40. Siapa Ecline?

1282 Kata
Saat dalam perjalanan menuju pulang tepar di dalam mobil yang disetir Pak Edwan, tampak Sakti yang melamun memikirkan sesuatu sehingga membuat Yoland yang duduk disampingnya penasaran dengan apa yang dipikirkan Sakti. "Sakti..." Yoland menepuk bahu Sakti yang seketika terkejut. "Hah, iya..." ucap Sakti seketika terbuyar dari lamunannya. "Kau sedang memikirkan apa?" tanya Yoland. "Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa," jawab Sakti, "Yah," panggil Sakti kepada Pak Edwan ayahnya. "Ya, kenapa?" tanya Pak Edwan. "Bisakah ayah mengantar kami ke basecamp?" pinta Sakti. "Kalian tunjukkan jalannya, Ayah kan tidak pernah ke basecamp kalian..." ucap Pak Edwan. "Biar saya saja yang menunjukkan jalannya, Om," ucap Yoland, "Kebetulan basecamp kami berada di sebelah rumah saya," sambung Yoland. Pak Edwan pun menjalankan mobilnya menuju basecamp dengan diarahkan oleh Yoland. Setelah hampir lima belas menit, mereka pun tiba di sebuah bangunan yang dari luar hanya tampak seperti sebuah gudang dengan dinding luarnya yang terdapat banyak coretan-coretan grafiti. "Bolehkah ayah ikut masuk ke dalam basecamp?" tanya Pak Edwan. "Untuk apa, Yah...?!" sahut Sakti balik bertanya dan merasa heran kepada ayahnya. "Ya.... Ayah hanya penasaran mau mengetahui bagaimana bagian dalam basecamp kalian," jawab Pak Edwan. Sakti menatap ke arah Yoland sembari mengangkat kepalanya kepada Yoland memberi isyarat pertanyaan apakah Yoland menyetujuinya. Yoland pun mengangguk mengiyakan tanda membolehkan Pak Edwan masuk ke dalam basecamp. Saat di dalam basecamp, Pak Edwan menyebarkan pandangannya ke seluruh bagian dalam basecamp yang tampak sederhana hanya terdapat lima unit komputer yang berada di atas meja dan tersusun melingkar tepat di tengah-tengahnya. Pak Edwan langsung menyalakan salah satu komputer dan memeriksanya. "Menurut ayah, kalian memang harus menambah alat lagi pada semua unit," ucap Pak Edwan mengutak atik satu per satu komputer. "Makanya itu, kami perlu dana tambahan agar kami bisa lebih mengembangkan game Battle Network," ucap Anata. "Tapi menurut ayah, kemampuan kalian cukup luar biasa karena kalian mampu membuat aplikasi hanya dengan peralatan sesederhana ini," ucap Pak Edwan. Pak Edwan menatap ke arah Sakti yang sedang duduk di depan komputer dan tampak kembali melamun. Dengan rasa heran, Pak Edwan pun menghampiri Sakti, "Sakti..." panggil Pak Edwan, tapi Sakti tidak menyahut karena melamun. Anatan dan Yoland ikut merasa heran dengan tingkah Sakti itu. Yoland melangkah menghampiri Sakti. "Sakti..." Yoland kembali menepuk bahu Sakti yang seketika terkejut. "Sepertinya ada hal yang kau rahasiakan dari kami. Ingat Sakti, kita bukan hanya teman dalam satu tim, tapi kau adalah teman terdekatku. Tidak ada yang perlu kau rahasiakan..." ucap Yoland. Sakti menatap ke arah Pak Edwan ayahnya. "Jika kau tidak mau mengatakannya di hadapan ayah, tidak apa-apa.... Ayah akan keluar sebentar, dan kau bisa leluasa mengatakannya kepada teman-temanmu," ucap Pak Edwan. "Tidak, Yah.... Ayah tidak perlu keluar, aku akan memberitahukannya kepada kalian," ucap Sakti. Pak Edwan, Yoland, dan Anata pun mendekat ke arah Sakti. "Sebenarnya ini tentang Ecline si pencipta virus Reinka-99," ucap Sakti. "Jadi, orang yang menciptakan virus Reinka-99 bernama Ecline?!" tanya Pak Edwan terkejut. "Ayah mengenal orang itu?" tanya Sakti. "Ayah sangat mengenalnya, dua tahun yang lalu Ecline adalah seorang manager di perusahaan ayah, dia ayah berhentikan karena secara diam-diam telah membocorkan rahasia perusahaan kepada salah satu perusahaan lain yang merupakan saingan dari perusahaan ayah," jawab Pak Edwan menjelaskan. "Tapi, apa Ecline yang Om maksud adalah orang yang sama dengan Ecline si pencipta virus Reinka-99 ini?" tanya Yoland. "Saya tidak begitu yakin sih..." ucap Pak Edwan tersenyum malu sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. "Ayah!!" ucap Sakti kesal. "Iya, maaf, maaf... Ayah hanya mencoba menenangkan suasana karena sejak tadi atmosfer di dalam ruangan ini sangat tegang," ucap Pak Edwan. "Huh... Baiklah, aku akan memberitahukan apa yang sejak tadi aku pikirkan," sahut Sakti kemudian ingin mengatakan yang sejak tadi dia pikirkan. Anata, Yoland, dan Pak Edwan dengan serius menatap Sakti. "Tadi malam setelah kalian semua sudah log-out dari game, aku sempat bertemu Ecline," ucap Sakti memberitahu. "Lalu, apa kau bertarung dengannya?!" Yoland penasaran. "Bukan aku yang bertarung, tapi seorang pemain bernama Lilia yang menghadapinya," jawab Sakti, "Lilia adalah pemain yang level karakternya sudah mencapai level seratus satu," sambung Sakti. "Lalu?!" Anata heran karena merasa bahwa apa yang ingin dikatakan Sakti tidak terlalu penting. "Saat Ecline bertarung dengan Lilia, sebelumnya Ecline sempat berbicara denganku melalui pesan publik, Ecline memberitahuku bahwa dia memiliki satu skill yang didapatnya dari item senjata yang dia gunakan," ucap Sakti. "Apa item senjata itu berbentuk pedang sabit?!" tanya Pak Edwan ayahnya Sakti. "Iya, pedang sabit yang memiliki skill berbahaya tapi tidak mematikan," jawab Sakti. Serentak Yoland, Anata, dan Pak Edwan ayahnya Sakti pun merasa bingung dengan apa yang dikatakan Sakti. "Berbahaya, tapi tidak mematikan?! Aku tidak mengerti," ucap Anata bingung. "Tolong katakan yang jelas, aku juga tidak mengerti," tambah Yoland. "Skill itu tidak mematikan karena tidak berfungsi untuk memberi dampak serangan kepada targetnya, dan skill itu berbahaya karena memiliki fungsi lain yang menakutkan," ucap Sakti. "Apa itu?" tanya Pak Edwan. "Jika skill itu mengenai seorang pemain, maka pemain itu akan kehilangan seratus level yang dimilikinya," ucap Sakti. "Maksudmu, jika skill itu berhasil mengenai target, maka level target bisa berkurang sampai seratus level?!" tanya Yoland. Sakti mengangguk, "Benar.... Itu yang membuatku terpikir jika semua pemain berhasil dia serang menggunakan skill itu," ucap Sakti. "Maka pemain yang terkena serangan harus memulai permainan dari awal lagi," sahut Pak Edwan. "Aku rasa tidak memulai dari awal, tapi hanya berakibat kehilangan seratus level saja, Yah," ucap Sakti. "Jadi, Lilia yang kamu katakan tadi memiliki karakter dengan level seratus satu, dan dia berhasil diserang oleh Ecline menggunakan skill yang kau katakan tadi, maka level karakter yang dimiliki Lilia sekarang tersisa satu level?!" tanya Anata memastikan. "Dan hal yang kamu khawatirkan adalah jika semua pemain diserang Ecline menggunakan skill itu, maka membuat semua pemain kehilangan level mereka, dan hal itu juga yang nantinya akan membuat para pemain menjadi bosan karena harus kembali berjuang mengembalikan level mereka yang hilang itu," tambah Pak Edwan. "Bukan hanya itu, skill itu membuat Ecline dapat dengan merebut semua item dari pemain yang dia kalahkan dengan mudah karena level lawannya sudah rendah dan otomatis semua status tingkat kekuatan karakter yang sudah diatur pemain juga pasti berkurang," ucap Sakti. "Artinya kita harus merebut item senjata itu dari Ecline..." ucap Anata. "Tapi bagaimana?!" tanya Sakti bingung, "Sedangkan level kita saat ini masih terpaut jauh di bawah level yang dimiliki Ecline," sambung Sakti. "Kalau begitu, kita harus berusaha secepat mungkin agar meningkatkan level kita. Paling tidak, kita harus bisa menyamai tingat level yang dimiliki Ecline," ucap Anata. "Tapi, waktunya tidak akan cukup untuk menyamai level yang dimiliki Ecline, sedangkan sekarang mungkin dia sudah menggunakan skill berbahaya itu kepada para pemain yang dia temui," sahut Yoland. "Sedangkan akun kita yang memiliki otoritas sebagai Game Master saja masih tidak dapat digunakan," ucap Sakti. "Memangnya Ecline sudah mencapai level berapa?" tanya Pak Edwan. "Kalau tidak salah, levelnya tadi malam sudah level seratus dua puluh enam, Yah," jawab Sakti memberitahu. "Di saat level karakter kita baru mencapai level seratus, mungkin dia sudah mencapai level maksimal," ucap Yoland. "Ayah penasaran bagaimana kemampuan pemain bernama Ecline itu... Apa kalian tahu di mana dia biasanya berada?" tanya Pak Edwan. "Memangnya ayah mau melawannya?" tanya Sakti. "Iya, ayah ingin menguji seberapa hebat pemain bernama Ecline itu," jawab Pak Edwan. "Om juga memainkan game ini?!" tanya Yoland bingung. "Tentu saja, bahkan Pak Edwan memiliki satu set item yang sepertinya sangat kuat," sahut Anata memberitahu karena ia dan Sakti pernah ditunjukkan oleh Pak Edwan karakter yang dimilikinya. "Satu set item?! Kami yang sebagai Game Master saja belum memiliki item sampai satu set," ucap Yoland masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Anata. Pak Edwan hanya tersenyum saat mendengar ucapan Yoland yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Anata. Pak Edwan duduk di depan komputer yang berada tepat di samping tempat duduk Sakti. Kesepuluh jari-jemari Pak Edwan beradu dengan keyboard dan mencoba log-in menggunakan akun miliknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN