"Ayok Bang Udin, masuk. Bapak udah nunggu dari tadi!" ucap Anni riang. Tapi Udin justru semakin minggir kepojokkan. Kalau bisa rasanya ia ingin mengecil dan menjadi tidak terlihat. Tapi sayang... Semua tidak akan mungkin bisa terwujud. Lagipula, jika ia mau kisah cintanya dengan Anni berlanjut dan tidak hanya stuck sampai masa pacaran. Maka Udin harus berani. Memang mengungkap kebenaran itu pahit. Tapi melanjutkan hidup dalam kebohongan juga akan membuatnya merasa tidak tenang. Masalah diterima atau tidak semua sudah ia serahkan kepada Tuhan sang maha pemilik kehidupan. Jika Anni adalah jodohnya. Maka Tuhan sendirilah yang mengantarkan wanita itu kepadanya. Jika tidak, tolong dong Tuhan di cek lagi takutnya salah. Masa sih Anni bukan jodoh Udin. Kalau bukan... Kenapa Udin sayang banget

