32. Elang Hospital

1097 Kata
Sakti mengintip melalui celah jendela belakang rumah kediaman Pom. Namun, hanya gelap yang dilihat Sakti. Dari tepi jalan, tampak seorang kakek berseragam hansip yang melintas di depan rumah kediaman Pom. Kakek itu menoleh ke arah belakang rumah kediaman Pom, ia merasa curiga karena mendengar suara berisik dari arah belakang rumah kediaman Pom itu. Kakek itupun mendatangi ke arah asal suara berisik itu. "Siapa kalian? Mau mencuri ya!" bentak kakek berseragam hansip itu saat melihat tiga orang, mereka tak lain adalah Sakti, Yoland, dan Anata. "Eh, tidak! Kami bukan pencuri, Pak," sahut Anata seketika. "Iya, kami bukan pencuri!" imbuh Sakti. "Kalau kalian bukan pencuri, lantas kenapa gelagat kalian seperti mau masuk ke dalam rumah ini diam-diam?!" tanya kakek berseragam hansip itu dengan tatapan penuh selidik. "Sebenarnya kami bertiga adalah temannya Pom, Pak Jono," jawab Anata seketika menyebutkan nama kakek berseragam hansip itu setelah membaca tulisan nama pada seragam beliau. "Pom?!" Pak Jono mengerutkan kedua keningnya. "Iya, teman kami Pom tinggal di sini, kan?" tanya Yoland. "Benar, Nak Pom memang tinggal di sini. Eh! tunggu sebentar!" Pak Jono menoleh ke arah Anata, "Kamu... Darimana kamu tahu kalau nama saya Jono?!" "Ya jelas saya tahu, Pak... Itu...." jawab Anata kemudian menunjuk dengan mulutnya ke arah tulisan nama pada seragam hansip Pak Jono. "Eh." Pak Jono menunduk melihat tulisan namanya pada seragam hansip yang ia kenakan, "Iya, saya lupa kalau nama saya tertera di sini..." ucap Pak Jono tersenyum malu. "Aduuh, Bapak ini..." Sakti menggelengkan kepalanya, "Lalu, apa Pak Jono tahu di mana Pom? Apakah dia dan keluarganya pindah rumah?!" tanya Sakti. "Tidak, mereka tidak pindah rumah," jawab Pak Jono. "Lalu, kenapa sejak kemarin malam suasana rumah ini sepi sekali, Pak?" tanya Sakti. "Iya... Teman kalian yang badannya gemuk itu sekarang ini sedang dirawat di rumah sakit..." jawab Pak Jono. "Hah?! Pom dirawat?!" Sakti, Yoland, dan Anata serentak terkejut. "Pom sakit apa? Kenapa dia bisa sampai dirawat di rumah sakit?!" tanya Sakti khawatir. "Kemarin lusa setelah saya menemukan Pom tergeletak pingsan di depan rumah. Nah, saya panik, kemudian langsung saya panggil orang tuanya di dalam rumah. Kami pun menggotong nak Pom ke dalam rumah dengan susah payah karena badannya terlalu gemuk. Kemudian dokter datang setelah ayahnya Pom meminta untuk datang dan memeriksa Pom. Dokter pun mengatakan bahwa penyakit ashma Pom sedang kumat karena dia terlalu banyak makan makanan ringan seperti snack. Dokter pun menyarankan agar Pom cepat-cepat dibawa ke rumah sakit karena saat itu kebetulan stok oksigen milik dokter sedang kehabisan. Setelah itu, saya dan orang tua Pom membawa Pom ke rumah sakit," jelas Pak Jono menceritakan. "Apa Bapak bisa memberitahu kami di rumah sakit mana Pom dirawat?" tanya Sakti. "Sebentar...." Pak Jono mengingat nama rumah sakit di mana Pom dirawat, "Saya lupa nama rumah sakitnya... Kalau tidak salah, Rajawali atau Elang ya?!" "Rajawali?! Elang?! Maksud Bapak, saya tidak mengerti...." ucap Yoland bingung. "Itu nama rumah sakitnya, saya lupa..." sahut Pak Jono. "Ooh, kalau Rumah Sakit Rajawali tidak ada di kota ini, Pak. Tapi, kalau Elang Hospital ada..." ucap Anata. "Nah iya, benar namanya Elang Hospital," sahut Pak Jono seketika membenarkan. "Kalau ruangannya?! Bapak ingat?" tanya Anata. "Duh!" Pak Jono menepuk dahinya, "Saya juga lupa, Neng... Maklum usia sudah senja begini rezeki sedikit-sedikit udah diambil sama yang di atas," ucap Pak Jono. "Lalu bagaimana kita tahu ruangan Pom dirawat?" tanya Sakti. "Kita kan, bisa menanyakannya kepada resepsionis daftar pasien yang dirawat di sana..." jawab Yoland. "Oh iya ya." Sakti tersenyum malu sembari menggaruk bagian belakang lehernya. "Kapan kita bisa menjenguk Pom?" tanya Anata. "Sebaiknya nanti malam saja, aku bisa meminjam mobil ayahku untuk kita pergi ke rumah sakit," jawab Sakti. *** Matahari telah bertukar posisinya dengan bulan yang terlihat bulat dan bersinar lembut dengan ditemani beberapa bintik cahaya bintang yang kerlap-kerlip mengelilingi bulan. Malam itu Anata tengah bersiap-siap menunggu kedatangan Sakti yang akan menjemputnya untuk pergi menjenguk Pom di rumah sakit. Pak Ardi berjalan dari arah kamar menuju ruang tamu dan menghampiri Anata. "Kamu mau kemana, Anata?" tanya Pak Ardi ayahnya Anata. "Aku mau ke rumah sakit, Yah," jawab Anata. "Loh?! Memangnya siapa yang sakit?" tanya Tante Kina yang ternyata juga ikut menghampiri Anata di ruang tamu. "Temanku Pom, Bu..." jawab Anata. "Pom?!" "Dia temanku yang badannya gemuk itu loh, Yah..." jelas Anata. "Ooh, teman kamu yang badanya gemuk itu..." Pak Ardi mengangguk, "Memangnya dia sakit apa?" tanya Pak Ardi. "Katanya sih penyakit ashmanya kambuh, Pah," jawab Anata. Pak Ardi mengangguk, "Semoga teman kamu itu cepat sembuh..." ucap Pak Ardi, "Eh, tapi kamu ke sana dengan siapa?" sambung Pak Ardi bertanya. "Nanti Sakti yang jemput aku, Yah," jawab Anata. Pak Ardi mengangguk lagi, kemudian ia teringat bahwa tadi siang Bapak Walikota ingin mengundang semua anggota tim Trouble Maker termasuk Anata anaknya untuk menemui Bapak Walikota. "Anata, besok Bapak Walikota ingin bertemu kamu dan teman-temanmu di kantor pusat," ucap Pak Ardi memberitahu. "Hah?!" Sontak Anata terkejut, dalam pikirannya seketika terlintas bahwa Pemerintah pusat setuju dan akan membantunya dan teman-temannya tentang pengajuan bantuan dana untuk pengembangan aplikasi Battle Network. "Jadi, orang-orang di kantor pusat sudah tahu dan percaya dengan fakta sebenarnya tentang virus Reinka-99, Yah?" tanya Anata tersenyum senang. "Ayah belum tahu pasti, tapi yang jelas Bapak Walikota ingin bertemu kalian... Ya semoga saja beliau menyetujui dengan pengajuan bantuan itu," jawab Pak Ardi. Sementara itu di rumah kediaman Sakti, tampak Sakti dan Pak Edwan ayahnya Sakti sedang duduk di ruang tengah. Mereka berdua seperti sedang membicarakan sesuatu. "Lalu, bagaimana dengan perusahaan Ayah?" tanya Sakti. "Ayah juga bingung, tapi mau bagaimana lagi. Soalnya semua kerjaan para karyawan ayah menggunakan komputer, dan ayah memutuskan untuk mengentikan perusahaan sementara waktu sampai komputer bisa digunakan lagi," jawab Pak Edwan, "Sebenarnya ayah sangat ingin membantu kalian, tapi kamu tahu sendiri bahwa perusahaan ayah sekarang masih belum jalan. Sedangkan kebutuhan pangan terus ada, jadi kita harus belajar berhemat dulu," sambung Pak Edwan. "Iya, aku mengerti, Yah..." Sakti mengangguk. "Bukannya kamu mau pergi menjenguk teman kamu di rumah sakit?" tanya Pak Edwan. "Astaga! Hampir saja aku lupa, Yah..." Sakti langsung beranjak berdiri, "Aku berangkat dulu ya, Yah..." ucap Sakti sembari berjalan cepat tergesa-gesa menuju pintu depan rumah kediamannya. "Kamu mau kemana, Sakti?!" tanya Bu Verita saat melihat Sakti anaknya tampak terburu-buru menuju pintu depan. "Kamu tidak usah khawatir, Sakti ingin menjenguk temannya yang dirawat di rumah sakit..." sahut Pak Edwan mewakilkan jawaban Sakti. "Pulangnya jangan larut ya, Sakti!" seru Bu Verita. "Iya, Bu..." sahut Sakti kemudian segera keluar dan langsung berjalan menuju ke arah mobil berwarna merah maron yang terparkir di halaman depan rumah kediaman Sakti. Sementara itu di kediaman rumah Anata tepat di ruang tamu, tampak Anata ditemani Pak Ardi dan Tante Kina menunggu kedatangan Sakti yang akan menjemputnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN