41. Tiga Pemain Teratas

1553 Kata
Pak Edwan ayahnya Sakti menunjukkan karakter miliknya yang levelnya sudah mencapai level seratus lima puluh, itu adalah tingkat level tertinggi di dalam game Battle Network. Pakaian lengkap zirah putih dikenakan oleh karakter milik Pak Edwan dengan memegang sebilah pedang yang juga berwarna putih dan ukurannya lumayan besar. Kerlap-kerlip tampak di sekujur tubuh karakter yang digunakan Pak Edwan menandakan bahwa item yang dipakai merupakan satu set. "Karakter itu seperti dikelilingi bintang-bintang..." ucap Anata. "Ayah berhasil mengumpulkan satu set item legenda yang bernama Arcanister," sahut Pak Edwan memberitahu. "Ternyata yang dikatakan Anata tadi benar," ucap Yoland seketika setelah melihat sendiri akun yang dimiliki Pak Edwan ayahnya Sakti. "Sebentar..." Sakti mengucak kedua matanya saat melihat nama dari karakter yang dimiliki ayahnya itu. "Kenapa, Sakti?!" tanya Yoland. "One-Ed, kalau tidak salah nama itu berada di peringkat pertama," ucap Sakti. "Hah?!" Anata menatap ke arah nama karakter milik Pak Edwan, "Sepertinya memang benar, nama itu berada di peringkat pertama," ucap Anata. "Ja-jadi, Ayah adalah pemain peringkat pertama itu... Astaga! Kenapa aku baru menyadarinya bahwa nama itu kebalikan dari nama ayah!!" ucap Sakti. "Pak Edwan.... One-Ed atau dibaca dari belakang menjadi Edwan..." ucap Yoland. "Kalian terlalu berlebihan..." sahut Pak Edwan, "Baiklah..." Pak Edwan menekan tombol 'Mulai', dan dengan seketika karakter yang dimiliki Pak Edwan tampak berdiri di tepi pantai di sebuah pulau kecil. "Karakter Ayah ini berada di mana?! Aku tidak pernah melihat tempat ini sebelumnya," ucap Sakti saat melihat tempat di mana karakter Pak Edwan ayahnya itu berada. "Saat ini ayah sudah sampai di sebuah pulau kecil di tengah laut, orang-orang biasa menyebutnya dengan nama segitiga bermuda," jawab Pak Edwan. "Untuk apa ayah ke sana?! Apakah di sana ada monsternya?!" tanya Sakti. "Ada beberapa, dan jumlah experience yang ayah dapatkan di sini juga lumayan, sedangkan level monsternya masih rendah..." jawab Pak Edwan memberitahu. "Jadi, Om melakukan leveling di tempat ini?!" tanya Yoland, "Tapi, bagaimana Om bisa sampai ke situ?!" sambung Yoland lagi. "Sangat mudah, tapi sebelum saya menjelaskannya kepada kalian bagaimana saya bisa sampai ke tempat ini, beritahukan dulu di mana kalian biasa bertemu Ecline," ucap Pak Edwan. "Apa ayah benar-benar yakin ingin melawan Ecline?!" tanya Sakti, "Jika ayah kalah, maka...." "Kita lihat hasilnya nanti. Yang pastinya, ayah merasa tertantang jika ada pemain yang lebih hebat dari ayah..." pungkas Pak Edwan. Tiba-tiba, sebuah serangan mengenai karakter yang digunakan Pak Edwan. Serangan itu berupa petir berwarna biru yang menyambar. "Awas!" Serentak Sakti dan Yoland berteriak saat melihat serangan petir yang mengenai karakter Pak Edwan. "Kalian tenang saja, serangan dengan elemen petir hanya akan membuat status dampak serangan yang dimiliki karakter ayah menjadi meningkat," ucap Pak Edwan dengan tenangnya, "Lagipula, ayah juga tahu siapa yang menyerang ayah tadi," sambung Pak Edwan. Pak Edwan memutar pandangan kamera dan menunjukkan seorang pemain yang karakternya berlari ke arah di mana karakter Pak Edwan berdiri. "Bukankah itu Rozl pemain yang berada di peringkat ketiga?!" ucap Yoland kagum. "Rozl adalah teman seperjuangan ayah, dia juga pernah memberitahu ayah tentang kalian," ucap Pak Edwan. "Iya, Rozl pernah menolong kami saat dua pemain bernama Reazura dan Reanko ingin merebut item legenda milik saya, Om," ucap Yoland. Rozl : "Maaf aku tidak tahu kalau kau yang berada di situ, aku mengira kalau kau adalah pemain lain yang baru tiba di sini." "Mungkin Rozl tahu di mana Ecline berada," ucap Pak Edwan kemudian kesepuluh jari-jemarinya beradu dengan keyboard di depannya. One-Ed : "Tidak apa-apa... Rozl, apa kau tahu di mana biasanya Ecline muncul?" Rozl : "Tadi aku baru saja melihat Ecline sedang bertarung melawan beberapa pemain." One-Ed : "Benarkah?! Apa bisa kau mengirimkan titik lokasi di mana dia berada?!" Rozl : "Sebentar, aku memeriksanya dulu...." Rozl mengirimkan titik lokasi di mana ia melihat Ecline. One-Ed : "Terima kasih..." Rozl : "Untuk apa kau memintaku memberitahukan lokasi Ecline? Apa kau ingin bertarung melawannya?! One-Ed : "Iya, aku ingin melawannya." Rozl : "Aku tidak bisa menghalangi keinginanmu untuk bertarung melawan Ecline, tapi sebelum kau pergi aku ingin memperingatkan kepadamu bahwa sepertinya Ecline memiliki skill yang aneh." One-Ed : "Aku sudah mengetahui skill apa itu...." Rozl : "Berhati-hatilah." One-Ed : "Kau jangan khawatir.... Aku pergi dulu...." Pak Edwan menekan tombol 'M' pada keyboard untuk menampilkan fitur map pada layar monitor. Kemudian ia menggeser mouse dan mengarahkan kursor ke arah titik lokasi di mana Ecline berada yang tadi dikirim oleh Rozl. Pak Edwan menekan tombol kanan pada mouse. Seketika dari titik lokasi itu muncul sebuah fitur yang bertuliskan 'Teleportasi ke tempat ini', dan Pak Edwan pun menekan tombol kiri pada mouse tepat pada tulisan itu. Seketika karakter yang digunakan Pak Edwan langsung berpindah tempat dari tepi pantai dan sekarang ini berada di jalan raya yang tempatnya sudah dia kenal karena tempat itu berada di kota ia, Sakti, Anata, dan Yoland tinggal. Pak Edwan memutar pandangan kamera pada layar monitor sampai tiga ratus enam puluh derajat untuk melihat bagaimana keadaan di sekitar tempat karakternya berada. "Banyak sekali item yang berhamburan di jalan... Apa yang sebenarnya yang terjadi di tempat itu?!" ucap Sakti heran setelah melihat keadaan dari layar monitor yang ditunjukkan oleh Pak Edwan ayahnya. "Sepertinya apa yang tadi dikatakan Rozl benar," ucap Pak Edwan. Tiba-tiba, tampak di layar monitor panah berwarna merah yang menunjuk tepat ke arah belakang karakter Pak Edwan berdiri. "Panah itu untuk apa, Yah?" tanya Sakti heran. Pak Edwan menggerakkan karakternya melompat ke udara sebelum sebuah serangan berbentuk lingkaran sihir berwarna hitam mengenainya. "Aku ingat dengan lingkaran sihir itu, itu adalah serangan dari skill andalan milik Ecline..." ucap Sakti. "Jadi, sekarang dia sudah menyadari keberadaanku di tempat ini," ucap Pak Edwan. Pak Edwan menggerakka karakternya berbalik badan ke arah dari mana serangan tadi berasal, dan ternyata memang benar bahwa Ecline berada di belakangnya. "Itu dia Ecline..." ucap Anata. Sesosok karakter berjubah hitam dengan pedang sabit berjalan mendekat ke arah di mana karakter Pak Edwan berdiri. "Baiklah...." Pak Edwan menggerakkan karakternya untuk meraih sebilah pedang dari belakang tubuhnya. Ecline : "Wah, wah, wah... Aku tidak menyangka akan bertemu pemain peringkat pertama di tempat ini. Apa ini hari keberuntunganku?! Hahaha" One-Ed : "Aku ingin menyerahkan item senjata yang kau gunakan itu kepadaku." Ecline : "Menyerahkannya?! Apa kau bercanda?!" One-Ed : "Tidak seharusnya senjata semacam itu ada di dalam game ini...." Ecline : "Bagaimana kalau kau saja yang menyerahkan semua item yang kau gunakan itu kepadaku?" One-Ed : "Jika kau tidak mau menyerahkan item senjata itu secara baik-baik, aku akan merebut paksa item senjata itu dari tanganmu!" Karakter Pak Edwan langsung bergerak melesat menyerang Ecline. SLASH... SWING.... Dua tebasan berhasil mengenai tubuh Ecline yang tampak bar Health Point-nya berkurang lebih dari lima puluh persen. "Dampak serangan itu sangat besar, itupun bahkan tidak memakai skill..." ucap Yoland berdecak kagum melihat kekuatan dari karakter yang digunakan Pak Edwan. Ecline : "Percuma kau menyerangku, walaupun dampak seranganmu begitu besar, itu tidak akan bisa merubah hasil akhir." One-Ed : "Kita akan tahu siapa yang nantinya terakhir berdiri." Karakter milik Pak Edwan kembali menyerang Ecline. Namun, Ecline sempat menghindarinya dengan bergerak melompat mundur sambil melemparkan pedang sabitnya ke udara. Saat Ecline bergerak melompat mundur, dengan bersamaan muncul tulisan [The Malak Sudduction] yang menandakan bahwa Ecline menggunakan skill untuk menyerang karakter Pak Edwan. "Berhati-hati, Yah... Dia menggunakan skill itu lagi," ucap Sakti memperingatkan ayahnya. Dua lingkaran sihir berwarna hitam melesat ke arah karakter Pak Edwan. Dengan sigap Pak Edwan pun mengaktifkan mode berlari, lalu menggerakkan karakternya berlari menghindari dua lingkaran sihir berwarna hitam yang melesat ke arah karakternya. Namun, usaha Pak Edwan tidak berhasil karakter yang digunakannya telah terikat dalam dua lingkaran sihir berwarna hitam itu. Ecline : "Sepertinya pertarungan ini akan berakhir dengan cepat... Selamat tinggal si peringkat pertama...." Ecline bergerak mengulurkan tangannya untuk bersiap meraih pedang sabitnya yang tadi dia lempar ke udara. Namun, saat pedang sabit itu hampir di raih Ecline, tiba-tiba pedang sabit itu terpental dikarenakan terkena oleh sebuah peluru. "Siapa yang melakukannya?!" gumam Pak Edwan heran kemudian memutar pandangan kamera layar monitor ke arah darimana peluru itu berasal. Seorang pemain dengan karakter yang mengenakan pakaian ala steampunk berjalan mendekat ke arah di mana karakter Pak Edwan yang masih terjerat di dalam dua lingkaran sihir berwarna hitam berada. Tampak karakter itu memegang sebuah item senjata gabungan antara tembakan berjenis shootgun dan sebilah pedang. "Siapa dia?!" tanya Sakti heran menatap karakter itu. "Dia adalah pemain yang berada di peringkat kedua di bawah ayah, namanya adalah Se7en Amateur," jawab Pak Edwan memberitahu. "Hari ini aku melihat tiga pemain yang berada di peringkat tertinggi... Sangat luar biasa aku dapat melihat kalian bertarung," ucap Yoland berdecak kagum. Ecline : "Berani sekali kau mengganggu acaraku!" Se7en Amateur : "Memangnya kenapa? Apa kau takut denganku?" Ecline : "Sedikitpun aku tidak pernah takut dengan pemain manapun..." Se7en Amateur : "Ayo kita buktikan dengan bertarung..." Ecline langsung bergerak berlari ke arah pedang sabitnya yang tergeletak di atas tanah setelah tadi terlempar. Saat Ecline ingin mengambil pedang sabitnya itu, sebuah peluru kembali mengenai pedang sabit sehingga terpental semakin jauh. Ecline kembali mengejar ke mana arah pedang sabitnya berada. Namun, pedang sabit itu terus terpental karena serangan dari tembakan yang pelurunya mengenai pedang sabit itu. Ecline : "Berani sekali kau mempermainkanku!" Ecline mengabaikan pedang sabitnya, kemudian ia bergerak mengulurkan kedua tangannya ke arah atas. [Send to Hell] Ecline : "Bersiaplah dengan skill andalanku yang selanjutnya..." Sebuah pusaran lubang hitam yang ukurannya lumayan besar muncul tepat di atas Ecline berdiri dan membuat Health Point dua karakter yang berada di dekat pusaran lubang hitam itu perlahan berkurang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN