38. Unjuk Rasa

1180 Kata
Tok... Tok... Tok.... Terdengar suara ketukan pintu dari depan pintu kamar Sakti. "Sakti...! Apa kau masih tidur?!" tanya Bu Verita ibunya Sakti. Namun, tak terdengar jawaban dari dalam kamar karena Sakti masih tertidur pulas. JLEK! Pintu kamar Sakti dibuka Bu Verita yang langsung menengok ke arah dalam kamar dan melihat bahwa Sakti masih tertidur. "Astaga... Sudah jam segini, Sakti masih saja tidur..." Bu Verita dengan langkah geram masuk ke dalam kamar dan menghampiri Sakti yang masih tertidur. "Sakti! Bangun..." Bu Verita menggoyangkan tubuh anaknya itu untuk berusaha membangunkannya, "Bangun Sakti! Ooy...!! Itu Anata ada di ruang tamu bersama Yoland... Cepat bangun!" Bu Verita semakin keras menggoyangkan tubuh anaknya itu. Karena guncangan, Sakti pun perlahan membuka kedua matanya yang masih terasa rait dan perih. "Duh Ibu... Aku masih ngantuk..." ucap Sakti kembali memejamkan matanya. "Ya sudah, biar nanti ibu sampaikan ke Anata kalau kamu menyuruhnya untuk pulang!" Bu Verita melangkah ke arah pintu kamar. Sontak Sakti langsung membuka kedua matanya dan beranjak bangun dari tempat tidur, "Jangan, jangan, Bu..." ucap Sakti seketika dan langkah Bu Verita pun terhenti kemudian berbalik menatap Sakti. "Kalau begitu, cepat basuh wajahmu biar tidak mengantuk... Kasian tuh Anata dan Yoland sudah menunggumu hampir setengah jam," ucap Bu Verita. "Hah?! Hampir setengah jam?!" Sakti menoleh ke arah jam dinding dan melihat bahwa sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Sakti langsung beranjak berdiri, lalu bergegas menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya agar tidak mengantuk lagi. Kemudian Sakti langsung bergegas menghampiri Anata dan Yoland yang dikatakan ibunya bahwa kedua temannya sudah menunggunya di ruang tamu hampir setengah jam. "Loh? Kata ibu bukannya Anata dan Yoland ada di ruang tamu?! Tapi, di mana mereka?" gumam Sakti saat tiba di ruang tamu. Sakti menoleh ke arah dalam rumahnya, "Kata ibu, Anata dan Yoland ada di ruang tamu!!! Mana, Bu??!!" teriak Sakti. "Sini! Di dapur....!" sahut Bu Verita balas berteriak dari arah dapur. Mendengar itu, Sakti kembali bergegas menuju dapur, dan memang benar ternyata ia melihat Anata bersama Yoland sedang duduk di meja makan. "Sebaiknya kamu sarapan dulu..." ucap Bu Verita sembari mengautkan nasi ke dalam piring yang akan disuguhkannya pada Sakti anaknya. Dengan raut wajah bingung, Sakti pun duduk tepat di samping Yoland, kemudian menatap ibunya, "Tidak biasanya ibu seperti ini..." ucap Sakti. "Tadi, Anata dan Yoland memberitahu ibu kalau kalian hari ini ingin pergi menemui Bapak Walikota, kan?" ucap Bu Verita. "Iya, memangnya kenapa, Bu?" tanya Sakti heran. "Tidak apa-apa, Ibu hanya merasa senang karena bisa-bisanya Bapak Walikota mengundang kalian untuk bertemu dengan beliau..." Sakti mulai menyantap makanan yang disiapkan Bu Verita ibunya, "Ayah mana, Bu?!" tanya Sakti setelah menelan makanan dari dalam mulutnya. "Ayahmu di depan sedang memanaskan mesin mobil," jawab Bu Verita, "Ya sudah, kamu habiskan sarapannya, ibu ingin ke depan menemui ayahmu dulu," sambung Bu Verita dan dijawab Sakti dengan anggukan mengiyakan, kemudian Bu Verita pun berjalan keluar dari dapur dan langsung menghampiri Pak Edwan suaminya di depan rumah. "Ketua, Anata... Kenapa kalian memberitahukan pada ibuku kalau kita akan menemui Bapak Walikota?!" tanya Sakti. "Aku bingung, karena tadi ibumu tidak membolehkanmu untuk ikut, jadi kami katakan saja yang sebenarnya bahwa bapak Walikota mengundang kita," jawab Yoland. "Kalian kan bisa memberikan alasan lain, misalnya menjenguk Pom atau Rico yang sakit...." ucap Sakti. "Memangnya kenapa?! Kan, lebih baik jujur daripada berbohong terus-menerus, setelah kebohongan pertama ketahuan, pasti kebohongan kedua akan keluar untuk menutupi kebohongan pertama, dan seterusnya sampai tidak bisa lagi menutupi semua kebohongan itu sendiri," sahut Anata sembari menasihati Sakti. "Bukannya aku ingin berbohong, tapi aku hanya merasa risih dengan perlakuan ibuku barusan..." ucap Sakti lemas. "Apapun alasannya, semua perempuan paling tidak suka dengan yang namanya kebohongan....!" Anata merasa kesal dan langsung beranjak berdiri setelah menghabiskan makanannya dan merapikan piring serta sendok dan garpu yang tadi digunakannya. "Ka-kamu mau kemana, Anata?" tanya Sakti. "Sebaiknya aku pulang saja... Kita tidak jadi menemui bapak Walikota....!" sahut Anata sembari melangkah ke arah pintu keluar ruangan dapur. "Tu-tunggu, Anata." Sakti langsung beranjak berdiri seketika memegang dan menahan tangan Anata agar tidak keluar dari ruangan dapur. Anata pun menoleh dan menatap Sakti saat tangannya digenggam oleh Sakti. Sakti pun balas menatap Anata tanpa berkedip sekalipun. "Ehem!!!" Yoland berpura-pura batuk dan membuyarkan suasana. "Kamu jangan pulang... Lagian rumahmu kan lumayan jauh dari sini," ucap Sakti. "Kalau kamu pulang, bagaimana dengan nasib Battle Network?!" tanya Yoland kepada Anata. "Apakah hanya game yang kalian berdua pikirkan?!" sahut Anata kesal balik bertanya. "Bu-bukan masalah game-nya, tapi jika kita tidak berusaha mengembangkan Battle Network, bagaimana nasib internet nanti di masa depan?" jawab Sakti, "Bukankah kamu sangat bercita-cita untuk mengembangkan fasilitas di dunia internet? Lalu, bagaimana jika masih dalam keadaan seperti sekarang ini?" tanya Sakti kepada Anata. "Wah! Sepertinya kau tahu banyak tentang cita-cita Anata yang aku pun tidak pernah tahu," sahut Yoland. Sontak Anata pun mendengus kesal karena teringat dengan ambisinya untuk mengembangkan fasilitas jaringan internet. Anata kembali duduk dan menatap ke arah Sakti, "Sepertinya Sakti benar-benar ingat dengan ambisiku itu," pikir Anata. "Nah, begitu dong..." ucap Sakti tersenyum menatap Anata, "Setelah selesai makan, kita langsung ke gedung pemerintah pusat dan bertemu bapak Walikota..." sambung Sakti dan Anata pun mengangguk mengiyakan. Setelah selesai makan, Sakti, Anata, dan Yoland bersama-sama menuju ke depan rumah untuk berpamitan dengan Pak Edwan dan Bu Verita orang tuanya Sakti. "Yah, Bu... Kami berangkat dulu," ucap Sakti. "Iya, Moms, tidak baik kalau membuat bapak Walikota menunggu lama..." tambah Anata. "Nah, bagaimana kalau ayah saja yang mengantarkan kalian?" tanya Bu Verita kemudian menoleh ke arah Pak Edwan yang sedang melap kaca spion mobil, "Benar, kan, Yah?" "Hah?! I-iya, benar... Kalau kalian naik bus, mungkin akan tiba di sana jam sebelas siang karena tadi ayah lihat berita di televisi kalau jalan raya sedang macet..." ucap Pak Edwan. "Macet?! Bukannya ini hari sabtu, sebagian orang kan libur bekerja hari ini, Yah?" tanya Sakti. "Bukan sebagian orang, tapi semua orang libur kerja hari ini karena sedang melakukan unjuk rasa di jalan raya untuk protes tentang gangguan yang terjadi pada jaringan internet," jawab Pak Edwan. "Apa mereka tahu bahwa semua ini karena ulah virus, Yah?" tanya Anata. "Menurut berita di televisi tadi pagi, tim ahli yang ditugaskan bapak Walikota memberitahukan bahwa gangguan internet bukan ulah dari virus, tapi karena kerusakan sistem dari satelit," jawab Pak Edwan. "Ternyata mereka masih bersikeras dengan pendapat mereka.. Bukankah Pak Ardi sudah menjelaskan fakta yang sebenarnya pada bapak Walikota?!" ucap Sakti. "Kata ayah sih, dia sudah menjelaskannya, tapi bapak Walikota masih ragu. Itulah sebabnya bapak Walikota ingin bertemu dengan kita, mungkin beliau ingin mendengar langsung penjelasan dari kita," jawab Anata. 'DUG!' Terdengar suara pintu mobil yang ditutup. Sakti, Anata, Yoland, dan Bu Verita menoleh ke arah mobil dan melihat Pak Edwan sudah duduk di dalam mobil. "Ayo!! Ayah akan bantu kalian menjelaskannya pada orang-orang di sana...!" ucap Pak Edwan. Sakti, Anata, dan Yoland pun masuk ke dalam mobil. "Hati-hati, ya..." ucap Bu Verita saat mobil berwarna merah maron yang dikemudikan Pak Edwan sudah mulai berjalan perlahan. "Iya, Bu... Kami berangkat dulu...." ucap Pak Edwan menatap Bu Verita istrinya. Mobil berwarna merah maron dengan Pak Edwan, Sakti, Anata, dan Yoland di dalamnya pun mulai melaju menuju gedung pemerintahan pusat di mana Bapak Walikota sudah menunggu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN