Waktu di jam dinding yang menempel pada dinding dalam sebuah ruangan terlihat sudah menunjukkan pukul dua belas tepat tengah hari.
Tampak Pak Ardi bersama istrinya yaitu Tante Kina yang sepertinya mereka sedang tergesa-gesa menyiapkan sebuah dokumen.
"Bagaimana? Apa masih ada berkas yang belum lengkap?" tanya Pak Ardi kepada Tante Kina istrinya.
"Ini sebentar lagi semua berkas akan lengkap...." sahut Tante Kina.
Tante Kina memasukkan beberapa lembar kertas yang diambilnya setelah keluar dari alat printer di atas meja di depannya ke dalam sebuah map tebal berwarna hitam yang bertuliskan 'Dokumen Rahasia'.
"Semuanya sudah siap..." ucap Tante Kina sembari beranjak berdiri dengan memegang map tebal berwarna hitam di tangan kanannya.
"Baik, kita langsung berangkat saja..." Pak Ardi beranjak berdiri kemudian bersama Tante Kina berjalan menuju ke arah pintu depan setelah keluar dari ruangannya.
Pak Ardi bersama Tante Kina berjalan menuju ke arah pintu depan kantor yang merupakan jalan keluar kantor.
"Maaf, Pak... Apa kita berangkat sekarang?" Tiba-tiba seorang laki-laki yang usianya kira-kira seusia dengan Sakti menghampiri dan mengiringi langkah Pak Ardi dan Tante Kina.
"Oh, Rendi... Iya, kita berangkat sekarang...." sahut Pak Ardi kepada Rendi sembari terus berjalan bersama Tante Kina menuju pintu depan.
"Baik, mobilnya sudah saya persiapkan, Pak." Rendi pun membukakan pintu depan kantor yang terbuat dari kaca tebal itu untuk mempersilahkah Pak Ardi dan Tante Kina ke luar.
Pak Ardi dan Tante Kina berjalan menuju mobil berwarna hitam yang mesinnya sudah lebih dulu dinyalakan oleh Rendi.
Pak Ardi dan Tante Kina masuk ke dalam mobil itu kemudian Rendi pun membawa mereka menuju kantor pemerintah pusat yang jaraknya sekitar delapan kilometer dari kantor tempat Pak Ardi dan Tante Kina bekerja.
Melalui cermin depan mobil, Rendi memperhatikan raut wajah Pak Ardi yang nampak cemas.
Rendi pun memberanikan diri untuk berbicara kepada Pak Ardi.
"Maaf, Pak.. Sepertinya ada sesuatu hal rumit yang sekarang sedang anda pikirkan..." ucap Rendi hati-hati.
"Rendi...!" tegur Tante Kina.
"Tidak apa-apa..." jawab Pak Ardi tenang, "Kamu benar, Rendi... Hal yang saya pikirkan saat ini sangatlah rumit, dan saya tidak tahu langkah apa yang harus saya ambil. Di satu sisi, jika saya memilih salah satu dari dua pilihan, maka pilihan yang tidak saya pilih akan menganggap saya tidak berguna. Sedangkan saya sudah berjanji akan menepati pada pilihan pertama...." ucap Pak Ardi menjelaskan.
"Apa ini bersangkutan dengan orang-orang di kantor pemerintah pusat, Pak?" tanya Rendi hati-hati.
Pak Ardi menghela nafas, "Kamu benar, tapi tidak hanya bersangkutan dengan mereka, melainkan hal itu bersangkutan dengan anak semata wayangku yang sebelumnya aku sudah berjanji akan menyampaikan kepada orang-orang di sana..." jawab Pak Ardi.
"Maksud Bapak, insiden tentang kerusakan perangkat elektronik yang sekarang ini terjadi berkaitan dengan anak Bapak?" tanya Rendi penasaran.
Pak Ardi mengangguk dan Rendi melihatnya dari pantulan cermin di depannya.
"Maaf sebelumnya, tapi ini hanya menurut pemikiran saya, Pak..."
"Iya?"
"Saat saya merasa ragu dengan dua pilihan di depan saya, artinya saya dipaksa untuk mempertimbangkan pilihan mana yang harus saya pilih, lalu langkah apa selanjutnya setelah saya memilih dari salah satu pilihan itu..." ucap Rendi.
"Mempertimbangkan? Langkah selanjutnya?" gumam Pak Ardi lirih kemudian raut wajahnya tampak langsung berpikir keras.
Tak lama kemudian, mobil berwarna hitam yang membawa Pak Ardi dan Tante Kina pun berhenti di sebuah parkiran khusus mobil yang berada di belakang bangunan besar. Bangunan ini merupakan gedung pemerintah pusat.
Pak Ardi dan Tante Kina bersiap untuk keluar dari mobil.
"Rendi, apa kamu bisa menunggu... Tapi, mungkin rapat yang satu ini akan memakan waktu lebih banyak karena ada hal yang khusus ingin saya bicarakan kepada salah satu orang di dalam sana...." ucap Pak Ardi setelah bersama Tante Kina keluar dari mobil.
"Beres, Pak..." sahut Rendi sembari mengacungkan ibu jarinya ke arah Pak Ardi.
Pak Ardi dan Tante Kina pun melangkah tergesa-gesa menuju koridor depan gedung dan langsung menghampiri seorang perempuan berseragam resepsionis yang berjaga di posnya.
"Atas nama siapa, Bapak, Ibu?" tanya perempuan itu.
"Ardi Rangga Riswandi dan Kinar Riswandi," jawab Pak Ardi.
"Oh, Bapak dan Ibu sudah ditunggu di ruangan VIP," ucap perempuan itu sembari mengarahkan tangannya dengan sopan ke arah kiri untuk mengarahkan Pak Ardi dan Tante Kina menuju ke ruangan VIP.
"Terima kasih," ucap Tante Kina kemudian lanjut berjalan menyusul Pak Ardi yang sudah melangkah lebih dulu memasuki jalur sebelah kiri yang merupakan jalur sebelah kanan dari sudut pandang Pak Ardi dan Tante Kina.
Pak Ardi dan Tante Kina akhirnya sampai di depan sebuah ruangan yang pada pintunya bertuliskan 'VIP'.
Pak Ardi perlahan membuka pintu itu, "Maaf, kami terlambat..." ucap Pak Ardi setelah membuka pintu dan melihat meja rapat yang berukuran panjang dengan dilapisi kain berwarna putih.
Satu orang pria dengan jas hitam yang sedang duduk pada satu kursi khusus, sedangkan orang-orang lainnya duduk di masing-masing kursi yang tersusun berjejer memanjang.
"Tuan Riswandi, saya pikir anda tidak mau datang..." ucap pria dengan jas hitam yang duduk pada satu kursi khusus itu sambil tersenyum menatap Pak Ardi dan Tante Kina, "Silahkan duduk..."
"Baik, Bapak Walikota..." ucap Pak Ardi kemudian bersama Tante Kina berjalan ke arah dua kursi kosong yang letaknya bedekatan.
"Bagaimana, Tuan Riswandi? Apakah anda sudah menyiapkan dokumennya?" tanya Bapak Walikota.
"Sudah, Bapak..." ucap Pak Ardi kemudian beranjak berdiri lalu membawakan sebuah map tebal berwarna hitam dan menyerahkan kepada Bapak Walikota.
Kemudian Pak Ardi kembali menuju tempat duduknya tepat di samping Tante Kina istrinya.
Bapak Walikota pun membuka dan memeriksa isi dari map tebal berwarna hitam itu.
"Begini, beberapa ahli yang sudah saya tugaskan untuk menangani masalah ini telah melaporkan hasilnya. Lalu, mereka menemukan dua kata yang merupakan nama dari salah satu komunitas hacker ilegal dari negara kita..." ucap Bapak Walikota.
"Apa dua kata itu, Pak?" tanya salah seorang yang ikut dalam rapat itu.
"*Trouble Maker*, mereka adalah salah satu komunitas kecil yang bergerak dalam masalah hacker. Mereka ini tidak terdaftar dalam otoritas penyeluncur jaringan negara, maka mereka dinyatakan sebagai komunitas ilegal..." jelas Bapak Walikota.
"Jadi, mereka-lah yang bertanggung jawab dengan masalah yang sekarang terjadi?" tanya salah seorang lagi yang duduk di paling ujung.
"Apakah bukti itu sudah sangat kuat, Pak?" tanya Pak Ardi.
"Semua masih dalam penyelidikan," jawab Bapak Walikota, "Jika tenaga para ahli di negara kita masih belum cukup, saya sebagai pemimpin di kota ini ingin melakukan pemungutan suara, apakah kasus ini akan kita serahkan kepada tim khusus yang sudah dipersiapkan oleh negara terkemuka, atau kita sembunyikan fakta ini." Bapak Walikota masih tampak tersenyum, "Tapi...." Raut wajah Bapak Walikota seketika berubah menjadi serius, "Kita tidak akan tahu kapan mereka yang dari negara lain mengetahuinya sendiri, dan hal ini akan berdampak buruk bagi negara kita dan negara sekutu. Mereka pasti berpikir negara kita sedang melakukan sesuatu yang akan merugikan seluruh dunia...." sambung Bapak Walikota.
"Perlu diketahui bahwa sudah hampir setengah dari jumlah seluruh negara di dunia mengalami masalah ini. Mereka pun pasti tidak akan tinggal diam dan akan menyelidikinya...." ucap Bapak Walikota lagi.
"Bukankah menurut hasil rapat kemarin, bahwa masalah ini merupakan murni dari ke-salah-teknis-an satelit di luar angkasa dan bumi?" tanya salah seorang lagi.
"Menurut analisa tim ahli, belum ada bukti kuat yang membenarkan fakta itu...." jawab Bapak Walikota, "Jadi, diharapkan kepada semua orang yang berada di dalam ruangan ini untuk berpartisipasi dalam memilih salah satu dengan suara kalian...." Bapak Walikota beranjak berdiri.
"Kertas dan bolpoin sudah tersedia di depan kalian, dan sudah tertera pada kertas itu pilihan pertama dan pilihan kedua yang efek akhirnya akan sama...." ucap Bapak Walikota.
Semua orang di dalam ruangan rapat VIP itupun memberikan suara mereka yang mereka salurkan melalui selembar kertas yang sudah disediakan.
Setelah semua orang sudah memberikan suaranya pada kertas itu, tampak seorang laki-laki berpakaian rapi dengan jas hitam dan celana hitam serta memakai kaca-mata yang juga berwarna hitam yang berdiri di sebelah kiri tempat duduk Bapak Walikota berjalan mengumpulkan kertas yang sudah diisi suara dari semua orang di dalam ruangan itu. Kemudian laki-laki itu kembali berjalan menghampir Bapak Walikota dengan membawa semua kertas yang telah dikumpulkannya dan menyerahkannya kepada Bapak Walikota.
"Baiklah, kita akhiri rapat hari ini... Kalian bisa langsung kembali ke kantor kalian masing-masing...." ucap Bapak Walikota.
Kemudian satu per satu orang di dalam ruangan rapat VIP itu berjalan ke luar.
Bapak Walikota menatap ke arah Pak Ardi dan Tante Kina yang belum beranjak dari tempat duduk mereka untuk menunggu semua orang keluar dari ruangan.