34. Dua Masa Depan

1599 Kata
Sakti, Anata, dan Yoland melihat ada dua jalur, yaitu jalur ke arah kiri dan yang satunya ke arah kanan. "Ke arah mana?" tanya Yoland. "Ke sana!" seru Sakti dan Anata bersamaan, tapi sembari menunjuk ke arah yang saling berlawanan. Sakti menunjuk ke arah kiri, sedangkan Anata menunjuk ke arah kanan. "Kanan!" ucap Anata. "Kiri!" sahut Sakti. "Kanan!" ucap Anata memaksa sembari berkacak pinggang dengan tatapan kesal ke arah Sakti. "I-iya, kanan..." sahut Sakti gugup pasrah mengiyakan ucapan Anata. "Nah! Begitu dong..." ucap Anata seketika tampak senyum menang dari raut wajahnya. "Ya sudah, kita ambil jalur sebelah kanan dulu, kita periksa satu per satu ruangan..." ucap Yoland, "Ayo!" ajak Yoland melangkah lebih dulu ke arah kanan menelusuri lorong lantai empat rumah sakit kemudian Anata mengiringi dari belakang. "Ya sudah..." ucap Sakti pelan sambil berjalan menyusul Yoland dan Anata. Semua ruangan di jalur kanan itu mereka masuki sampai di ujung jalur, tapi mereka belum menemukan ruangan tempat Pom dirawat. "Aku benar, kan..." ucap Sakti, "Pom tidak ada di sini..." sambung Sakti, "Ayo kita ke jalur yang satunya saja," ajak Sakti berbalik arah dan langsung melangkah lebih dulu menuju ke jalur kiri. "Ayo..." ucap Yoland kemudian bersama Anata menyusul Sakti. Setelah mereka melewati titik awal di tiga persimpangan dan menelusuri jalur kiri itu, mereka tak menemukan satu kamar pun di sepanjang jalur. "Sepertinya jalur di sini tidak ada ruangan," ucap Anata sambil berjalan bersama Sakti dan Yoland. Sakti, Anata, dan Yoland melihat seorang perawat wanita yang melintas dari sebelah kanan di ujung jalur. "Nah, di sana masih ada jalan..." ucap Sakti sembari menunjuk ke arah ujung jalur di mana perawat perempuan itu muncul. "Kita coba tanyakan kepada perawat itu saja," ucap Yoland kemudian mempercepat langkah kakinya menghampiri perawat yang berjalan ke arahnya. Sakti dan Anata pun ikut mempercepat langkah menyusul Yoland. "Maaf, Mbak... Di sana apa masih ada ruangan lagi?" tanya Yoland kepada perawat itu. Perawat itu menoleh ke belakang tepat ke arah ujung jalur dari mana ia muncul. "Kalau jalur sebelah kiri ada empat ruangan, tapi masih dalam tahap pembangunan, ruangan itu belum difungsikan," ucap Perawat. "Jadi, jalur sebelah kanan sudah beroperasi, kan?" tanya Yoland seketika. "Iya, tapi..." "Nah, ayo..." ucap Yoland seketika menoleh ke arah Sakti dan Anata, dan tak menghiraukan apa jawaban perawat itu. "Terima kasih, Mbak..." ucap Anata tersenyum ramah. "Iya..." sahut Perawat itu membalas senyum. Sakti, Yoland, dan Anata pun mempercepat langkah kaki mereka menuju ke ujung jalur dan langsung berbelok ke arah kiri. Setibanya mereka setelah berbelok ke kiri dari ujung jalur, mereka hanya melihat satu ruangan di sana yang tepat berada di ujung jalur dengan jarak sekitar 18 meter dari tempat Sakti, Anata, dan Yoland berdiri. "Apa benar Pom di sana?" tanya Anata ragu. "Kalau kita tidak memeriksanya, bagaimana kita tahu?" ucap Sakti. "Ayo," ajak Yoland melangkah lebih dulu menuju ruangan itu, kemudian diiringi oleh Sakti dan Anata. Setibanya Sakti, Anata, dan Yoland di depan ruangan di ujung jalur, Sakti mencoba membuka pintu ruangan itu, tapi tidak bisa. "Sepertinya pintu ruangan ini dikunci," ucap Sakti. "Itu ada jendela." Anata menoleh ke bagian atas pintu ruangan tepat ke arah kaca trasparan. Sakti dan Yoland saling menjingkitkan kaki mereka untuk melihat bagian dalam ruangan melalui jendela kaca itu. "Benar, Pom di rawat di dalam ruangan ini.." ucap Yoland. "Tapi, kenapa hanya dia yang sendirian di dalam ruangan ini?! Orang tuanya kemana?!" tanya Sakti heran. "Mungkin mereka sedang keluar mencari makanan untuk Pom," jawab Anata. "Apa yang kalian lakukan di sini!" Tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari belakang sehingga membuat Sakti, Anata, dan Yoland terkejut. "I-ini... Di dalam ruangan ini adalah teman saya, Dokter," ucap Sakti setelah melihat bahwa yang menegurnya dan temannya itu adalah seorang Dokter. "Kenapa pintu ruangan ini dikunci, Dok?" tanya Anata. "Sudah biasa bahwa ruangan isolasi pintunya harus selalu terkunci rapat, dan hanya orang-orang yang berkepentingan yang diperbolehkan untuk masuk," jawab Dokter itu. "Hah?! Kenapa Pom dirawat di dalam ruangan isolasi, Dok?!" tanya Sakti heran. "Teman kalian yang berada di dalam ruangan ini terbukti positif terinfeksi virus Covid-19," jawab Dokter. "Hah?!" Sontak Sakti, Anata, dan Yoland terkejut. "Jadi, kami tidak diperbolehkan menemui Pom, Dok?!" tanya Anata. "Teman kalian masih belum diperbolehkan untuk berkomunikasi jarak dekat, tapi jika kalian ingin bicara dengannya, kalian bisa ikut saya ke ruangan khusus agar kalian bisa berbicara dengan teman kalian itu," ucap Dokter. "Mau, Dok," jawab Sakti seketika. "Baiklah, ikuti saya," ajak Dokter kemudian melangkah mendekat ke arah pintu, lalu mengambil kunci dari kantong baju putihnya dan membukakan pintu. Dokter berbalik badan menatap Sakti, Anata, dan Yoland, "Kalian bertiga tunggu di sini sebentar, saya akan mempersiapkan tempat agar kalian bisa berbicara dengan teman kalian," ucap Dokter kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan. Sementara Sakti, Anata, dan Yoland menunggu di depan ruangan yang pintunya sudah terbuka itu. Tak lama kemudian, Dokter itu kembali menghampiri Sakti, Anata, dan Yoland yang masih berdiri menunggu di depan ruangan. "Silahkan masuk," ajak Dokter mempersilahkan Sakti, Anata, dan Yoland masuk ke dalam ruangan. Saat berada di dalam ruangan, Sakti, Anata, dan Yoland melihat dinding kaca yang membuat pembatas antara mereka dengan Pom. "Kalian bisa berkomunikasi menggunakan alat ini," ucap Dokter sembari menyerahkan tiga buah alat kecil yang bentuknya seperti sebuah earphone dengan mic kecil. Sakti, Anata, dan Yoland mengambil alat itu dan memangkan ke telinga mereka masing-masing. "Pom... Tes... Tes... Apa kau bisa mendengarku?" ucap Sakti berbicara melalui mic. Pom menggeliatkan tubuhnya yang masih berbaring di atas kasur rumah sakit itu. Kemudian Pom memiringkan badannya ke arah di mana Sakti, Yoland, dan Anata berdiri dari balik dinding kaca. Pom langsung berajak duduk di atas kasur, "Teman-teman!" ucap Pom terkejut sekaligus merasa senang saat melihat Sakti, Anata, dan Yoland yang datang menjenguknya. "Bagaimana keadaanmu sekarang, Pom? Apa sudah mendingan?" tanya Anata. Pom menampakkan senyum tipis melalui kedua bibirnya yang tebal, "Sedikit mendingan sih. Tapi, kata Dokter aku masih perlu isolasi selama tiga minggu sampai aku sudah dinyatakan negatif virus Covid-19," jawab Pom, "Bagaimana perkembangan Battle Network?" tanya Pom kemudian, "Sayang sekali saat ini aku belum bisa ikut berjuang bersama kalian," sambung Pom dengan raut wajah kecewa. "Kenapa kau belum bisa ikut berjuang?!" tanya Sakti. "Di dalam ruangan ini tidak difasilitasi komputer. Dokter bilang kalau saat ini komputer milik rumah sakit sedang diperbaiki," ucap Pom. "Tapi, menurut yang sudah aku temui, Battle Network buatan kita sudah bisa digunakan pada ponsel pintar," ucap Sakti. "Benarkah?! Aku akan mencobanya." Pom turun dari ranjang dan berjalan menuju meja kemudian mengambil ponsel pintarnya. Pom menekan tombol power untuk menyalakan ponsel pintarnya. Setelah beberapa detik menunggu logo awal merek dari ponsel pintarnya itu, seketika langsung muncul tampilan depan game Battle Network. "Kalian benar," ucap Pom tersenyum senang, "Wah, kalau begini aku tetap dapat ikut berjuang melawan virus Reinka-99 bersama kalian," sambung Pom. "Oh iya, apa kau tahu bahwa Rico saat ini juga sedang sakit?" tanya Yoland. "Rico sakit?! Benarkah? Pasti dia sakit karena terjangkit dariku..." ucap Pom seketika menundukkan kepalanya. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Pom. Lagian dokter juga belum memastikan bahwa Rico terjangkit virus," ucap Sakti. "Bagaimana kalau kau mencoba bermain menggunakan ponselmu itu..." ucap Anata mengalihkan pembicaraan. "Benar kata Anata... Oh iya, kami juga sudah membuat akun baru," tambah Yoland. "Akun baru?! Kenapa dengan akun lama kita?!" tanya Pom heran. "Akun lama kita dengan otoritas Game Master sudah dirusak oleh Ecline, itulah penyebab semua serangan dari karakter kita tidak berdampak apapun pada virus," jawab Sakti. "Jadi, aku harus memulai dari awal?" tanya Pom. "Tentu saja, lagipula bermain dari awal lebih mengasikkan daripada bermain sejak awal sudah menggunakan karakter dengan kemampuan hebat," jawab Yoland. "Tenang saja, kami akan membantumu untuk meningkatkan level," ucap Sakti. "Bagaimana kalau sekarang saja kita berburu?" tanya Pom mengajak. "Sebenarnya aku sangat ingin, tapi aku lupa membawa ponselku," jawab Sakti. "Aku juga tidak membawa ponsel," tambah Anata. "Iya, aku juga lupa," sahut Yoland ikut menambahkan. "Begini saja, bagaimana nanti malam kita berkumpul di stadion lagi?" tanya Yoland. "Tapi, kalau di sana, apa kita tidak bertemu pemain bernama Reazura dan Reanko itu lagi?!" tanya Anata mengingatkan. "Siapa Reazura dan Reanko?" tanya Pom. "Dua pemain itu sangat ingin memiliki item legenda milik Ketua," jawab Sakti. "Pedang legenda?!" Pom mengerutkan keningnya, "Pedang apa itu?" tanya Pom penasaran. "Namanya pedang legenda itu adalah Calibrex," jawab Yoland. "Wah, sepertinya pedang itu memiliki kekuatan yang hebat," ucap Pom, "Eh! Tunggu sebentar... Bagaimana mungkin di dalam Battle Network terdapat item legenda? Sedangkan kita tidak pernah menginput data tentang jenis item itu, kan?!" "Sistem otorisasi game Battle Network buatan kita saat ini sudah berhasil dibobol oleh Ecline, dan sepertinya memang dia sendiri yang menginput data itu," jawab Yoland. "Jika Ecline memang sehebat itu, kenapa dia tidak menghancurkan game Battle Network? Bukankah jika dia berhasil membobol sistem otorisasi, dia pasti bisa dengan mudah menghapus semua data game?!" tanya Pom. "Memang benar dia dengan sangat mudah bisa menghapus semua data game, tapi sepertinya dia memiliki rencana dan game Battle Network bisa membantunya melancarkan rencananya," jawab Sakti. "Oh, seperti itu ya... Jadi, ada dua pilihan masa depan yang nantinya akan dihadapi Battle Network, antara menjadi anti-virus atau menjadi sarana penguat virus itu sendiri," ucap Pom. 'Ting... Ting...' Terdengar suara lonceng dari depan ruangan isolasi di mana Sakti, Anata, dan Yoland yang sedang menjenguk Pom berada. "Waktu berkunjung sudah hampir habis, sebaiknya kalian pulang sebelum semua pintu rumah sakit ditutup," ucap seorang perawat wanita berdiri di depan pintu. "Sebaiknya kalian pulang. Jika kalian terlambat keluar, kalian akan terkunci di dalam rumah sakit ini semalaman," ucap Pom. Sakti pun mengangguk, "Ya sudah, cepat sembuh ya, Pom," ucap Sakti seraya menyunggingkan senyumnya ke arah Pom. "Terima kasih teman-teman sudah mau menjengukku di sini," ucap Pom. Sakti, Anata, dan Yoland pun keluar dari ruangan isolasi di mana Pom dirawat. Kemudian mereka langsung menuju lift.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN