Tiiit... Tiiit... Tiiit.... Alarm mobil berwarna hitam tiba-tiba berbunyi terus menerus sehingga membuat pria berkaca-mata hitam di samping mobil itu terkejut.
Anata segera berlari dan bersembunyi di salah satu mobil berwarna silver yang terparkir tepat di belakang mobil hitam yang ia lempari serpihan kayu saat pria berkaca-mata hitam bergegas menuju ke belakang mobil.
Sakti tak mau kehilangan kesempatan. Ia berlari dengan hati-hati menuju mobil berwarna merah maron milik ayahnya di mana Yoland berdiri agar tidak ketahuan oleh pria berkaca-mata hitam.
Sembari masuk ke dalam mobil, Sakti mengisyaratkan kepada Yoland untuk segera masuk ke dalam mobil. Dengan seketika Yoland pun ikut masuk ke dalam mobil.
Sakti perlahan menghidupkan mesin mobil dan langsung menjalankannya ke arah portal jalan keluar dari area rumah sakit.
Dari dalam mobil, Sakti melihat Anata berdiri di dekat portal.
"Cepat!" seru Sakti dengan bersamaan Yoland sudah membukakan pintu mobil untuk Anata, dan Anata pun segera masuk melalui pintu mobil yang dibukakan oleh Yoland.
Dengan terengah-engah Anata duduk tepat di samping Yoland.
"Kalian berdua ini benar-benar nekat..." ucap Yoland sembari menggelengkan kepalanya.
Sontak Sakti dan Anata saling tertawa karena kemenangan atas berhasilnya lolos dari pria berkaca-mata yang mereka curigai memata-matai mereka.
Sedangkan di area parkir, Pria berkaca-mata hitam itu membungkukkan tubuhnya memeriksa bagian bawah belakang mobil dan menemukan sebuah serpihan kayu, kemudian mengambil serpihan kayu itu.
Pria berkaca-mata hitam itu kembali beranjak dan menoleh ke arah belakang. Namun, ia tak melihat seorang pun. Kemudian ia kembali ke depan mobil dan seketika terkejut setelah menemui tidak ada lagi mobil berwarna merah maron yang tadinya terparkir berseberangan dengan mobil hitam miliknya.
Pria berkaca-mata hitam itu merasa kesal dan mengungkapkan kekesalannya dengan menendang ban mobil depan sekeras-kerasnya. Sambil berkacak pinggang, mulutnya tampak menunjukkan rasa geram, kemudian ia segera masuk ke dalam mobil hitam dan langsung memacunya dengan cepat keluar dari parkiran dan langsung menuju portal keluar dari area rumah sakit.
***
Mobil berwarna merah maron terparkir tepat di depan pagar besar yang terbuat dari besi.
Salah satu pintu mobil terbuka dan Yoland pun turun dari mobil itu.
"Sakti, Anata, aku akan menunggu kalian di stadion," ucap Yoland.
"Siap, Ketua..." sahut Sakti sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah Yoland.
"Sebaiknya kalian langsung pulang, mungkin pria itu masih mengejar kita...." ucap Yoland kemudian berjalan menghampiri kotak kecil berwarna hitam yang menempel pada pagar rumah kediamannya. Yoland berbicara melalui kotak kecil itu dan tak lama kemudian pagar besi itu membuka sendiri. Yoland pun segera masuk ke dalam rumah kediamannya.
Anata membuka pintu mobil dan turun.
"Kamu kau kemana, Anata?!" tanya Sakti heran.
"Ayo, Sakti," ajak Anata setelah ia masuk lagi ke dalam mobil di bangku depan tepat di samping Sakti.
Setelah mengatarkan Yoland, Sakti pun mengantarkan Anata pulang.
Saat mobil berwarna merah maron berhenti tepat di depan sebuah rumah dengan cat biru dan hijau, yaitu rumah kediaman Anata, Sakti memastikan bahwa Anata masuk ke dalam rumah kediamannya.
Setelah dipastikan Anata masuk ke dalam rumah, Sakti pun langsung pulang ke rumah kediamannya.
***
Tepat di dalam sebuah kamar yang pencahayaannya hanya berasal dari layar komputer. Tampak Sakti yang sedang memainkan game Battle Network bersama teman-temannya dalam anggota Trouble Maker.
"Bagus, level karakterku sudah mencapai level lima puluh," ucap Sakti lirih, "Ternyata strategi ini sangat ampuh untuk melakukan leveling," sambung Sakti.
Saat Sakti sedang asik memainkan Battle Network, ia dikejutkan dengan suara petir yang menggelegar dan dengan padamnya listrik sehingga di dalam kamar tampak sangat gelap.
JEDARRRR!!!
"Astaga!" Sakti menghentakkan kedua tangannya pada meja dengan sangat kesal karena saat sedang asik-asiknya bermain, tiba-tiba listrik padam.
Sakti masih menatap layar monitor komputernya yang masih menyala karena komputernya sudah dipasangi alat penyimpan daya yang otomatis aktif jika listrik yang mengalir dari rumah ke komputernya terhenti.
Nata : "Teman-teman, di tempatku listriknya padam."
You-Land : "Di sini juga sama...."
P-O-M : "Di rumah sakit juga padam, padahal di sini generator listriknya sangat besar, tapi kenapa listriknya tidak menyala...!"
Rico : (Disconnect)
Sakti : "Sepertinya Rico lupa memasang penyimpan daya pada komputernya."
P-O-M : "Baterai ponselku juga hampir habis..."
Rico : (Connected) "Aduh! Tadi aku lupa memasang penyimpanan daya, untung masih sempat...."
You-Land : "Sepertinya kita akhiri perburuan malam ini dan kita lanjutkan besok pagi."
Nata : "Oh iya, aku lupa menyampaikan pesan dari ayahku bahwa besok Bapak Walikota ingin bertemu dengan kita."
Rico : "Hah! Luar biasa! Tapi, sayangnya aku masih belum diperbolehkan untuk keluar rumah...."
P-O-M : "Apalagi aku....!"
You-Land : "Jadi, bagaimana teman-teman?"
Sakti : "Apakah pemerintah pusat sudah setuju untuk membantu kita?!"
Nata : "Aku belum tahu pasti, tapi aku lihat ayahku sangat senang memberitahukan itu."
You-Land : "Jadi, apa besok kita bertiga akan datang ke sana?"
Sakti : "Ya!"
Nata : "Bersedia!"
Rico : "Bagaimana dengan aku dan Pom?!"
P-O-M : "Kau dan aku pasrah saja."
Sakti : Emotikon tertawa.
Nata : "Penyimpanan daya milikku hampir habis...."
You-Land : "Ya sudah, besok pukul delapan kita berkumpul di basecamp."
Sakti : "Baik."
Player Nata is Log-out....
Player P-O-M is Log-out....
Player You-Land is Log-out....
Player Rico is Log-out....
Sakti mereganggan otot lehernya yang terasa kaku sambil bersandar pada kursi.
"Sekarang sudah jam berapa ya?!" Sakti menatap ke arah jam dinding yang tidak terlihat karena di dalam kamar Sakti gelap.
Sakti kembali menatap layar monitor di depannya.
"Apa aku harus melakukan perburuan sendirian?!" gumam Sakti.
Tulisan "WARNING!!!" berwarna merah tiba-tiba muncul memenuhi layar monitor di depan Sakti.
"Ada apa ini!" Sakti bingung dengan apa yang terjadi pada game Battle Network.
Setelah tulisan yang memenuhi layar monitor itu perlahan menghilang, Sakti dengan terkejut sekaligus heran menatap pada layar monitor di depannya tepat di dalam game Battle Network.
Lingkaran dengan simbol sihir berwarna hitam muncul di atas tanah tepat di depan karakter Sakti berdiri.
"Apa itu?!" gumam Sakti heran sembari mengerutkan kedua keningnya menatap lingkaran sihir itu.
Pada lingkaran sihir itu tampak sesosok karakter dari pemain perlahan muncul ke atas.
"Hah?!" Sakti terkejut saat melihat karakter dari pemain yang muncul dari lingkaran sihir di depan karakternya itu.
Karakter perempuan dengan dua item senjata yang melekat tepat di belakang tubuh karakter itu. Pedang berwarna hitam dan sebuah senjata senapan laras panjang yang juga berwarn hitam.
Sakti mengarahkan kursor pada karakter itu.
[Lilia / Lv-101]
"Apa yang ingin dia lakukan di sini?!" Sakti penasaran.
Karakter perempuan itu tampak mulai bergerak dengan meraih senapan laras panjang berwarna hitam, kemudian bergerak membidik tepat ke arah di mana karakter Sakti berdiri.