Sakti mulai takut saat berhadapan sangat dekat dengan karakter perempuan yang membidik ke arah karakternya.
"Apa benar dia ingin menyerangku dalam jarak seperti ini...." gumam Sakti sembari menggerakkan karakternya menghindar dari bidikan karakter perempuan itu.
'Doorr!!!'
Suara dari senapan laras panjang karakter perempuan itu terdengar.
"Ternyata dia memang ingin menyerangku..." gumam Sakti.
Karakter perempuan itu kembali menaruh senapan laras panjangnya ke belakang tubuhnya, kemudian meraih pedang dengan tangan kanannya.
"Sepertinya dia akan menyerangku menggunakan pedangnya..." gumam Sakti sembari mengaktifkan mode berlari untuk bersiap menghindar dari serangan kedua oleh karakter perempuan itu.
SLING.... SLASHH.....
Karakter perempuan itu bergerak melesat dengan sangat cepat ke belakang tubuh karakter Sakti.
"Hah!! Ada seseorang di belakang?! Kenapa aku tidak menyadarinya...." gumam Sakti kemudian menggeser mouse memutar pandangan kamera layar monitornya ke arah belakang karakternya.
Sakti melihat sesosok karakter laki-laki berjubah hitam dengan sebilah pedang sabit yang menempel di belakangnya. Sakti sangat mengenal siapa pemain yang memiliki karakter dengan senjata seperti itu, ia adalah Ecline si pencipta virus Reinka-99.
"Ternyata target pemain bernama Lilia tadi itu adalah Ecline...." gumam Sakti.
Karakter Sakti berdiri di antara pemain bernama Lilia dan si pencipta virus Ecline.
"Sepertinya aku harus menghindari pertarungan ini..." gumam Sakti seketika menggerakkan karakternya menjauh dari area pertarungan dan sekarang Ecline dan Lilia saling berhadapan.
Ecline mulai bergerak mengambil pedang sabit dari belakang tubuhnya, dan Lilia bergerak mengganti senjatanya ke mode penembak.
Ecline mulai melesat sembari mengayunkan pedang sabitnya ke arah Lilia, tapi dengan cepat Lilia bergerak mundur mengindari serangan itu. Kemudian dengan sekejap Lilia menghilang.
"Hah! Kemana dia?" gumam Sakti bingung saat ia tidak melihat karakter perempuan bernama Lilia di layar monitornya. Sakti memutar pandangan kamera layar, tapi ia tetap tidak berhasil menemukan Lilia.
Saat Sakti mengarahkan pandangan kamera ke arah Ecline, Sakti melihat Ecline yang bergerak berjalan menghampiri ke arah di mana posisi karakternya berada.
"Kenapa dia malah ke sini.....!" gumam Sakti merasa takut karena saat ini level karakernya masih terpaut jauh dengan level yang dimiliki oleh Ecline dan membuat Sakti yakin bahwa kekuatannya masih belum cukup untuk melawan Ecline.
Dari berjalan, Ecline mulai berlari ke arah karakter Sakti sambil bersiap mengayunkan pedang sabitnya untuk menyerang. Sakti pun segera berlari untuk menghindari serangan dari Ecline.
Namun, belum sampai mendekat ke arah karakter Sakti, Ecline langsung mengibaskan pedang sabitnya ke arah karakter Sakti yang sudah berlari.
Energi hitam berbentuk sabit melesat mengejar dan tepat mengenai karakter Sakti.
"Sial!! Serangannya mengenaiku..." gumam Sakti kesal.
Sakti menyeret tatapannya ke arah kiri atas layar monitor dan melihat bar status Health Point miliknya yang tersisa lima puluh persen.
"Satu kali serangan saja sudah membuat karakterku kehilangan darah setengahnya.... Bagaimana ini!!!" Sakti semakin khawatir.
Ecline : "Bagaimana rasa dari serangan terlemahku?!"
Sakti membaca pesan umum yang ditulis Ecline itu sambil bergumam, "Hah?! Yang tadi itu hanya serangan terlemahnya?!"
Ecline : "Kenapa kau tidak lari dari tempat ini...."
Sakti membaca lagi pesan umum yang ditulis Ecline, "Cih! Walaupun aku lari, dia pasti tidak akan membiarkanku lolos...." gumam Sakti kesal.
Kemudian sepuluh jemari Sakti beradu dengan keyboard di depannya.
Sakti : "Untuk apa aku harus berlari?! Aku tidak takut!!!"
Ecline : "Baguslah, jadi aku tidak perlu susah payah mengejarmu...."
Ecline berjalan mendekat ke arah karakter Sakti sambil menyeret pedang sabitnya di atas tanah.
Percikan api terlihat dari seretan pedang sabit itu yang menandakan bahwa status level serangan milik Ecline sudah berada pada tingkat tertinggi.
Ecline : "Oh iya, apa kau tahu bahwa senjataku ini memiliki skill khusus? Apa kau ingin menjadi korban pertama?"
Sakti mengerutkan kedua keningnya, "Hah?! Skill Khusus?!" gumam Sakti penasaran.
Sakti : "Coba saja kalau kau bisa..."
Ecline : "Baiklah...."
Sekarang Ecline berdiri tepat berhadapan dengan karakter Sakti.
Sakti pun tidak tinggal diam, ia menggerakkan karakternya melompat ke belakang untuk menjaga jarak serangan. Kemudian Sakti mengaktifkan skill pelindung bernama 'Imunnity Evre Lv-40' yang berfungsi untuk menghalau semua serangan dari lawan selama sepuluh menit.
Aura berwarna kuning menyebar di sekitar tubuh karakter Sakti, menandakan bahwa skill 'Imunnity Evre Lv-40' berhasil diaktifkan.
Ecline : "Apa kau kira skill pelindung itu dapat melindungimu selamanya?! Hahahaha...."
Ecline langsung bergerak melesat dan menyerang ke arah karakter Sakti.
Serangan beruntun dari Ecline masih bisa dihalau oleh skill pelindung yang Sakti aktifkan.
Masa sepuluh menit pun berakhir dan skill pelindung milik Sakti sudah menghilang.
Ecline : "Apa aku akan menunggumu agar kau bisa kembali mengaktifkan skill pelindung tadi?"
"Cih...! Dia meremehkanku..... Tapi, apa yang harus aku lakukan?!" gumam Sakti kesal kemudian bingung.
Sakti menatap ke arah shortcut skill pelindung yang masa aktifnya akan bisa digunakan kembali setelah menunggu masa cooldown selama tiga puluh menit.
"Tiga puluh menit?! Itu waktu yang sangat lama..." gumam Sakti kesal.
Sakti : "Tidak! Aku tidak akan menggunakan skill itu lagi."
Ecline : "Kenapa? Apakah karena cooldown-nya terlalu lama?! Hahahaha...."
"Dia sangat sombong dan mengesalkan!" gumam Sakti geram.
Ecline : "Bersiaplah!"
Ecline bergerak mengayunkan pedang sabitnya ke arah karakter Sakti.
"Aku akan membalasnya nanti... Sekarang biarlah aku kalah karena memang saat ini aku belum bisa melawan kekuatannya..." Sakti pun pasrah. Ia bersandar pada kursi dan tak mau menatap ke arah layar monitor di depannya.
Saat pedang sabit itu hampir mengenai tubuh karakter Sakti, tiba-tiba terdengar suara bising di telinganya tepat dari speaker komputernya.
Sakti pun kembali menatap layar komputer di depannya dan melihat energi berwarna kuning yang melesat dan mengenai pedang sabit Ecline sehingga menggagalkan serangan dari Ecline kepada Sakti.
"Siapa yang melakukannya?!" gumam Sakti kemudian menggeser mouse memutar pandangan kamera layar monitor ke arah belakang karakternya dan mencari di mana energi kuning itu berasal.
Tiba-tiba, karakter perempuan bernama Lilia yang tadi menghilang kembali muncul tepat berdiri di samping karakter Sakti.
Ecline : "Kau pemain yang tadi memancingku ke lokasi ini!!!"
Ecline segera mengayunkan pedang sabitnya ke arah Lilia. Tapi, dengan sigap Lilia menahan serangan itu menggunakan pedangnya.
Ledakan pun muncul tepat di tengah-tengah Ecline dan Lilia sehingga membuat mereka berdua terpental mundur.
"Kekuatan mereka berdua sangat besar sehingga saat saling berhadapan dapat membuat ledakan seperti itu..." gumam Sakti berdecak kagum.
Ecline : "Sepertinya aku akan melenyapkan kau lebih dulu..."
Lilia : "Buktikan....."
Ecline bergerak melemparkan pedang sabitnya ke atas, kemudian kedua tangannya bergerak mengulur ke arah Lilia.
Lingkaran berwarna hitam dengan simbol sihir muncul dari kedua tangan Ecline, kemudian melesat dan mengenai tubuh Lilia.
Sakti melihat dari kejauhan karakter Lilia yang terjerat dalam dua lingkaran sihir.
"Apa yang akan dia lakukan?! Kenapa dia tidak berusaha melawan?!" gumam Sakti heran.
Ecline : "Kau tidak akan bisa lolos dari serangan terkuatku! Hahaha..."
"Hah?! Serangan terkuat?!" gumam Sakti mengerutkan kedua keningnya.
Pedang sabit yang tadi dilempar Ecline ke atas pun jatuh dan langsung diraih Ecline dengan tangan kanannya.
[The Malak Sudduction]
"Apa itu adalah skill yang tadi dikatakan Ecline?!" gumam Sakti penasaran.
Ecline bergerak memutar pedang sabitnya sehingga menciptakan pusaran angin yang melesat ke arah Lilia.
Serangan itu tepat mengenai Lilia kemudian dua lingkaran sihir perlahan menghilang melepaskan jeratannya pada tubuh Lilia.
Sakti memperhatikan dengan serius dampak serangan dari Ecline kepada Lilia tadi.
"Hah?! Health Point milik Lilia tidak berkurang sedikitpun?! Apa itu skill terkuat milik Ecline?! Ternyata tidak dapat mengurangi Health Point Lilia..." gumam Sakti menggelengkan kepalanya memandang remeh skill dari Ecline.
Lilia : "Serangan terkuat apanya?! Satu persenpun Health Point-ku tidak berkurang......"
Ecline : "Seranganku ini memang tidak berdampak pada Health Point-mu, tapi lihatlah karaktermu sekarang.... Hahaha...."
"Apa yang terjadi dengan karakter Lilia?!" gumam Sakti penasaran kemudian mengarahkan kursor ke arah di mana karakter Lilia berdiri.
[Lilia / Lv-1]
"Apa!" Kedua bola mata Sakti terbelalak setelah melihat level yang sekarang dimiliki Lilia.
Lilia : "Apa yang kau lakukan dengan karakterku!!! Cepat kembalikan seperti semula!!"
Ecline : "Sudah ku katakan bahwa serangan terkuatku tidak menuju pada Health Point-mu, tapi menuju pada Level karaktermu... Hahaha..."
"Serangan yang tidak membuat Health Point berkurang, tapi bisa membuat level karakter turun?! Skill macam apa itu!!" gumam Sakti heran.
Ecline : "Jika seorang pemain terkena serangan ini, maka pemain itu akan kehilangan 100 Level miliknya... Hahaha...."
"Hah! Kehilangan seratus level jika terkena serangan skill itu?!" Sakti semakin terkejut.
Lilia : "Apa kau tidak tahu bagaimana usahaku mencapai level!!! Cepat kembalikan levelku seperti semula!"
Ecline : "Kenapa? Apa kau akan menangisinya?! Menangislah!! Hahaha...."
Ecline berlari ke arah Lilia dan menyerangnya. Dengan satu tebasan pedang sabit, Lilia pun tumbang dan menjatuhkan semua item dari inventory-nya.
Karakter Lilia sudah tidak berada di hadapan Ecline lagi karena saat ia kalah akan dipaksa berpindah tempat ke zona hijau.
"Sepertinya aku harus log-out sebelum Ecline juga menyerangku dengan skill itu..." gumam Sakti takut kemudian mengarahkan kursor pada panel pengaturan dan langsung menekan tombol kiri pada mousenya tepat pada tulisan Log-out.
Sakti masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Skill milik Ecline di luar ekspetasinya.
"Bagaimana dia bisa mendapatkan skill itu?! Apa mungkin dia memiliki item legenda?!" pikir Sakti, "Kehilangan seratus level itu lebih membahayakan daripada kehabisan Health Point dan kehilangan item," pikir Sakti lagi.
Sakti menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding yang tidak kelihatan sudah menunjukkan pukul berapa. Sakti memejamkan kedua matanya dan tanpa disadari dia pun tertidur saat duduk di kursi.
'BLAK...'
Sakti terjatuh dari kursi.
"Aduuh.... Astaga! Kenapa aku tertidur?!" gumam Sakti sambil memusut pinggangnya yang terasa sakit karena terjatuh.
Sakti beranjak berdiri, "Sebaiknya aku tidur..." ucap Sakti sembari berjalan ke arah tempat tidur dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, tak berapa lama Sakti pun kembali terlelap.