33. Keluhan Para Pemain

1723 Kata
Sakti menjalankan mobil berwarna merah maron milik ayahnya menuju ke rumah kediaman Yoland. Ding... Dong.... Sakti menekan bel depan pagar tempat tinggal Yoland. 'Bbtttsssstt....' Terdengar suara dari sebuah alat berbentuk kotak berwarna hitam dengan satu bulatan speaker yang menempel pada tihang pagar tempat tinggal Yoland. 'Siapa ya?' Terdengar lagi suara laki-laki dari alat itu. Sakti menekan sebuah tombol kecil warna biru pada alat berbentuk kotak berwarna hitam itu kemudian mendekatkan mulutnya pada alat itu. "Saya Sakti, temannya Yoland," ucap Sakti. 'Oh! Nak Sakti, ya...  Sebentar saya bukakan pagarnya.' "Tidak usah, Pak... Saya menunggu di luar saja," jawab Sakti dengan sopan. 'Ya sudah, saya akan panggilkan Yoland dulu.' Tak lama kemudian pagar depan rumah kediaman Yoland perlahan terbuka sedikit. Yoland berjalan keluar melalui celah pagar yang terbuka itu, lalu menuju ke arah alat berbentuk kotak berwarna hitam yang menempel di tihang pagar di depan rumah kediamannya. Yoland menekan tombol kecil berwarna biru pada alat itu sembari mendekatkan mulutnya dengan alat itu. "Aku sudah berada di luar, tolong tutup kembali pagarnya ya, Pak..." ucap Yoland. 'Siap...!' Pintu pagar pun bergerak otomatis perhalan menutup. "Ayo..." ajak Sakti mempersilahkan Yoland untuk masuk ke dalam mobil. Setelah menjemput Yoland, Sakti pun langsung meluncur ke rumah kediaman Anata yang sejak tadi sudah bersiap menunggu jemputan. *** Terdengar suara bel dari pintu depan rumah kediaman Anata. "Nah, sepertinya itu Nak Sakti sudah datang," ucap Tante Kina, "Sebentar, ibu membukakan pintunya dulu." Tante Kina pun berjalan ke arah pintu depan dan membukakan pintu dan melihat Sakti bersama Yoland berdiri di depan pintu. "Nah, benar kan?" ucap Tante Kina kemudian menoleh ke belakang tepat ke arah kursi sofa di mana Anata bersama Pak Ardi duduk, "Anata... Ini Nak Sakti-nya sudah datang....!" seru Tante Kina. Anata pun izin pamit kepada Pak Ardi dan Tante Kina, kemudian ia langsung berangkat bersama Sakti dan Yoland menuju rumah sakit bernama Elang Hospital. "Sakti, bukankah kamu itu dari keluarga yang kaya raya?!" Yoland dengan serius menatap Sakti, "Apalagi pak Edwan ayahmu itu punya perusahaan besar di luar negri. Kenapa kamu tidak minta bantuan kepada ayahmu?!" tanya Yoland saat ia bersama Sakti dan Anata masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. "Bagaimana ya... Sebenarnya aku juga sudah menjelaskan kepada ayahku bahwa saat ini Battle Network masih dalam tahap pengembangan. Namun, terkendala dengan perangkat lunak yang kurang lengkap...." jawab Sakti sembari tatapannya tetap fokus pada jalan saat menyetir mobil berwarna merah maron milik ayahnya. "Lalu bagaimana respon ayahmu setelah mendengar penjelasanmu?" tanya Yoland lagi. Sakti menggeleng, "Ayahku tidak bisa membantu, karena perusahaan milik ayahku saat ini sedang terhenti karena keberadaan virus Reinka-99 yang membuat semua pekerjaan karyawan ayahku terganggu," jawab Sakti kemudian tampak senyum di wajahnya, "Tapi, aku merasa bersyukur bahwa ayahku saat ini tidak bisa membantu...." sambung Sakti. "Hah?! Bersyukur?!" ucap Yoland heran. "Perusahaan ayahnya terhenti, kamu malah bersyukur...." sahut Anata yang duduk di samping Sakti. "Tentu saja aku bersyukur," ucap Sakti lagi, "Karena seandainya perusahaan ayahku saat ini masih berjalan, mungkin aku masih jadi laki-laki yang manja dan pasti ayahku akan langsung membantu..." sambung Sakti. "Maksudnya?!" Anata heran tidak faham dengan apa yang diucapkan Sakti. "Maksudku, kalau tidak dalam kondisi seperti ini, kepribadianku tidak akan berkembang lebih dewasa karena selalu mengandalkan kekuatan ayahku...." jawab Sakti, "Karena dalam kondisi ini juga aku tahu bagaimana rasanya berjuang dengan kemampuan sendiri," tambah Sakti. Anata dan Yoland pun terseyum bangga menatap ke arah Sakti. "Kau itu laki-laki yang luar biasa," ucap Yoland kagum. "Waah, jangan begitu... Nanti leher bajuku tambah besar..." sahut Sakti tersenyum malu. Setelah hampir lima belas menit, akhirnya mobil berwarna merah maron yang dikendarai Sakti pun berhenti tepat di parkiran rumah sakit Elang Hospital. Sakti, Anata, dan Yoland pun turun dari mobil dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah sakit. "Di mana meja resepsionisnya?!" tanya Sakti menoleh ke kanan dan ke kiri saat ia bersama Anata dan Yoland sudah berada di dalam bagian depan rumah sakit. "Sepertinya di sana di dekat tempat pengambilan resep..." ucap Yoland menunjuk ke arah kanan tepat ke arah sebuah ruangan yang bertuliskan Apotek yang berjarak sekitar delapan meter dari ia bersama Sakti dan Anata berdiri, dan di samping ruangan Apotek itu terdapat meja panjang yang di belakangnya berdiri dua orang wanita berpakaian perawat. "Iya, benar di sana," sahut Anata membenarkan. Sakti, Yoland, dan Anata pun berjalan menghampiri dua perawat yang berdiri di belakang meja panjang itu. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah seorang perawat setelah Sakti, Anata, dan Yoland tiba di hadapannya. "Maaf, Mbak... Apa saya boleh tahu di mana ruangan atas nama Pom di rawat?" tanya Anata. "Lia, tolong kamu periksa ruang rawat atas nama Pom," ucap perawat itu menyampaikan kepada rekannya yang berdiri di samping kanannya. "Pom ya... Sebentar saya cek." Perawat bernama Lia itu mengambil sebuah buku tebal dan memeriksa daftar nama pasien. Beberapa menit pun berlalu, tapi Perawat Lia belum juga menemukan pasien atas nama Pom. Perawat Lia menoleh ke arah kiri menatap rekannya, kemudian ia menggeleng lalu menatap ke depan tepat ke arah Sakti, Anata, dan Yoland. "Maaf, saya tidak menemukan pasien atas nama Pom dalam daftar." Sontak Sakti, Anata, dan Yoland menjadi heran. "Tolong diperiksa lagi, mungkin ada nama yang terlewat, Mbak..." ucap Sakti tidak percaya. Perawat bernama Lia itu pun kembali memeriksa lembar per lembar pada buku daftar pasien dan mencari pasien atas nama Pom. "Saya tidak menemukannya," ucap Perawat bernama Lia itu. "Tapi, kata orang yang di dekat rumahnya, Pom dirawat di rumah sakit ini, Mbak," ucap Anata. "Ini sudah saya cek dua kali, tapi tidak ada pasien atas nama Pom dalam daftar," sahut Perawat bernama Lia itu. "Kalau ruangan khusus untuk gangguan pernafasan seperti ashma di mana, Mbak?" tanya Sakti. "Ruangannya ada di lantai empat," jawab Perawat bernama Lia itu dengan sopan. "Ayo," ajak Sakti. "Mau ke mana?" tanya Anata, "Bukankah kita belum tahu di ruangan mana Pom dirawat?!" "Sakti benar, lebih baik kita cari sendiri... Mungkin saja nama Pom itu hanya nama panggilan bukan namanya yang sebenarnya," sahut Yoland menjelaskan. "Iya..." ucap Sakti mengangguk, kemudian ia menatap dua perawat di depannya, "Terima kasih ya, Mbak..." sambung Sakti. "Sama-sama," sahut dua perawat itu bersamaan. Sakti, Anata, dan Yoland pun menuju lift untuk membantu mereka sampai di lantai empat rumah sakit. Saat di dalam lift, Sakti, Anata, dan Yoland tidak sengaja melihat seorang anak laki-laki yang usianya sekitar dua belas tahun sedang asik bermain Battle Network menggunakan ponsel pintarnya. "Sepertinya anak itu sangat menikmati permainan yang kita buat," bisik Sakti lirih kepada Yoland. "Iya, semoga saja semakin banyak orang yang memainkannya, dengan begitu dapat semakin menekan pertumbuhan virus," balas Yoland berbisik kepada Sakti. "Andai saja aku bisa mendapatkan item legenda, perburuanku pasti akan lebih mudah..." ucap anak laki-laki itu sambil memainkan Battle Network pada ponsel pintarnya. Sakti, Anata, dan Yoland pun mendengar langsung keluhan dari para pemain dengan diwakilkan oleh anak laki-laki itu. "Item legenda ya..." gumam Sakti sembari menganggukkan kepalanya. 'Ting...' Lampu di samping pintu di dalam lift menyala pada nomor enam, yang artinya Sakti, Anata, dan Yoland telah berada di lantai enam rumah sakit. Pintu lift terbuka dan anak laki-laki yang tadi bermain Battle Network pun langsung berjalan keluar dari lift. Sementara Sakti, Anata, dan Yoland masih berada di dalam lift. "Astaga! Aku lupa kalau kita belum menekan tombol lantai empat..." ucap Sakti. "Sebenarnya aku juga lupa..." sahut Yoland. "Hedeh, aku kira kalian sudah menekan tombolnya," ucap Anata sembari menekan tombol nomor empat yang berada pada samping pintu dalam lift. Pintu lift-pun perlahan menutup. Namun, dari kejauhan tampak seorang laki-laki yang berlari ke arah lift. Sakti menahan pintu lift agar tetap terbuka saat melihat laki-laki yang sepertinya tergesa-gesa menuju lift. Saking cepatnya laki-laki itu berlari, dia pun tidak sempat mengurangi kecepatan sehingga menabrak tubuh Sakti dan saling terjatuh. "Aduuh!" jerit Sakti kemudian perlahan berdiri. "Maaf, maaf, aku tidak sempat nge-rem lagi... Sekali lagi aku minta maaf," ucap laki-laki itu. "Iya, tidak apa-apa," sahut Sakti ramah sembari menepuk-nepuk baju dan celananya. "Terima kasih ya karena kamu sudah mau menahan pintu lift-nya," ucap laki-laki itu kepada Sakti setelah ia berdiri, dan Sakti pun mengangguk sambil tersenyum ramah ke arah laki-laki itu. Pintu lift perlahan kembali menutup. Laki-laki itu mengulurkan jabat tangan kepada Sakti, "Kenalkan, namaku Hier," ucap laki-laki itu mengenalkan diri. "Hah?! Hier`," ucap Sakti heran dengan nada kebarat-baratan. "Bukan bahasa inggris yang artinya 'di mana', tapi Ha-i-e-er..." ucap Hier mengejakan satu per satu huruf pada namanya. "Ooh, Hier." Sakti menyambut jabat tangan Hier, "Namaku Sakti, lalu mereka berdua adalah temanku," ucap Sakti mengenalkan dirinya kemudian menoleh ke arah Anata dan Yoland. "Kenalkan, aku Anata...." ucap Anata mengulurkan jabat tangan kepada Hier. "Salam kenal," ucap Hier seketika melepaskan jabat tangannya dengan Sakti dan langsung menyambut jabat tangan dari Anata. "Eeh!!" Sakti heran dan merasa kesal dengan tingkah Hier yang genit kepada Anata. Sakti langsung menarik tangan Yoland dan menjabatkan tangan Yoland dengan tangan Hier setelah melepaskan jabat tangan Anata dengan Hier. "Kenalkan, ini Yoland," ucap Sakti. "Salam kenal," ucap Yoland. "Oh iya, salam kenal..." sahut Hier. "Kamu mau kemana? Sepertinya terburu-buru," ucap Anata bertanya. "Sebenarnya aku ingin segera pulang karena ada janji dengan teman-temanku, kami ingin main Battle Network bersama-sama," jawab Hier. "Wah, sepertinya Battle Network saat ini sangat populer ya..." ucap Sakti. "Faktanya sih memang begitu, mungkin karena hanya game itu yang saat ini dapat dimainkan," sahut Hier. "Eh... Iya ya, kau benar," ucap Sakti tersenyum malu sambil menggaruk bagian belakang lehernya. 'Ting...' Lampu pada lift menyala pada nomer empat yang menunjukkan mereka sudah tiba di lantai empat rumah sakit. Pintu lift pertahan membuka. "Kamu duluan, ya," ucap Yoland pamit kepada Hier. "Iya, sekali lagi aku minta maaf, dan sangat berterima kasih sudah mau menahan pintu lift untukku," ucap Hier lagi. "Iya, bukan apa-apa kok," sahut Sakti. Sakti, Anata, dan Yoland bersama-sama keluar dari lift dan pintu lift pun kembali menutup perlahan. Sementara itu di dalam lift, tampak senyum licik menyeringai dari raut wajah Hier. "Bagus... Aku sudah mendapatkan datanya," ucap Hier sembari menatap sebuah alat yang bentuknya mirip dengan sebuah ponsel jadul, tapi tidak tebal seperti ponsel jadul. Pada alat itu terdapat sebuah papan panel berwarna biru dengan garis hitam. Hier mendekatkan alat itu dengan mulutnya, "Tuan, saya sudah berhasil mendapatkan data laki-laki bernama Sakti itu. Ternyata memang benar bahwa dia adalah anak tunggal dari Edwan," ucap Hier. 'Kalau begitu, kau terus awasi dia dan teman-temannya. Nanti aku akan memberikan instruksi selanjutnya.' Terdengar suara laki-laki dewasa dari alat yang dipegang Hier. Sepertinya Hier sedang berbicara dengan seseorang melalui alat yang dia pegang itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN