"Eemm... Maaf, kalian bisa tunggu di luar dulu dan biarkan saya melakukan tugas saya..." ucap Bapak Dokter dengan sopan mencegat Sakti dan Yoland yang ingin masuk ke dalam kamar Rico.
"Eh, oh iya..." Sakti pun menuruti ujar Dokter.
"Sudah aku katakan kalian jangan ikut..." ucap Anata, "Lebih baik kita menunggu di ruang tamu dulu sampai dokter selesai memeriksa Rico, lagian kalian berdua juga tidak bisa membantu apapun pada dokter...." sambung Anata mengejek.
"Iya, iya.... Aku hanya khawatir dengan keadaan Rico," ucap Sakti lirih.
"Kita berdoa yang terbaik saja, Sakti..." ucap Yoland menepuk bahu Sakti.
"Ayo..." ajak Anata dan Sakti pun mengangguk.
Mereka bertiga kembali ke ruang tamu dan menunggu di sana.
'JLEK!' Suara pintu kamar Rico terbuka dan dengan seketika Sakti beranjak berdiri.
"Sepertinya dokter sudah selesai memeriksa Rico, ayo kita ke sana," ajak Sakti.
Mereka bertiga pun kembali berjalan menuju ke kamar Rico.
Setibanya di depan pintu kamar, tampak Bapak Dokter bersama kakaknya Rico berdiri di sana.
"Bagaimana Rico?" tanya Yoland.
Namun, kakaknya Rico hanya diam.
"Teman kalian Rico saat ini sedang mengalami gejala Covid-19, tapi saya belum bisa memastikan karena saya belum melakukan tes SWAB pada Rico," jawab Bapak Dokter.
"Hah?! Rico terinfeksi gejala virus Covid-19?!" gumam Anata dalam hati.
"Baiklah." Bapak Dokter menoleh ke arah kakaknya Rico, "Saya harap wali dari Rico bersedia menandatangani surat ini agar saya bisa segera melakukan tes-nya," ucap Bapak Dokter sembari menyerahkan selembar kertas yang sebelumnya dia ambil dari dalam tas kerjanya.
"Baik, Dok... Nanti saya minta ayah atau ibu saya untuk menandatagani ini," ucap kakaknya Rico dan dibalas dengan anggukan oleh Dokter.
"Apakah kalian bertiga teman dekat Rico?" tanya Bapak Dokter.
"Iya, benar, Dok," jawab Sakti seketika.
"Kalau begitu, kalian juga minta kepada orang tua kalian untuk menandatangani surat ini." Bapak Dokter juga menyerahkan kertas kepada Sakti, Yoland, dan Anata, yaitu kertas yang sama seperti kertas yang ia berikan kepada kakaknya Rico.
"Ma-maksud Pak Dokter?! U-untuk apa surat ini, Dok?!" tanya Yoland bingung.
"Surat izin untuk orang tua kalian agar saya juga bisa melakukan tes SWAB kepada kalian," jawab Bapak Dokter, "Jika semua surat sudah ditandatangani, kalian bisa datang ke tempat praktek saya dan membawa surat ini," sambung Bapak Dokter.
"Jika salah satu dari kami ada orang tua yang tidak setuju bagaimana, Dok?" tanya Yoland.
"Maka saya tidak bisa melanjutkan pemeriksaan kepada Rico," jawab Bapak Dokter.
"Tapi, kami bertiga tidak sakit, Dok... Hanya Rico yang saat ini sedang sakit," ucap Sakti.
"Memang benar saat ini kalian tidak sakit, tapi bukankah kalian mengakui bahwa kalian adalah teman dekat Rico. Nah! Saya tidak ingin mengambil risiko kalau kalian bisa bebas berkeliaran karena saya belum bisa memastikan apakah kalian juga terinveksi virus itu..." jelas Bapak Dokter, "Virus dapat menyebar melalui benda apapun selama si pengidap menyentuh benda itu," sambung Bapak Dokter.
Yoland mengangguk mengerti, "Baik, Dok.. Secepatnya besok kami akan ke tempat prakter Bapak Dokter...." ucap Yoland.
"Mau bagaimana lagi, semua demi keselamatan orang-orang di sekitar kita, khususnya untuk keselamatan orang yang kita cinta dan sayangi..." imbuh Sakti.
"Nah, saya bangga dengan kalian..." ucap Bapak Dokter.
"Bangga kenapa, Dok?!" tanya Anata heran.
"Hampir delapan puluh persen orang yang saya minta untuk melakukan tes SWAB menolak, sembilan belas persen orang lainnya pasrah untuk melakukan tes SWAB demi formalitas, dan saya menemukan satu persen yaitu kalian bertiga yang bersedia melakukan tes SWAB dengan alasan keselamatan orang-orang sekitar kalian..." jelas Bapak Dokter, "Ya sudah, saya pamit undur diri dulu karena masih ada beberapa pasien yang tersisa untuk saya periksa," ucap Bapak Dokter.
"Baik, Dok," ucap Kakaknya Rico tersenyum, "Terima kasih sudah mau memeriksa adik saya, Dok," sambung kakaknya Rico.
Bapak Dokter pun menuju pintu depan rumah dengan diantarkan oleh kakaknya Rico dan diikuti oleh Sakti, Anata, dan Yoland dari belakang.
"Ya sudah, Kak. Kami juga mau pamit pulang dulu, Kak," ucap Anata.
"Iya, terima kasih ya sudah mau menjenguk Rico.." sahut kakaknya Rico tersenyum.
Sakti, Anata, dan Yoland pun melangkah keluar dari rumah kediaman Rico. Mereka berjalan sampai ke tepi jalan.
"Pom bagaimana ya?" ucap Sakti sembari berjalan.
"Kenapa kita tidak sekalian saja menjenguk Pom di rumahnya?" tanya Yoland.
"Tapi tempat tinggal Pom lumayan jauh dari sini, bagaimana kita ke sana?" tanya Anata.
"Mobil ayahku juga sedang digunakan ayah sekarang," ucap Sakti.
"Bukannya ayah kamu sekarang libur bekerja?" tanya Anata.
"Iya karena libur itulah, ayah tidak tahu kapan masalah dua virus dunia nyata dan maya ini akan berakhir, makanya beliau untuk sementara ini menjadikan mobil itu sebagai taksi," ucap Sakti.
"Maksudmu, taksi online?" tanya Yoland.
"Aku belum tahu. Tapi, bukankah tidak ada aplikasi lain lagi yang bisa digunakan selain Battle Network?! Lalu, bagaimana orang-orang yang profesinya sebagai ojek online atau taksi online ya??" jawab Sakti kemudian bertanya.
"Mungkin kembali seperti zaman dahulu, ojek dan taksi offline..." ucap Anata.
"Memang ada ojek offline dan taksi offline?!" tanya Yoland heran.
"Ada..." jawab Anata pasti.
"Sejak kapan?! Kenapa aku baru mendengar istilah itu?" tanya Yoland lagi.
"Sejak zaman dulu... Bukankah dahulu itu sudah ada ojek dan taksi? Sedangkan aplikasi untuk ojek online dan taksi online baru muncul tiga tahun lalu...." jelas Anata.
"Ya... Mereka memiliki pangkalan..." sahut Sakti.
"Astaga! Kenapa aku baru sadar yang kamu maksud itu adalah pangkalan ojek dan pangkalan taksi?" ucap Yoland tersenyum malu.
"Teman-teman, bagaimana ini? Apa kita harus berjalan kaki sampai ke rumah Pom?" tanya Sakti.
"Aku tidak mau, itu terlalu jauh...." sahut Anata.
"Tapi, kita harus tahu kabar Pom..." ucap Sakit.
"Kalau begitu, kenapa tidak kalian berdua saja yang pergi ke sana?! Aku mau pulang!" sahut Anata kesal.
"Iya, sebaiknya kamu pulang saja, Anata. Apalagi jalan menuju ke tempat tinggal Pom jaraknya lumayan jauh," ucap Sakti.
"Hhm! Aku pulang!" Anata langsung melangkah ke arah kiri menelusuri jalan yang tepat mengarah pulang ke rumah kediamannya. Sementara Sakti dan Yoland berjalan ke arah yang berlawaan, dan jalan itu mengarah ke rumah kediaman Pom yang jaraknya kurang lebih dua kilometer. Namun, tanpa diketahui oleh Sakti dan Yoland, ternyata Anata diam-diam mengikuti dari belakang.
Setelah sekitar empat puluh lima menit, akhirnya Sakti dan Yoland tiba di kediaman Pom.
"Suasananya masih sama seperti tadi malam," ucap Sakti pelan sambil memerhatikan bangunan rumah yang tampak sepi di hadapannya.
"Iya, masih sama seperti tadi malam... Kemana Pom dan keluarganya ya?!" Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang ternyata adalah Anata.
"Anata!" seru Sakti dan Yoland bersamaan.
"Bagaimana kamu bisa ada di sini?! Bukanka tadi kamu pulang?" tanya Sakit.
"Aku hanya bercanda, lagian tidak mungkin aku membiarkan temanku kenapa-kenapa, kan?!" sahut Anata, "Ayo kita selidiki apa yang terjadi di sini," ajak Anata berjalan lebih dulu menuju ke arah halaman belakang rumah kediaman Pom.