih sebenarnya," jawab Pak satpam. "Ya, Mbak Nesya tau sendiri, anak-anak yang sekolah disini anak-anak berada semua. Kadang ada yang anaknya kelewat angkuh begitu, sombong," lanjutnya. "Mbak Nesya juga tahu sendiri kan, disini ada anak-anak bandel yang ketuanya itu Den Desta. Anak pemilik sekolah, jadi saya lumayan kwalahan kalau Den Desta suka berantem sana-sini. Karena biasanya, saya harus ikut membantu mengurusi guru-guru BK." Nesya manggut-manggut paham. "Jadi ada plus minus nya masing-masing gitu ya Pak?" tanyanya. Pak satpam mengangguk. "Iya Mbak. Ya, namanya juga kerja. Mau dimana-mana juga pasti ada plus minusnya," ujarnya. "Mbak Nesya sendiri, gimana selama hampir 2 tahun sekolah disini? Nyaman?" tanya Pak satpam lagi. "Sebenarnya, sejauh ini lumayan nyaman Pak. Saya punya dua sahabat baik yang selalu ada buat saya," ujar Nesya menjawab. "Tapi hari ini saya di buat kecewa sama sahabat saya Pak. Mereka tega-teganya membohongi saya dan membuat saya dibicarakan satu sekolah. Mulai dari angkatan junior sampai senior. Semua membicarakan saya," lanjutnya lagi. Pak satpam nampak terdiam. Pria paruh baya itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Dan ya, Pak satpam jadi ingat sekarang. "Aaa, jadi kamu ya yang namanya Natasya Angelica? Gadis yang katanya baru saja resmi menjadi pacar dari Den Desta?" tanya Pak satpam begitu mengingat tragedi ruang penyiaran sekolah yang baru saja terjadi. Nesya nampak terkejut ketika Pak satpam juga mengetahuinya. Namun sedetik kemudian gadis itu kembali menormalkan ekspresinya begitu dia mengingat bahwa Pak Satpam itu, pasti mengetahui berita ini gara-gara suara dari ruang penyiaran itu. Ah sudahlah. Nesya sekarang menjadi malu untuk sekedar kembali berbicara lagi. Pak satpam yang menangkap raut wajah Nesya yang terlihat malu itu sedikit tersenyum kecil. "Tidak apa-apa Mbak Nesya. Itu buka hal yang memalukan. Menjadi pacar Den Desta bukan hal yang memalukan sama sekali," ujar Pak satpam menenangkan Nesya. "Justru Mbak Nesya harusnya bangga karena berhasil menaklukan hati Des Desta yang belum pernah berhasil di taklukan oleh seorang pun. Biasanya, Des Desta pasti akan langsung menolak mentah-mentah atau bahkan mempermalukan gadis-gadis yang menyatakan perasaan kepada dirinya," jelas Pak satpam panjang lebar. "Tapi, kalau Den Desta tidak melakukan hal seperti itu kepada Mbak Nesya, berarti Mbak Nesya itu orang yang berharga untuk Des Desta," tambah Pak satpam lagi. "Jadi Mbak Nesya jangan malu untuk itu." Nesya tersenyum mendengar perkataan penenang dari Pak satpam itu. "Terima kasih Pak sudah membuat perasaan saya menjadi lebih baik, menjadi lebih tenang," ujar Nesya tulus. "Mbak Nesya nggak perlu sungkan," ujar Pak satpam. Pokoknya mulai sekarang, kalau Mbak Nesya lagi ada apa-apa, Mbak Nesya bisa cerita ke saya, anggap saja saya sebagai Bapak Mbak Nesya sendiri." Nesya semakin tersenyum senang. "Siap Pak! Terima kasih banyak sekali lagi," ujarnya. Pak satpam hanya mengangguk untuk menanggapinya. Tak lama setelah itu, taksi terlihat. Nesya segera melambaikan tangannya pada taksi itu. "Taksi," ujar Nesya. Taksi pun berhenti di hadapan Nesya dan Pak satpam. "Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu ya Pak. Terima kasih sudah menemani saya menunggu taksi," ujar Nesya seraya gadis itu mengukur tangannya untuk menyalimi Pak satpam. Pak satpam jujur saja kaget dengan itu. Selama 9 tahun pria paruh baya itu menjadi satpam di SMA Gemilang, belum pernah sekalipun ada siswa atau siswi yang menyalimi tangannya seperti itu. Sekalipun siswa atau siswi itu baik. "Saya pamit duluan Bapak, assalamualaikum," pamit Nesya dengan senyumannya. "Waalaikumsalam," jawab Pak Satpam masih dengan ekspresi kagetnya. Nesya tersenyum kemudian membuka pintu belakang taksi tersebut lalu gadis itu segera memasuki taksinya. Saat sudah duduk di tempatnya dengan nyaman. Gadis itu nampak membuka kaca jendela pintu taksinya untuk melihat kearah Pak satpam. Gadis itu menunduk sopan tanda berpamitan dan Pak satpam pun melakukan hal yang sama untuk membalasnya. Hari ini, adalah hari yang sangat berbeda untuk Nesya. Gadis itu di buat merasa kecewa dan senang dalam waktu yang berdekatan. Ketika gadis itu kecewa dengan Reni dan Shinta juga Desta, datanglah Pak satpam yang membuat perasaan Nesya menjadi membaik. Pak satpam yang nampak sangat tulus itu, mampu membuat Nesya merasakan kebahagiaannya mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Walaupun hanya dalam kurun waktu yang sangat singkat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN