Sakti membuka kedua matanya, "Siapa sih?!" gumam Sakti sembari beranjak bangun dari tempat tidurnya.
Tok... Tok... Tok.... Suara ketukan pintu kembali terdengar.
"Iya! Sebentar...." Sakti berjalan ke arah pintu kamar dan langsung membuka pintu kamarnya dan melihat ayahnya yang berdiri di balik pintu.
Sakti menatap ayahnya dengan sangat santai.
"Eh, Ayah? Kapan datang?" tanya Sakti.
"Baru saja... Ibumu belum tahu bahwa ayah sudah datang."
Sakti mengerutkan keningnya, "Kenapa Ayah tidak menemui ibu dulu?!"
"Sssttt...."
Sakti merasa heran dengan tingkah ayahnya itu.
Ayah Sakti berbisik, "Sebenarnya ayah kemari hanya ingin memberitahumu tentang...."
"Eh! Ayah....?!" Tidak sengaja Bu Verita lewat dan melihat suaminya yang berada di depan kamar Sakti dan berbicara dengan Sakti.
Ucapan Ayah Sakti terhenti karena kedatangan ibunya Sakti.
Ayah Sakti menoleh menatap ibunya Sakti, "Eh iya, Ibu...." Ayah Sakti menatap senyum ke arah Bu Verita istrinya.
"Ayah kapan datang?! Kenapa tidak mendatangi ibu dulu?!" tanya Bu Verita.
"Eh...." Ayah Sakti tampak tersenyum gugup sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, "Se-sebenarnya, ayah ingin memberi kamu kejutan. Eh, taunya malah ketahuan duluan.... Nggak jadi deh," sambung Ayah Sakti masih terseyum gugup.
Sakti penasaran dengan apa yang tadi ingin diberitahukan ayahnya kepadanya, kemudian Sakti menepis rasa penasarannya.
"Paling-paling hal yang ingin dikatakan ayah tadi tidak penting...." pikir Sakti.
"Ya sudah, sebaiknya ayah mandi dulu... Makan malamnya juga masih belum selesai ibu siapkan," ucap Bu Verita.
"Kamu sudah mandi, kan, Sakti?" tanya Bu Verita menoleh ke arah Sakti.
"Iya... Sudah, Bu," jawab Sakti.
"Oh iya, jangan lupa untuk mengajak Anata juga ya," pinta Bu Verita.
"Hah?! Memangnya ada apa?! Kok Ibu sepertinya sangat suka dengan Anata?!" tanya Sakti heran.
"Orang tuanya Anata, kan teman ibu dan ayahmu sewaktu dulu pas masih remaja seperti seumuranmu sekarang..." jawab Bu Verita.
"Hah?! Jadi, Pak Ardi ayahnya Anata teman ibu dan ayah?!" gumam Sakti dalam hati terkejut sembari mengerutkan kedua keningnya.
"Iya ya, kenapa tidak sekalian undang juga mereka kemari ya, Bu?" tanya Ayah Sakti memberi usul.
"Nah, itu ide bagus." Bu Verita menyetujuinya seketika.
"Sakti, kalau kamu mau ke rumah Anata, kamu bisa gunakan mobil ayah untuk menjemputnya," ucap Ayah Sakti, "Kunci mobilnya ayah letakkan di samping televisi di ruang tamu."
Sakti mengangguk dan kemudian ia berjalan menuju ruang tamu mengambil kunci mobil ayahnya dan pergi menggunakan mobil ayahnya yang berwarna merah maron menuju ke rumah kediaman Anata.
Tok... Tok... Tok.... Sakti mengetuk pintu depan rumah kediaman Anata.
"Sebentar...." Suara Anata terdengar samar dari dalam rumah, kemudian terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah pintu depan rumah.
Jlek.... Pintu terbuka.
"Eh, Sakti? Ada apa?" tanya Anata.
"Ibuku mengundangmu untuk makan malam di rumah, kamu mau?" sahut Sakti kemudian balik bertanya.
"Heh?" Anata merasa bingung.
"Ibuku juga ingin mengajak ayah dan ibumu untuk makan malam bersama," ucap Sakti lagi.
"Emmm...." Anata menunduk.
"Ma-maaf... Aku lupa kalau...."
Anata kembali mengangkat kepalanya dan menatap Sakti dengan tersenyum, "Tidak apa-apa."
Sakti tersenyum hati-hati.
"Kalau ayahku ada di dalam, kamu masuk dulu, sekalian aku ngasih tahu ke ibu dulu." Anata masuk ke dalam rumah kemudian diiringi oleh Sakti dari belakang masuk ke dalam rumah.
"Duduk dulu."
"Wah!! Desain ruang tamunya tidak sama seperti kemarin. Kapan kalian mengubahnya?!" tanya Sakti seraya berdecak kagum memandangi suasana ruang tamu di kediaman Anata yang sangat klasik dan sangat tenang.
"Memang kamu sudah lama sekali kan, tidak ke sini. Kalau tidak salah satu tahun lalu, kamu ke sini terakhir pas kamu masih sekolah kelas dua belas, kan?"
Sakti menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum malu, "Eh, iya.... Setelah lulus sekolah aku tidak pernah ke sini lagi...."
"Kamu tunggu di sini dulu, aku menemui ayahku di kamar."
Anata berjalan masuk menuju ke kamar ayahnya dan memberitahukan maksud kedatangan Sakti.
Tak lama kemudian, Anata bersama Pak Ardi berjalan menuju ruang tamu dan menghampiri Sakti di sana.
"Eh... Teman Anata yang kemarin...." Ayah Anata langsung menyapa Sakti.
Seketika Sakti beranjak berdiri dan menyunggingkan senyumnya ke arah Ayahnya Anata, "Iya, Pak Ardi...."
"Ada apa?" tanya Pak Ardi.
"Begini, Pak... Ee.. Anu...." Sakti bingung harus berkata mulai dari mana.
"Ayah ingat sama teman ayah yang bernama Pak Edwan dan Bu Verita?!" tanya Anata seketika membuka ucapan.
"Edwan dan Verita itu sahabat ayah dan mendiang ibumu, memangnya kenapa?!" tanya Pak Ardi heran.
"Nah! Pak Edwan dan Bu Verita adalah orang-tua Sakti, Yah...." jawab Anata memberitahu.
"Jadi, Edwan dan Verita itu orang-tuamu?!"
"I-iya, Pak...." jawab Sakti hati-hati, "Orang tua saya ingin mengundang Bapak dengan Anata untuk makan malam bersama di rumah, Pak."
"Biasanya kalau ada undangan seperti ini, pasti ayahmu sudah datang ya?" tanya Pak Ardi sembari tersenyum.
"Iya, Pak..." sahut Sakti sembari mengangguk tersenyum.
"Eh, Ada temannya Anata." Tante Kina ibu sambungnya Anata datang dari arah dalam, "Ada apa?" tanya Tante Kina seraya tersenyum.
"Ini... Kedua orang tua temannya Anata ini ternyata temanku dan teman mendiang ibunya Anata sewaktu kami remaja dulu," sahut Pak Ardi.
"Oohh... Siapa, Yah? Kok ayah nggak pernah cerita?" tanya Tante Kina.
"Pak Edwan dan Bu Verita," jawab Pak Ardi.
Tante Kina mengangguk.
Sakti bingung mendengar obrolan antara Pak Ardi dan Tante Kina, "Bukannya waktu itu Tante Kina memanggil Pak Ardi dengan sebutan Pak. Tapi, kenapa pas di rumah panggilannya berbeda?!" pikir Sakti, "Oh, mungkin agar terlihat formalitas di tempat kerja," pikir Sakti lagi sembari mengangguk.
"Nah! Bagaimana kalau kamu ikut kami ke rumah Nak Sakti?" tanya Pak Ardi.
Seketika Sakti dan Anata saling menatap menunjukkan respon terkejut atas ajakan Pak Ardi kepada Tante Kina.
"Benar, kan? Anata?" Pak Ardi meminta pendapat kepada anak perempuannya itu.
"Heh, eee.... I-iya, Tante Kina bisa ikut ke rumahnya Sakti," sahut Anata seketika.
"Memangnya ada acara apa?" tanya Tante Kina.
"Ayah dan Ibunya Sakti mengundang untuk makan malam bersama di sana," jawab Pak Ardi.
"Waah! Seru sekali sepertinya...." Tante Kina tampak senang.
"Bagaimana? Kamu mau ikut?" tanya Pak Ardi lagi.
"Hhmm... Iya deh..." jawab Tante Kina mengiyakan.
"Oh iya, jam berapa acara makan malamnya?" tanya Tante Kina menoleh ke arah Sakti.
"Jam delapan, Pak," jawab Sakti sembari tersenyum.
"Jangan panggil saya seperti itu, panggil saja saya sama seperti kamu memanggil ayahmu," ucap Pak Ardi.
Sontak Sakti dan Anata kembali saling menatap dengan perasaan bingung.
"Eehh.. I-iya, Yah...." sahut Sakti tersenyum gugup.
"Kalau begitu, setengah jam sebelum jam delapan kami pasti akan sudah ada di sana," ucap Pak Ardi.
"Kebetulan saya kemari bawa mobil, jadi kita sekalian bisa ke rumah bersama, Pak."
"Oh, begitu ya.... Kalau begitu, kenapa tidak sekarang saja kita berangkat?" ucap Pak Ardi seketika.
"Tapi, aku belum siap-siap..." sahut Tante Kina.
"Ya sudah, kamu siap-siap dulu... Aku juga ingin ganti baju," ucap Pak Ardi.
Tante Kina pun mengangguk, kemudian bersama Pak Ardi ayahnya Anata pun berjalan masuk dan menuju ke kamar untuk bersiap-siap, sedangkan Anata duduk di sofa berseberangan dengan Sakti.
"Oh iya, Anata. Masalah virus Reinka-99, ada yang ingin aku katakan padamu...."
Anata mengerutkan keningnya, "Apa itu?"
"Ternyata...."
"Ayo...." ajak Pak Ardi tiba-tiba kembali dan perkataan Sakti pun terhenti.
Sakti pun beranjak berdiri lalu berjalan menuju mobil bersama Anata dan Pak Ardi kemudian langsung berangkat menuju ke rumah kediaman Sakti.
Setibanya di rumah kediaman Sakti, tampak Pak Edwan bersama Bu Verita menyambut kedatangan anaknya yang membawa Anata dan Pak Ardi bersama seorang wanita yang cukup cantik. Pak Edwan dan Bu Verita penasaran siapa wanita yang datang bersama Anata dan Pak Ardi.
"Sudah lama sekali ya, Ardi," ucap Pak Edwan sembari mengajak dan mempersilahkan Pak Ardi masuk ke dalam rumah.
"Benar sekali.... Oh iya, bagaimana kabar perusahaanmu di luar negeri?" sahut Pak Ardi kemudian bertanya.
"Ya begitu lah.... Semenjak kemunculan virus Covid-19, awalnya tidak ada kendala dengan perusahaanku, tapi pemerintah di sana mengumumkan bahwa ada virus baru yang merambat melalui jaringan internet, jadi semua urusan semakin sulit karena semua karyawan tidak bisa bekerja," jawab Pak Edwan ayahnya Sakti menjelaskan.
"Benar sekali, toh sekarang ini semua orang rata-rata bekerja di rumah dan kemunculan virus internet itu menambah kesulitan bekerja," tambah Pak Ardi.
"Oh iya, Indri istrimu di mana? Sejak tadi aku tidak melihatnya.
Pak Ardi tampak murung dan terdiam sehingga membuat Pak Edwan bingung.
Pak Ardi menatap wanita di sampingnya kemudian kembali menatap Pak Edwan, "Eemm, perkenalkan dia Kina, istriku," ucap Pak Ardi.
"Hah?!" Sontak Pak Edwan dan Bu Verita terkejut.
"Indri, ibunya Anata sudah meninggal," ucap Pak Ardi.
"Kenapa kau tidak mengabarkannya kepadaku?!" Pak Edwan terkejut.
"Sebenarnya aku sudah beberapa kali mencoba menghubungi kalian, tapi saat itu kami sedang berada di luar negeri tepat di negara tempat mendiang ibunya Anata berobat," jawab Pak Ardi menjelaskan.
Sementara itu, Sakti bersama Anata sedang duduk di taman tepat di depan rumah kediaman Sakti.