28. Fakta yang Berbeda

2352 Kata
"Ayo..." ajak Anata mengangkat kaki kanannya memasuki bus. "Anata! Tunggu....!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari orang yang tidak asing di telinga Anata tepat dari arah depan pintu kantor. Anata mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam bus kemudian bersamaan dengan Sakti dan Yoland berpaling ke arah asal suara itu dan mengetahui bahwa Pak Ardi-lah yang berteriak memanggil. "Pak Ardi?!" gumam Sakti. "Ayah?" Anata mengerutkan kedua keningnya, kemudian ia melangkah ke arah Pak Ardi ayahnya, dan Pak Ardi pun juga melangkah cepat ke arah Anata. "Tadi, bukannya kata tante Kina ayah sedang rapat?" tanya Anata heran. "Iya, ayah mempercepat rapatnya setelah tahu dari Kina bahwa kamu yang ingin menemui ayah...." jawab Pak Ardi. Pak Ardi menoleh ke arah Sakti yang berdiri di belakang Anata, "Nak Sakti... Kemari...." panggil Pak Ardi. "Heh?" gumam Sakti heran sembari melangkah dan berdiri di samping Anata, "I-iya, Om...." "Loh! Kok kamu masih manggil saya dengan sebutan 'om' sih?" "Eh, i-iya saya lupa..." Sakti menggaruk kepalanya, "Yah maksud saya," ucap Sakti tersenyum. "Nah, begitu dong...." Pak Ardi menepuk pundak kanan Sakti. Pak Ardi kembali menoleh ke arah Anata, "Ayah sudah berjanji kepada Nak Sakti dan juga teman-temanmu, jika mereka berhasil membuat hubungan ayah denganmu kembali baik maka ayah akan membantu kalian...." ucap Pak Ardi tersenyum. "Benarkah, Ayah?" tanya Anata seketika tersenyum. "Iya, ayah bersungguh-sungguh. Tapi, ada satu syarat lagi yang kamu harus lakukan..." ucap Pak Ardi. "Hah?! Syarat?" Raut wajah Anata seketika menjadi heran. "Sebentar...." Pak Ardi mengambil ponsel pintar dari balik jasnya. Setelah menekan sesuatu di layar ponsel pintarnya, Pak Ardi langsung mendekatkan ponsel pintarnya itu ke telinga kanannya. "Hallo.... Iya.... Apa kamu bisa ke depan sebentar.....? Baik.... Kami menunggu di depan kantor....." "Sstt... Anata," desis Sakti berbisik. "Hmm?!" Anata menoleh ke arah Sakti. "Bukankah semua ponsel pintar itu memiliki fasilitas internet, tapi kenapa ponsel pintar milik ayahmu itu bisa digunakan?" bisik Sakti bertanya kepada Anata. Anata mengangkat bahunya memberi isyarat bahwa dia juga tidak tahu. Pak Ardi kembali memasukkan ponsel pintarnya ke balik jas kantornya. "Apa sih syaratnya, Yah?" tanya Anata penasaran. "Kamu tunggu sebentar...." ucap Pak Ardi tersenyum menatap Anata anak perempuan semata wayangnya itu. Beberapa saat kemudian Anata bersama Sakti dan Yoland serta Pak Ardi melihat Tante Kina yang keluar dari pintu depan kantor dan berjalan mendekat ke arah mereka. "Tante Kina?" ucap Anata mengerutkan keningnya dengan nada heran sembari menatap ayahnya. Tante Kina pun tiba dan berdiri tepat di samping Pak Ardi ayahnya Anata. "Hmmm.... Ada apa ya ini?" tanya Tante Kina penasaran. Pak Ardi tersenyum menatap wajah Tante Kina sehingga membuat Tante Kina menjadi bingung dan penasaran. "Begini...." Pak Ardi menghela nafas kemudian menatap dengan serius wajah anak perempuannya itu, "Ayah ingin melihat dan mendengar bukti bahwa kamu dan ayah sudah berbaikkan." Pak Ardi tersenyum tipis menatap Anata anaknya. "Melihat dan mendengar apa, Yah?!" tanya Anata heran. Pak Ardi menoleh dan tersenyum menatap Tante Kina yang berdiri di sampingnya kemudian kembali menatap Anata. "Ayah ingin melihat kamu memperlakukan Tante Kina seperti ibumu sendiri, dan Ayah ingin mendengar kamu memanggil Tante Kina dengan sebutan Ibu. Bagaimana?" ucap Pak Ardi. "Hah?!" Sontak Anata terkejut kemudian raut bingung tampak di wajahnya. Anata menoleh ke arah Yoland dan Sakti yang berdiri di samping kiri dan kanannya. Wajah Anata menunjukkan isyarat untuk meminta pendapat kepada Sakti dan Yoland. Yoland mengangkat bahunya mengisyaratkan bahwa dia juga tidak tahu harus bagaimana. Sedangkan Sakti tersenyum menatap Anata sembari mengangguk mengiyakan. Anata menengadahkan kepalanya ke atas kembali menatap Pak Ardi ayahnya yang berdiri di depannya. Anata tersenyum menatap ayahnya kemudian mengangguk sembari mengucapkan, "Iya, Yah.... Tentu saja aku mau...." Anata menoleh ke arah Tante Kina dengan tersenyum, "Ibu..." ucap Anata kemudian mengulurkan kedua tangannya ke arah Tante Kina yang sekarang dipanggilnya Ibu. Tante Kina pun merasa sangat senang, ia dengan seketika mendekat dan memeluk Anata, dan Anata pun membalas pelukan itu. Kemudian Pak Ardi ikut memeluk kedua perempuan itu, yakni Tante Kina istrinya dan Anata anak perempuannya. "Ayah sangat senang bahwa kamu sudah mau menerima keberadaan Kina di keluarga kita...." ucap Pak Ardi mengeratkan pelukannya dengan hangat. Sakti dan Yoland pun tersenyum dan ikut merasa senang karena kejadian yang mereka lihat itu. "Aduuh, Bu... Yah... Pelukan kalian berdua terlalu erat.... Aku jadi sulit bernafas...." ucap Anata mengeluh, tapi masih dengan raut senyum di wajahnya. Perlahan Pak Ardi dan Tante Kina yang sekarang sudah dipanggil Anata dengan sebutan Ibu itu pun melepaskan pelukan mereka kepada Anata. "Ibu sangat senang bahwa kamu sudah mau menerima keberadaan ibu..." ucap Tante Kina tersenyum bahagia menatap Anata, dan Anata pun langsung membalas tatapan senyum itu. "Oh iya, sesuai janji saya kepada Nak Sakti... Apa yang ingin saya lakukan kepada kalian?" tanya Pak Ardi. "Begini Om, eh, maksud saya, Yah... Hehe." Sakti tersenyum malu saat ia salah mengucap, "Sebenarnya...." Sakti tampak bingung ingin mengatakan kepada Pak Ardi. "Sebenarnya apa?!" tanya Pak Ardi menatap heran ke arah Sakti. "Begini, Yah... Apa ayah sudah tahu tentang virus yang membuat semua perangkat elektronik yang dapat terhubung dengan internet menjadi terganggu?" tanya Anata. "Iya, ayah tahu... Pekerjaan ayah dan teman-teman ayah menjadi sulit karenanya," ucap Pak Ardi. "Nah, sebenarnya aku, Sakti, dan Yoland serta dua temanku yang lain sedang berjuang untuk membasmi virus-virus itu, Yah..." "Tapi, tadi menurut hasil rapat ayah dengan beberapa atasan di kantor pemerintah pusat, insiden itu bukan dikarenakan oleh adanya virus, melainkan karena sistem perangkat penghubung antara satelit dengan bumi sedang mengalami kerusakan," ucap Pak Ardi. "Kerusakan sistem perangkat penghubung?!" ucap Anata heran sembari mengerutkan kedua keningnya. "Sistem perangkat penghubung itu memiliki fungsi untuk menghubungkan jaringan satelit di luar angkasa ke bumi untuk menjadi internet. Nah, karena sistem itu sedang mengalami kerusakan, akibatnya itu membuat semua perangkat elektronik yang memiliki fasilitas internet mengalami status yang istilahnya 'False System'," ucap Pak Ardi menjelaskan. "Fakta itu sangat berdeda dengan bukti yang sudah kita temukan, Sakti..." ucap Yoland kepada Sakti. "Benar, itu sangat berbeda dengan yang sudah kami ketahui selama ini, Yah," ucap Sakti memberitahu Pak Ardi. "Iya, Yah... Aku dan teman-temanku melihat secara langsung bukti bahwa virus-lah yang menyebabkan semua itu," tambah Anata. "Sebenarnya, Ayah juga merasa kurang yakin dengan pernyataan yang dikatakan oleh orang-orang itu karena bukan kalian yang pertama kali mengatakan itu kepada ayah," ucap Pak Ardi kemudian menatap ke arah Sakti. "Ada orang selain kami yang tahu tentang virus itu?! Siapa, Yah?" ucap Anata kemudian bertanya. "Dia adalah Edwan, ayahnya Nak Sakti," ucap Pak Ardi. "Oh iya, tadi malam ayah juga mengatakan bahwa mengetahui tentang keberadaan virus bernama Reinka-99, kan?" ucap Sakti menatap Anata. Anata pun seketika mengangguk dan berkata, "Iya...." "Lalu, apa keinginan kalian yang harus ayah lakukan?" tanya Pak Ardi. "Sebenarnya kami ingin meminta tolong ayah untuk menyampaikan kepada pemerintah pusat bahwa kami sedang memerlukan bantuan dana untuk mengembangkan program pembasmi virus yang kami buat..." ucap Anata, "Tapi, fakta yang diserap oleh pemerintah pusat berbeda dengan fakta yang kami temukan tentang masalah internet ini...." sambung Anata. "Bagaimana ya?! Ayah juga bingung karena di satu sisi setelah mendengar pernyataan dari pemerintah pusat begitu. Tapi di sisi lain, ayah sangat yakin bahwa apa yang Edwan dan kalian katakan itu adalah benar...." ucap Pak Ardi dengan nada dan raut wajah yang sedikit bimbang. "Tapi Ayah sudah berjanji, kan, akan membantu kami?!" ucap Anata. "Eh, i-iya... Ayah usahakan agar orang-orang di pemerintah pusat mengubah presepsi tentang masalah terkait dengan perangkat elektronik dan internet ini," ucap Pak Ardi. "Tolong ya, Yah..." pinta Anata dengan raut wajahnya yang imut sehingga Pak Ardi tak mungkin bisa menolak permintaan dari anak semata wayangnya itu. Pak Ardi langsung mencubit pipi Anata, "Iya... Ayah berjanji..." ucap Pak Ardi. *Beep... Beep... Beep....* Ponsel pintar dari balik jas kantor yang dikenakan Pak Ardi berdering tanda panggilan telepon masuk. "Sebentar ya..." Pak Ardi mengambil ponsel pintar yang berdering itu dari balik jas kantornya dan langsung menerima panggilan telepon itu. "Ya, selamat siang.... Maaf, saya Ardi Rangga Riswandi, dengan siapa saya berbicara...? Ooh, iya.... Baik.... Baik.... Nanti akan saya siapkan berkas-berkasnya.... Kenapa tidak boleh....?" Pak Ardi menatap Anata, Sakti, dan Yoland saat berbicara pada ponsel pintarnya, raut wajahnya seketika berubah menjadi bingung entah karena sebab apa, "Baik.... Baik.... Iya, selamat siang." Pak Ardi memasukkan kembali ponsel pintarnya ke dalam jas kantor yang dikenakannya setelah selesai berbicara di telepon. "Maaf, Om..." ucap Yoland. "Hhm? Ada apa?" tanya Pak Ardi terseyum ramah. "Bukannya semua perangkat elektronik yang memiliki fasilitas internet sekarang ini sedang mengalami gangguan, tapi kenapa ponsel pintar milik Om bisa digunakan?!" tanya Yoland penasaran. "Ooh... Sejak dulu pertama membeli, saya tidak pernah menggunakan ponsel pintar ini untuk internet, hanya saya gunakan untuk telepon saja." Pak Ardi menjelaskan sambil menatingkan ponsel pintarnya, "Coba lihat, layanan data internetnya pun tidak pernah saya aktifkan..." ucap Pak Ardi lagi sembari menunjukkan bukti bahwa status layanan data internet di ponsel pintarnya tidak diaktifkan. "Ayah berbicara di telepon dengan siapa, Yah?!" tanya Anata penasaran. "Eh! I-ini, ta-tadi ayah berbicara de-dengan te-teman ayah yang... Eeemmm...." Pak Ardi tampak gugup kemudian berpikir sejenak untuk melanjutkan kata apa yang akan diucapkannya kepada Anata. "Teman ayah kenapa?!" tanya Anata heran. "Teman ayah yang katanya sedang sakit." ucap Pak Ardi seketika. Namun, ia tak dapan menyembunyikan raut wajahnya yang terlihat sedang merahasiakan sesuatu dari Anata, Sakti, dan Yoland. "Lalu? Tadi bukannya ayah membicarakan tentang berkas?! Berkas apa?!" tanya Anata dengan raut wajah penuh selidik menatap Pak Ardi ayahnya. "I-iya, kan teman ayah sedang sakit, ja-jadi ayah yang harus menyiapkan berkas-berkas teman ayah itu..." ucap Pak Ardi terbata-bata karena gugup. "Oohh...." Anata mengangguk faham, "Ya sudah, semoga orang-orang di pemerintah pusat mau percaya jika ayah yang mengatakan fakta sebenarnya kepada mereka...." ucap Anata. "Iya, akan ayah usahakan..." ucap Pak Ardi sambil menggosok rambut Anata dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Oh iya, Yah... Maaf sebelumnya, ini misal saja," ucap Sakti. "Iya, ada apa Nak Sakti?" tanya Pak Ardi. "Ayah mengatakan bahwa sejak dulu pertama membeli, layanan data internet ponsel pintar milik ayah tidak pernah diaktifkan," ucap Sakti. "Iya, benar..." Pak Ardi mengangguk. "Jika memang benar fakta bahwa masalah tentang perangkat elektronik dan internet ini diakibatkan karena kerusakan sistem perangkat penghubung seperti yang dinyatakan oleh orang-orang di pemerintah pusat, maka jika ayah mengaktifkan layanan data internet pada ponsel pintar itu sekarang, itu tidak akan berpengaruh apapun pada ponsel pintar itu, kan?" ucap Sakti. "Eemmm...." Pak Ardi memikirkan logika yang dikatakan Sakti, "Sepertinya memang benar begitu, jika kita rangkai dengan logika dan fakta yang dinyatakan oleh orang-orang di pemerintah pusat maka ponsel pintar ini tidak akan menerima dampak apapun...." "Lalu, bagaimana jika ponsel pintar itu tetap menerima dampak dari masalah yang sekarang terjadi?" tanya Sakti lagi. "Artinya...." ucap Pak Ardi seketika terdiam saat ingin melanjutkan ucapannya setelah ia menyadari sesuatu dari pertanyaan Sakti. "Logika dan fakta yang dikatakan orang-orang dari pemerintah pusat adalah salah...." ucap Yoland. "Jika virus itu adalah penyebabnya, maka ponsel pintar itu akan tetap menerima dampak karena tidak dipasangi sistem keamanan yang cocok untuk melawan virus, sedangkan sistem keamanan sejenis anti-virus hanya bisa dipasang pada perangkat PC...." jelas Sakti. "Tapi, aku pernah melihat dari sebuah situs yang menyediakan aplikasi yang berfungsi sebagai anti-virus untuk ponsel pintar..." ucap Anata. "Perlu kamu ketahui, Anata. Bahwa aplikasi mirip anti-virus yang ada di situs itu hanyalah aplikasi yang fungsinya untuk membersihkan data-data sementara," jelas Sakti. "Data-data sementara itu jika menurut istilah populernya adalah data sampah yang jika dibiarkan menumpuk hanya akan membuat kinerja ponsel pintar menjadi lambat," imbuh Yoland. "Oohh, jadi begitu ya...." ucap Anata mengangguk faham. "Bukankah kamu itu sekolah di kejuruan program, kenapa kamu tidak tahu?" tanya Yoland. "Mungkin pembahasan pelajaran yang aku dapat belum sampai ke sana..." jawab Anata. "Kita kembali ke topik dulu," ucap Sakti mengembalikan arah pembicaraan. "Iya...." sahut Anata lesu. "Teman-teman, aku punya ide rencana..." ucap Sakti. "Apa itu?" tanya Yoland. Pak Ardi dan Tante Kina dengan serius ingin mendengar ide dari Sakti itu. "Ayah..." Sakti menatap Pak Ardi, "Jika nanti ayah pergi ke kantor pusat pemerintah, Ayah bisa menunjukkan bukti daru ponsel pintar itu bahwa fakta yang mereka percaya itu adalah salah, dengan begitu mereka pasti akan percaya dengan fakta yang nanti akan dikatakan ayah kepada mereka," ucap Sakti memberitahu. "Itu rencana yang sangat bagus..." sahut Pak Ardi tersenyum bangga, "Eh! Tapi, bagaimana jika ponsel pintar ini rusak?" tanya Pak Ardi dengan raut wajah khawatir. "Kan, memang itu rencananya..." ucap Anata. "Tapi, ayah sangat sayang dengan ponsel pintar ini..." Pak Ardi langsung menggenggam erat ponsel pintarnya. "Jadi, ayah lebih menyayangi ponsel pintar itu dibandingkan Anata dan aku?!" tanya Tante Kina tampak kesal, "Bukankah ini semua juga demi Anata, Yah!" sambung Tante Kina. Pak Ardi menatap Anata, kemudian tampak senyum tipis dari bibirnya, "Baiklah, ayah akan melakukannya sebisa ayah..." ucap Pak Ardi, "Setelah ini, apa yang ingin kalian lakukan?" sambung Pak Ardi bertanya. "Anata ingin menjenguk dua temanku yang sekarang mungkin sedang sakit dulu ya, Yah..." ucap Anata. "Hah?! Kenapa kamu mengatakan mungkin sedang sakit?!" tanya Pak Ardi bingung. "Kami juga belum tahu pasti, tapi salah satu temanku sekarang memang sedang sakit, sedangkan yang satunya lagi kami tidak tahu kabarnya sekarang, Yah...." jelas Anata. "Baiklah, kalian jenguk dulu kedua teman kalian, semoga tidak terjadi apapun kepada mereka. Ayah juga sepertinya ingin menghadiri rapat lagi di kantor pemerintah pusat, dan bisa sekaligus ayah menyampaikan pesan dari kalian ke sana..." ucap Pak Ardi. "Benar, Yah?!" tanya Anata tersenyum dan seketika Pak Ardi ayahnya Anata pun mengangguk mengiyakan. "Ya sudah, ayah dan ibumu ingin bersiap-siap dulu...." ucap Pak Ardi. "Iya, Yah..." ucap Anata tersenyum senang sembari mengangguk. "Oh iya, kalian pergi ke rumah teman kalian bagaimana?" tanya Tante Kina. "Kami naik bus saja, Bu..." jawab Anata, dan seketika Tante Kina tersenyum senang karena ia dipanggil ibu oleh Anata. "Kalian hati-hati, ya...." ucap Pak Ardi kemudian bersama Tante Kina pun bersama-sama kembali ke kantor meninggalkan Anata, Sakti, dan Yoland yang berdiri di tepi jalan raya untuk menunggu bus selanjutnya yang akan singgah. Setelah sekitar enam menit akhirnya tampak sebuah bus yang berjalan ke arah di mana Sakti, Anata, dan Yoland berdiri di tepi jalan tepat di sebuah tihang rambu tanda tempat persinggahan bus. Bus pun berhenti, kemudian Sakti bersama Anata dan Yoland naik ke dalam bus, lalu bus pun kembali melanjutkan perjalanan untuk membawa dan mengantarkan beberapa penumpang serta Sakti, Anata, dan Yoland menuju ke arah tempat tinggal Rico yang juga mengarah ke terminal yang letaknya sedikit lebih jauh dari rumah kediaman Rico.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN