Di perjalanan, Sakti, Anata, dan Yoland melihat dengan jelas ada ratusan bahkan ribuan orang yang berjalan di jalan raya dengan beberapa orang yang membawa spanduk protes mereka.
"Bagaimana ini, Yah? Kita tidak akan tiba tepat waktu di sana," ucap Sakti.
"Tenang saja, ayah tahu jalan pintas...." sahut Pak Edwan kemudian segera memutar arah mobil menuju jalan sempit di antara dua gedung.
Mobil berwarna merah maron itu melaju dengan cepat di jalur yang sempit itu, seperti di film action. Belokan siku-siku dapat dengan mudab dilewati.
"Ayah kamu hebat, Sakti," ucap Yoland berdecak kagum.
"Hahaha... Ini sangat mudah, jalan ini sangat mirip seperti lintasan game balapan yang sewaktu remaja ayah sering memainkannya," ucap Pak Edwan.
Setelah berhasil keluar dari jalan sempit yang banyak dengan belokan, akhirnya bagunan besar yang merupakan gedung pemerintahan pusat mulai terlihat. Pak Edwan pun semakin mempercepat laju mobil menuju gedung itu.
Setelah memarkirkan mobil, Sakti, Anata, Yoland, dan Pak Edwan bergegas menuju pintu masuk gedung pemerintahan.
Setibanya di lobi, tampak Pak Ardi yang sedak duduk pada kursi berjejer di ruang tunggu.
"Itu ayahku, di sana." Anata menunjuk ke arah ruang tunggu.
Seketika Sakti, Anata, Yoland, dan Pak Edwan pun menghampiri Pak Ardi.
"Edwan? Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Pak Ardi.
"Aku hanya mengantarkan anak-anak ke sini, takut mereka terlambat, jadi aku terpaksa memakai jalur yang dulu waktu remaja sering kita lewati," jawab Pak Edwan tersenyum sambil menggaruk kepala belakangnya.
"Astaga! Itu sangat berbahaya...!" sahut Pak Ardi, "Ya sudah... Bapak Walikota sudah menunggu di ruangannya. Ayo!" ajak Pak Ardi.
Pak Ardi pun mengajak Sakti, Anata, dan Yoland menemui bapak Walikota di ruangannya.
"Selamat pagi... Bagaimana perjalanan kalian tadi?" ucap Bapak Walikota beranjak dari tempat duduknya menyambut kedatangan Sakti, Anata, dan Yoland dengan pertanyaan yang aneh.
Sakti, Anata, Yoland, Pak Edwan, dan Pak Ardi melihat ada empat orang dengan seragam khusus yang duduk di dekat Bapak Walikota dan menghadap ke depan tepat ke arah Sakti, Anata, Yoland, Pak Edwan, dan Pak Ardi berdiri.
"Perkenalkan, keempat orang di samping saya ini adalah para ahli yang saya tugaskan untuk menyelidiki kasus insiden perihal gangguan internet, mereka ini adalah orang terbaik dengan nilai tertinggi lulusan dari fakultas ternama di luar negeri yang berkejuruan khusus di bidang jaringan internet," ucap Bapak Walikota memperkenalkan empat orang berseragam khusus yang duduk di sampingnya.
"Maaf, Bapak Walikota yang saya hormati dan Bapak-bapak tim khusus yang juga saya hormati... Saya tidak ingin berbasa-basi lagi," ucap Sakti dengan sopan.
"Baiklah... Silahkan duduk...." ucap Bapak Walikota mempersilahkan untuk Sakti, Anata, Yoland, Pak Edwan, dan Pak Ardi duduk pada kursi yang sudah disediakan sembari ia kembali duduk, "Baiklah, sebelum saya menyetujui pengajuan bantuan untuk kalian, saya ingin melihat kembali bukti bahwa penyebab dari gangguan internet ini diakibatkan oleh virus seperti yang kemarin dijelaskan oleh Pak Ardi kepada saya," ucap Bapak Walikota.
"Bolehkah saya yang akan menjelaskannya?" tanya Pak Edwan beranjak berdiri.
"Ayah?!" gumam Sakti heran.
"Silahkan..." ucap Bapak Walikota.
"Sebenarnya menurut hasil dari tim ahli yang ditugaskan Bapak adalah benar," ucap Pak Edwan.
"Ayah?!" Sakti menatap heran pada ayahnya.
Bapak Walikota menoleh dan menatap tersenyum ke arah empat orang yang duduk di sampingnya, kemudian kembali menatap Pak Edwan.
"Lalu, kenapa kemarin Pak Ardi mengatakan kepada saya bahwa gangguan ini diakibatkan oleh virus?!" tanya Bapak Walikota.
"Maaf, saya belum selesai menjelaskan..." ucap Pak Edwan.
"Baiklah, lanjutkan."
"Seperti yang tadi sudah saya katakan, bahwa hasil dari tim ahli yang Bapak tugaskan adalah benar, lebih tepatnya hanya sebagian yang benar," ucap Pak Edwan.
"Sebagian benar?! Apa maksud anda?!" Seorang dari empat orang ahli langsung beranjak berdiri dan menatap heran kepada Pak Edwan.
"Apa anda meremehkan kemampuan dari kami?!" tambah salah seorang lagi.
"Siapa anda, bisa-bisanya anda mengatakan bahwa hasil yang kami temukan hanya sebagian benar?!"
"Maaf, saya tidak bermaksud meremehkan apalagi menyinggung kalian, maksud saya hanya ingin meluruskan fakta yang sebenarnya tentang gangguan internet ini, kalau tim ahli anda menyebutnya dengan istilah False System, tapi saya menyebutnya dengan istilah Syndicate System," jelas Pak Edwan.
"Syndicate System ?! Maksud anda ada seorang dalang dari gangguan internet ini?" tanya Bapak Walikota.
"Anda salah," sahut Pak Edwan sembari menggelengkan kepalanya, "Yang benar, ada seseorang atau lebih yang bertugas menciptakan virus, lalu menyebarkan virus, dan membajak akses satelit di luar angkasa agar mereka dapat menghapus titik koordinat lokasi di mana mereka pertama kali beraksi," sambung Pak Edwan menjelaskan, "Aksi mereka membajak akses satelit itu yang menjadikan para ahli yang anda tugaskan bersikeras dengan pendapat mereka, tapi para ahli yang anda tugaskan itu tidak dapat melacak apa penyebab yang membuat sistem di satelit menjadi rusak," sambung Pak Edwan menjelaskan lagi.
"Anda memang benar, bahwa kami para tim ahli yang ditugaskan Bapak Walikota masih belum menemukan penyebab kerusakan yang dialami satelit di luar angkasa, tapi bagaimana dengan game bernama Battle Network yang dibuat kelompok hacker bernama Trouble Maker?! Apa mereka adalah dalangnya?!" sahut salah seorang dari empat orang tim ahli kemudian bertanya.
Yoland beranjak berdiri, "Saya Yoland, Sakti, dan Anata adalah anggota dari Trouble Maker, dan saya adalah ketuanya!" ucap Yoland, "Perlu anda ketahui, bahwa bukan kami yang menciptakan virus itu," sambung Yoland.
"Tapi, kenapa hanya game Battle Network satu-satunya yang bisa diakses? Apakah anda bisa menjelaskan?" tanya salah seorang lagi dari empat orang ahli itu.
"Kami membuat game Battle Network dengan tujuan menjadikan game itu sebagai anti-virus untuk melenyapkan virus bernama Reinka-99," jawab Yoland.
"Kalian para tim ahli bisa melihat isi datanya dengan akses yang kami miliki pada Battle Network sekarang," tambah Sakti ikut beranjak berdiri, "Ini bukti bahwa kegiatan aksi yang kami lakukan transfaran untuk kalian," tambah Sakti.
Keempat orang ahli yang berada di samping Bapak Walikota tampak saling menatap satu sama lain.
"Baiklah, kami ingin melihatnya," ucap salah seorang dari empat orang ahli.
Salah seorang lainnya dari empat orang ahli, meletakkan sebuah laptop tepat di atas meja yang ada di depan Bapak Walikota.
Yoland berjalan menuju meja di mana laptop diletakkan.
Setelah laptop dihidupkan, layar monitornya sudah menampilkan beranda depan game Battle Network.
Kesepuluh jemari Yoland beradu dengan keyboard pada laptop itu, ia berniat membuka akses admin Battle Network untuk laptop itu.
"Silahkan kalian cek sendiri...." ucap Yoland kemudian kembali ke tempat duduknya.
Keempat orang ahli itupun langsung memeriksa data-data sistem pada game Battle Network.
Beberapa menit kemudian, keempat orang ahli itu saling menatap satu sama lain setelah selesai memeriksa semua file, data, sistem, dan komponen yang terpasang pada game Battle Network.
"Kalian benar, game Battle Network tidak memiliki data yang menjelaskan tengang ketersangkut-pautannya dengan gangguan internet, dan kami hanya menemukan komponen yang berfungsi seperti sebuah aplikasi anti-virus pada umumnya," ucap salah seorang dari keempat tim ahli itu.
Bapak Walikota mulai berpikir untuk mempertimbangkan setelah mendengar ucapan dari salah seorang dari keempat tim ahli yang dia tugaskan itu.
"Baiklah, saya akan mengirimkan proposal kepada pemerintah pusat negara tentang persetujuan saya mengenai perihal pengajuan bantuan untuk kalian," ucap Bapak Walikota, "Semoga pemerintah pusat negara mengirimkan dana bantuan secepatnya pada kalian," sambung Bapak Walikota.
"Benarkah, Pak?!" Sakti langsung tersenyum senang, begitu juga dengan Yoland, Anata, Pak Edwan, dan Pak Ardi yang ikut senang.
"Saya bersungguh-sungguh... Mungkin bantuan akan dikirim paling cepat dalam waktu satu minggu atau paling lama dalam satu bulan, karen sangat sulit proses pengiriman proposal ke pusat," ucap Bapak Walikota.
"Tidak apa-apa, Pak... Yang penting pengajuan kami sudah diterima....." ucap Yoland.
"Baik, terima kasih atas waktunya sudah meluangkan untuk kami menjelaskan kepada Bapak Walikota dan kepada para tim ahli," ucap Pak Ardi, kemudian Pak Ardi menoleh ke arah Sakti, Anata, Yoland, dan Pak Edwan, "Ayo...," ajak Pak Ardi untuk keluar dari ruangan Bapak Walikota.
Sakti, Anata, Yoland, Pak Edwan, dan Pak Ardi pun keluar dari ruangan dengan perasaan senang karena sudah berhasil menunjukkan kepada Bapak Walikota fakta yang sebenarnya, dan Bapak Walikota pun mempercayai mereka.
Saat Pak Ardi berjalan di paling belakang, ia sempat mendengar percakapan antara Bapak Walikota dengan keempat tim ahli yang beliau tugaskan itu.
"Menurut kalian apakah saya dengan mudahnya langsung percaya?! Mereka itu hanya anak-anak!" ucap Bapak Walikota samar-samar terdengar di telinga Pak Ardi saat ia melangkah keluar dari ruangan Bapak Walikota.
Sementara itu di luar ruangan, Pak Ardi melihat raut wajah Sakti, Anata, dan Yoland yang begitu senang dengan respon dari bapak Walikota.
"Aku tidak tega menyampaikan apa yang tadi aku dengar kepada mereka, mereka mungkin akan merasa kecewa dan marah...." Pak Ardi menghela nafas, "Semoga saja aku hanya salah dengar..." gumam Pak Ardi dalam hati.
"Ayah?! Kenapa ayah melamun seperti itu?!" tanya Anata yang tidak sengaja melihat raut wajah Pak Ardi ayahnya yang tampak seperti memikirkan sesuatu.
"Hah?! Tidak apa-apa... Ayah hanya mengantuk, soalnya AC di dalam ruangan tadi sangat dingin..." jawab Pak Ardi menepis pikirannya.
"Apa setelah ini ayah langsung pulang?" tanya Anata.
"Tidak, ayah kembali ke kantor saja karena masih ada beberapa dokumen yang harus ayah tanda tangani," jawab Pak Ardi.
Mereka pun keluar dari gedung pemerintah pusan dan langsung menuju ke tempat parkir di mana mobil berwarna merah maron milik Pak Edwan terparkir di sana.
"Ardi, kau naik apa kemari?" tanya Pak Edwan.
"Tadi aku diantar oleh sopir yang bertugas di kantorku," jawab Pak Ardi, "Tapi dia kemana ya?! Kenapa mobilnya tidak ada di sini?!" sambung Pak Ardi sembari menoleh ke kanan dan kiri.
"Bagaimana kalau kau ikut dengan kami saja, aku bisa mengantarmu ke kantor," ucap Pak Edwan.
"Ya sudah, lagian aku juga harus cepat karena dokumennya sudah ditunggu..." sahut Pak Ardi.
Pak Edwan pun menyetir mobil menuju ke kantor di mana Pak Ardi bekerja. Setelah mengantar Pak Ardi, Pak Edwan pun langsung membawa Sakti, Anata, dan Yoland untuk pulang.