Sakti, Anata, dan Yoland menunggu di depan pintu lift yang masih tertutup. Lampu di atas pintu lift masih menyala pada nomer delapan yang menunjukkan lift sekarang masih berada di lantai delapan.
Seorang pria berkaca-mata hitam dengan berpakaian rapi mengenakan jas dan celana panjang berwarna hitam juga ikut menunggu tibanya lift.
Sakti menyeret matanya ke arah pria itu dengan rasa sedikit risih, "Sepertinya pria ini sedang memata-matai kami..." gumam Sakti dalam hati.
Sesekali Anata dan Yoland juga menatap pria itu, tapi pria itu tetap menatap lurus ke arah pintu lift dengan serius.
Sakti menoleh ke arah atas pintu lift tepat menatap lampu yang menyala pada nomer empat.
'Ting....' Terdengar bunyi bel dari pintu lift yang menandakan bahwa lift sudah berada di lantai empat rumah sakit.
Pintu lift perlahan membuka.
Sakti, Anata, Yoland, Pria berkaca-mata hitam itu menunggu semua orang keluar dari lift, dan mereka masuk ke dalam lift setelahnya.
Setelah pintu lift tertutup, Sakti, Anata, dan Yoland masih berdiri di dalam lift dan menunggu apakah pria itu yang akan menentukan ke lantai nomer berapa lift akan menuju. Namun, hingga hampir satu menit pria itu tak juga menekan tombol yang ada di samping pintu dalam lift.
Anata bergerak selangkah mendekat ke arah tombol lift dan langsung menekan salah satu tombol pada urutan paling bawah yang tertera dua huruf pada tombol itu, yaitu huruf 'B' dan huruf 'M' yang dapat dipastikan bahwa dua huruf itu merupakan singkatan kata dari 'Basement' yang berarti Lantai Dasar.
Lift pun bergerak turun menuju lantai dasar rumah sakit yang merupakan tempat khusus untuk menaruh motor dan mobil.
'Ting....' Bunyi bel di dalam lift terdengar dan perlahan pintu lift mulai membuka.
Sakti, Anata, dan Yoland pun bersama-sama melangkah keluar dari lift.
"Sakti, apa kau ingat di mana kau memarkirkan mobilmu?!" tanya Yoland sembari berjalan beriringan dengan Sakti dan Anata.
"Iya, aku ingat..." jawab Sakti.
"Tapi, kenapa kita ke Basement?! Bukankah mobilmu itu kau letakkan di parkiran depan rumah sakit?!" tanya Yoland heran.
"Hah?! Oh iya, aku lupa kalau mobilnya di parkiran depan," sahut Anata.
"Ya sudah, ayo kita ke luar," ajak Sakti.
Sakti, Anata, dan Yoland pun mencari jalan keluar dari Basement, sementara pria yang tadi bersama mereka di dalam lift itu mengikuti mereka dari belakang.
Sakti, Anata, dan Yoland saling menatap sesekali karena mereka menyadari bahwa pria itu mengikuti, tapi mereka berpura-pura tidak tahu.
Sakti menyenggol bahu Yoland, dan seketika Yoland pun menatap Sakti yang memberi isyarat dengan mengangkat alis sebelah kirinya.
Yoland langsung mengerti isyarat dari Sakti itu yang memberitahukan bahwa ia dan Yoland akan berpencar, sementara Anata belum tahu rencana Sakti dan Yoland.
"Astaga!" ucap Sakti tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kenapa, Sakti?!" tanya Anata heran.
"Kunci mobilnya ketinggalan," ucap Sakti sembari meraba-raba ketiga kantong celananya yang panjangnya hanya sampai menutupi lututnya, "Kalian berdua duluan ke mobil, aku kembali ke ruangan Pom di rawat dulu. Mungkin kuncinya tertinggal di sana," sambung Sakti seketika melangkah berbalik arah kembali menuju lift.
"Ayo, Anata..." ajak Yoland.
"Hmm... Kamu ke mobil sendiri ya. Aku akan membantu Sakti mencari kunci mobilnya," sahut Anata.
"Ya sudah, aku akan menunggu kalian di mobil," ucap Yoland kemudian melanjutkan langkahnya berjalan menuju pintu keluar basement.
Anata mempercepat langkah kakinya mengejar Sakti yang sudah berdiri di depan pintu lift dan tampak sedang menekan tombol yang ada di samping pintu lift.
"Sakti, tunggu!" teriak Anata terus mempercepat langkahnya menuju ke arah Sakti, "Aku akan membantumu mencari kunci mobil," sambung Anata setelah berdiri di samping Sakti. Sementara itu Yoland berjalan sendirian menuju parkiran mobil di depan rumah sakit.
Ternyata pria yang sejak tadi mengikuti Sakti, Anata, dan Yoland lebih dulu berada di parkiran mobil.
Pria berkaca-mata hitam itu berdiri di samping sebuah mobil berwarna hitam yang letaknya tepat berseberangan dengan mobil berwarna merah maron milik ayahnya Sakti sembari menatap ke arah Yoland yang juga berdiri di samping mobil ayahnya Sakti. Sesekali Yoland menatap ke arah pria itu, karena ia merasa bahwa pria itu sedang memerhatikannya, tapi saat Yoland menoleh ke arah pria itu, pria itu langsung memalingkan mukanya seolah-olah tidak menatap ke arah Yoland.
Sementara itu, Sakti dan Anata masih berdiri di depan pintu lift.
Sambil berdiri menghadap pintu lift, Sakti menyeret matanya untuk memerhatikan apakah pria berkaca-mata hitam itu masih mengikutinya, tapi ternyata pria berkaca-mata hitam itu sudah tidak ada.
Sakti membalik badan ke belakang, "Kemana pria itu?!" tanya Sakti pelan kepada Anata.
"Pria mana?! Siapa?!" tanya Anata berpura-pura tidak tahu bahwa pria yang dimaksud Sakti adalah pria berkaca-mata hitam yang sejak di dalam lift mengikutinya, Sakti, dan juga Yoland.
"Pria yang berkaca-mata barusan...?" jawab Sakti.
"Mungkin pria itu mengikuti Yoland ke parkiran depan," ucap Anata menerka.
"Ayo kita menyusul Yoland." Sakti langsung menarik tangan Anata dan berjalan cepat menuju jalan keluar Basement.
"Tapi, bagaimana dengan kunci mobilnya?!" tanya Anata bingung.
"Tadi aku hanya berpura-pura bahwa kunci mobil ketinggalan," jawab Sakti terus menarik tangan Anata dan juga terus mempercepat langkahnya menuju jalan keluar basement.
"Berpura-pura untuk apa?!" tanya Anata lagi yang masih bingung.
"Apa kau merasa bahwa pria itu seperti sedang memata-matai kita sejak di dalam lift?!" sahut Sakti balik bertanya.
"Iya, aku juga merasa bahwa pria itu sepertinya sedang memerhatikan kita. Apalagi saat kita berjalan menelusuri jalan di basement ini," ucap Anata.
Sakti dan Anata sudah keluar dari basement, "Ayo...." Sakti semakin mempercepat langkahnya yang tergesa-gesa sembari tetap menarik tangan Anata.
Setelah tiba di parkiran, Sakti memperlambat langkahnya seketika. Kemudian ia melihat dari kejauhan bahwa pria berkaca-mata itu sedang berdiri di samping mobil berwarna hitam yang letaknya berseberangan dengan mobil berwarna merah maron milik ayahnya.
Pria berkaca-mata hitam itu menoleh ke arah di mana Sakti bersama Anata berdiri, dan dengan seketika itu pula Sakti langsung menarik tangan Anata untuk bersembunyi di samping mobil di dekat mereka.
"Ternyata benar, pria itu sedang memata-matai kita," bisik Sakti.
"Untuk apa dia memata-matai kita?!" tanya Anata balas berbisik.
"Apa mungkin pria itu adalah mata-mata yang diutus Ecline?!" ucap Sakti menerka.
"Hmm?! Jika benar apa yang kamu katakan itu, artinya tugas pria itu ada kaitannya dengan virus Reinka-99 dan game Battle Network!" ucap Anata berbisik.
"Nah! Itu juga yang harus kita khawatirkan."
"Memangnya kenapa?!" tanya Anata.
"Sepertinya pria itu ingin tahu di mana tempat tinggal kita."
"Lalu, apa gunanya jika pria itu tahu tempat tinggal kita?!"
"Dia pasti akan melaporkannya pada Ecline dan memberitahu titik koordinat posisi IP internet yang kita gunakan, dengan begitu Ecline akan terus berusaha menghalangi kita."
Anata mengangguk faham, "Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Anata.
"Kita harus membuat pria itu pergi sebentar dari tempat dia berdiri, dengan begitu kita akan dapat lebih mudah masuk ke dalam mobil dan pulang tanpa sepengetahuan pria itu," jawab Sakti.
Anata beranjak berdiri, "Baiklah! Aku akan memancingnya untuk menjauh dari sana. Setelah pria itu menjauh, kamu harus cepat-cepat menuju mobil. Sementara aku akan menunggu di depan gerbang rumah sakit dan kamu harus menjemputku di sana," ucap Anata.
"Tapi, dengan cara apa?!"
"Kamu lihat saja...."
Anata mengendap-endap berjalan memutar sampai ia berada tepat di belakang mobil hitam yang terdapat pria berkaca-mata hitam berdiri di samping mobil itu.
Anata menoleh ke kiri dan ke kanan. Tampaknya Anata sedang mencari sesuatu.
"Nah! Itu yang aku perlukan," ucap Anata pelan saat ia melihat ada sebuah serpihan kayu di bagian bawah mobil milik orang yang diperkirakan bahwa kayu itu merupakan bekas dari limbah pembangunan atap di tempat parkir.
Anata perlahan berjalan mengambil serpihan kayu itu, kemudian perlahan-lahan mengukur jarak untuk bersiap melempar serpihan kayu itu ke arah mobil berwarna hitam yang di sampingnya masih berdiri seorang pria dengan kaca-mata berwarna hitam.