Setelah dilihat oleh Pak Ardi dan Tante Kina semua orang sudah keluar dari ruangan, Pak Ardi pun beranjak berdiri lalu berjalan menghampiri Bapak Walikota.
"Bagaimana kabar anak perempuanmu dan tim Trouble Maker-nya?" tanya Bapak Walikota seketika saat Pak Ardi tiba dan berdiri di samping tempat duduknya.
"Te-ternyata Bapak sudah mengetahuinya..." ucap Pak Ardi lirih.
"Apakah anda lupa bahwa negara ini juga memiliki tim ahli yang berkutat dalam bidang itu?! Atau anda hanya berpura-pura lupa?!" ucap Bapak Walikota.
Pak Ardi menundukkan kepalanya.
"Lalu, apa yang ingin anda sampaikan kepada saya?" tanya Bapak Walikota.
"Saya memiliki bukti kuat bahwa bukan tim hacker bernama Trouble Maker-lah yang melakukan semua itu, Pak..." ucap Pak Ardi.
"Sebentar... Sebentar... Saya tidak ada mengatakan bahwa mereka yang menyebabkan kasus ini karena para ahli masih dalam proses penelusuran," sahut Bapak Walikota, "Anda mengatakan bahwa anda memiliki bukti kuat tentang kasus insiden ini? Apakah anda bisa menjelaskannya kepada saya?"
"Baik, Pak... Saya akan menjelaskannya...."
Pak Ardi pun menjelaskan tentang penyebaran virus Reinka-99 yang menyebabkan insiden kegagal-fungsian semua perangkat elektronik yang memiliki fasilitas internet kepada Bapak Walikota.
"Lalu, apakah anda bisa menunjukkan bukti kuat yang mendukung fakta itu?" tanya Bapak Walikota setelah selesai mendengar penjelasan dari Pak Ardi.
"Baik, Pak..."
Pak Ardi mengambil ponsel pintarnya dari balik jas berwarna abu-abu yang ia kenakan.
"Untuk apa ponsel itu?" tanya Bapak Walikota heran.
"Saya akan membuktikan kepada Bapak bahwa memang benar semua ini karena ulah virus. Tapi, sebelum saya memulainya, saya ingin kembali menjelaskan bagaimana cara kerja virus itu sehingga bisa menginfeksi perangkat elektronik...." ucap Pak Ardi kemudian menjelaskan kepada Bapak Walikota tentang cara virus Reinka-99 bisa menginfeksi sistem perangkat eletronik melalui jaringan internet, dan jika Pak Ardi mengaktifkan layanan data internet pada ponsel pintarnya, maka secara otomatis ponsel pintar itu akan langsung terinfeksi oleh virus Reinka-99.
"Baiklah, tolong anda praktekkan," ucap Bapak Walikota.
Pak Ardi mengangguk, kemudian ia menyalakan ponsel pintarnya itu karena sebelumnya sudah ia matikan sebelum berangkat menuju rapat.
Beberapa detik kemudian ponsel pintar itu menyala dan tampak di layar depan menunjukkan tampilan beranda pada ponsel pintar.
"Bapak melihatnya, kan bahwa ponsel milik saya ini tidak terinfeksi virus karena masih dengan leluasa bisa saya gunakan..." Pak Ardi menarik jari telunjuknya dari atas ke bawah pada layar ponsel pintarnya untuk menampilkan 'Side Bar' dan menunjukkan bahwa memang benar layanan data internet pada ponsel pintar itu benar-benar tidak diaktifkan.
"Maaf, apa Bapak bisa melihatnya? Pada ponsel ini layanan data internetnya tidak saya aktifkan," ucap Pak Ardi, dan Bapak Walikota pun memerhatikannya dengan sangat serius.
"Sekarang akan langsung saya aktifkan layanan data internetnya..." ucap Pak Ardi seraya dengan perlahan dan dengan sedikit keraguan di hatinya menekan salah satu tombol pada layar ponsel pintar yang fungsinya untuk mengaktifkan layanan data internet.
Terdengar bunyi 'Klik' setelah Pak Ardi menekan tombol itu. Namun, tidak terjadi apa-apa pada ponsel pintar itu.
Dengan raut wajah heran sembari memiringkan kepalanya, Bapak Walikota merasa bahwa Pak Ardi hanya mempermainkannya.
"Tidak terjadi apapun?!" ucap Bapak Walikota, "Apa ini hanya gurauan anda?!" sambung Bapak Walikota sambil menggelengkan kepalanya.
"Tolong tunggu sebentar, Pak..." ucap Pak Ardi tampak gugup dari raut wajahnya karena tidak terjadi apa-apa pada ponsel pintarnya.
'Blak!' Bapak Walikota menghentakkan kedua telapak tangannya ke atas meja sembari beranjak berdiri.
"Sepertinya anda hanya mempermainkan saya..." ucap Bapak Walikota kemudian melangkahkan kaki kanannya untuk mulai berjalan.
"Tunggu, Pak... Tunggu sebentar lagi....." ucap Pak Ardi sehingga Bapak Walikota menghentikan langkahnya.
Suara deru tak beraturan mulai terdengar dan diiringi dengan beberapa bintik kecil berwarna abu-abu dan hitam mulai tampak pada layar ponsel pintar yang layarnya Pak Ardi arahkan ke arah Bapak Walikota.
Bapak Walikota pun mengerutkan kedua keningnya dengan rasa heran menatap layar ponsel pintar itu, "Benarkah apa yang saya lihat ini?!" gumam Bapak Walikota lirih.
Layar ponsel pintar itu sudah ditutupi oleh bintik abu-abu dan hitam, tampak seperti televisi yang kehilangan sinyal.
"Saya sudah menunjukkan buktinya kepada Bapak..." ucap Pak Ardi.
"Anda memang benar..." ucap Bapak Walikota sehingga tampak raut yang mulai tersenyum di wajah Pak Ardi.
"Tapi, saya tidak memiliki otoritas untuk mengambil keputusan. Biarkan para tim ahli yang nanti memutuskannya, karena saya sudah menyerahkan kasus ini kepada mereka...." sambung Bapak Walikota.
Pak Ardi mengangguk, "Apakah Bapak bersedia membantu saya jika yang saya tunjukkan ini terbukti benar?" tanya Pak Ardi.
"Membantu anda?!" Bapak Walikota mengerutkan kedua keningnya.
"Lebih tepatnya membantu tim Trouble Maker, karena saat ini merekalah yang sedang berjuang untuk mengembangkan program anti-virus khusus yang melawan virus itu," ucap Pak Ardi.
"Kalau saya boleh tahu, membantu dalam hal apa?" tanya Bapak Walikota.
"Anak saya mengatakan bahwa ia dan timnya memiliki kendala dalam mengembangkan program itu..." ucap Pak Ardi.
"Kendala apa?"
"Seperti yang mereka katakan, saat ini mereka masih berusaha mengembangkan program aplikasi yang bernama Battle Network, tapi terkendala oleh minimnya perangkat keras yang mereka gunakan," jelas Pak Ardi.
"Lalu?!"
"Saat ini mereka memerlukan bantuan dana untuk membeli perangkat keras tambahan yang nantinya akan mereka gunakan untuk memudahkan dalam proses pengembangan, Pak..." ucap Pak Ardi memberitahu.
Bapak Walikota mengangguk, "Apakah saya bisa bertemu dengan semua anggota Trouble Maker itu?" tanya Bapak Walikota.
"Ma-maksud Bapak?!" sahut Pak Ardi balik bertanya dengan raut wajah bingung.
"Besok saya tunggu mereka untuk menemui saya diruangan rapat ini lagi, bisa kan?"
"Si-siap, Pak...." jawab Pak Ardi.
"Baik, sekarang anda bisa pulang dulu dan beritahukan kepada semua anggota Trouble Maker untuk datang besok dan menemui saya di sini."
"Siap, Pak!" seru Pak Ardi tersenyum dan semangat.
Kemudian Pak Ardi berjalan menghampiri Tante Kina yang sejak tadi duduk menatap dan mendengar pembicaraan serius antara Pak Ardi suaminya dengan Bapak Walikota.
"Bagaimana?" tanya Tante Kina pelan setelah Pak Ardi menghampirinya.
Pak Ardi hanya mengangguk, "Ayo kita pulang..." ucap Pak Ardi.
Kemudian Pak Ardi dan Tante Kina pun bersama-sama melangkah menuju pintu keluar ruangan rapat yang berkelas VIP itu.
***
Sementara itu di dalam sebuah ruang tamu, tampak Sakti bersama Yoland, dan Anata yang sedang duduk pada sofa. Di depan mereka tersusun rapi beberapa piring yang berisi biskuit dan camilan lainnya.
Seorang perempuan berjalan dari arah dalam menuju ruang tamu dan menghampiri Sakti, Yoland, dan Anata di sana.
"Bagaimana keadaan Rico sekarang, Kak?" tanya Ana kepada perempuan yang ternyata adalah kakak perempuan Rico.
"Sepertinya Rico terkena demam, sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa kondisinya..." jawab perempuan itu.
Kemudian terdengar suara bel dari depan rumah kediaman Rico.
"Iya...." sahut kakaknya Rico seraya berjalan ke arah pintu dan membuka pintu itu, "Eh, dokter... Silahkan masuk, Dok..." ucap kakaknya Rico mempersilahkan setelah melihat seorang pria yang berpakaian putih dan menunjukkan bahwa ia adalah seorang dokter.
"Apa saya bisa langsung memeriksanya?" tanya Pak Dokter.
"Baik, Dok..."
Ketika Sakti, Anata, dan Yoland duduk di ruang tamu, mereka melihat Pak Dokter bersama Kakaknya Rico langsung berjalan menuju ke arah dalam rumah tepat ke kamar di mana Rico sedang berbaring. Seketika Sakti, Anata, dan Yoland pun ikut menyusul Pak Dokter dan Kakak perempuannya Rico menuju ke kamar Rico.