20. Makan Malam Bag. 2

1083 Kata
Anata masih penasaran dengan apa yang tadi Sakti tidak sempat mengatakan kepadanya. "Sakti...." Anata menatap ke arah Sakti. "Ya?" sahut Sakti balas menatap ke arah Anata. "Tadi, saat di rumah, kamu ingin memberitahukan aku tentang apa?" tanya Anata. "Oh iya, aku hampir lupa...." ucap Sakti. "Sakti...! Anata...! Ayo makan bersama...!" Tiba-tiba terdengar suara Bu Verita memanggil berteriak dari depan pintu rumah. Sontak Sakti pun kembali mengurungkan niatnya untuk mengatakan kepada Anata karena Sakti takut jika ibunya tahu bahwa dia masih bermain game, maka ibunya pasti akan marah. "Nanti saja aku katakan setelah selesai makan." Sakti beranjak berdiri dari tempat duduk panjang. Anata pun mengangguk mengiyakan sembari ikut beranjak berdiri, lalu ia dan Sakti berjalan ke arah pintu rumah. Bu Verita tampak tersenyum sembari berdiri di depan pintu menatap Sakti dan Anata, "Wah...! Maaf sekali ibu mengganggu waktu berdua kalian ya," ucap Bu Verita sedikit mengejek. "Hah?!" Sontak Sakti dan Anata terkejut bersamaan. "Tapi, Mom.... Ka-kami tidak ada hu... €=©{∆€...." Sakti langsung menutup mulut Anata dengan tangannya sehingga ucapan Anata menjadi tidak jelas terdengar di telinga Bu Verita. "Ayo kita masuk, makan dulu." Sakti menarik Anata masuk ke dalam rumah. Tampak sebuah meja makan yang berukuran lumayan besar sudah siap di ruang tamu. Seperti sebuah pesta, padahal hanya acara makan malam. Anata sangat heran dengan suasana yang dia lihat di ruang tamu di kediaman Sakti temannya itu. "Ayo duduk...." Sakti menarik kursi dan mempersilahkan Anata untuk duduk tepat di samping Pak Ardi ayahnya Anata. "Sakti!" bisik Anata sedikit kesal dengan perlakuan Sakti kepadanya yang terbilang sedikit aneh. "Sssstts!" Sakti balas mendesis menutup bibirnya dengan jari telunjuknya. Kemudian Sakti duduk tepat di samping Pak Edwan ayahnya. "Nah..." Pak Edwan tampak senyum, "Ayo silahkan dimakan...." Kedua orang tua Sakti, yaitu Pak Edwan dan Bu Verita, lalu Pak Ardi dan Tante Kina serta Sakti dan Anata, pun makan malam bersama. Sakti hanya mengambil sedikit makanan dan dengan cepat menghabiskannya, begitu juga dengan Anata yang memang lebih suka makanan dengan porsi kecil ketimbang dengan makanan porsi berat. Sakti beranjak berdiri setelah menyapu mulutnya dengan tisu, "Maaf, aku ke depan dulu...." Sakti menatap senyum ke arah Pak Ardi dan Tante Kina. Pak Ardi dan Tante Kina pun mengangguk dan membalas senyum sakti. Pak Ardi menoleh ke arah Anata yang juga tampak sudah selesai makan. "Eee, Nak Sakti..." panggil Pak Ardi dan seketika Sakti pun menghentikan langkahnya. "I-iya, Om?" Pak Ardi kembali menoleh ke arah Anata yang tampak sedang menyapu mulutnya dengan tisu, "Anata... Kamu sudah selesai makan, kan?" Anata mengangkat alisnya seketika kemudian mengangguk mengiyakan. "Nah, bagaimana kalau kamu temani Sakti? Soalnya ayah mau mengenang masa-masa dulu dengan ayah dan ibunya Sakti...." ucap Pak Ardi kemudian mengedipkan matanya ke arah Pak Edwan dan Bu Verita. "I-iya... Kami ingin mengenang masa-masa dulu ya, kan, Yah?" Bu Verita menyenggol bahu Pak Edwan suaminya. "Yuk, Anata...." ajak Sakti, dan Anata pun mengangguk sembari berajak berdiri. Sakti dan Anata bersama-sama berjalan ke depan dan duduk di kursi panjang taman depan rumah kediaman Sakti. "Bagaimana, Anata? Apa kamu sudah mengatakan kepada ayahmu?" tanya Sakti. "Emm, mungkin besok aku akan mengatakannya kepada ayahku bahwa aku tidak akan marah lagi kepadanya," jawab Anata. "Kenapa kamu tidak benar-benar saja memaafkan ayahmu?" "Aku masih belum bisa...." Sakti mengangguk mencoba mengerti apa yang dirasakan Anata. "Oh iya! Tadi, sewaktu di rumah, bukankah kamu ingin mengatakan sesuatu?!" tanya Anata. "Kau ingat tadi siang waktu kita bertemu dengan Ecline?" "Iya, ingat... Setelah itu kita tahu bahwa virus Reinka-99 sudah berevolusi...." "Lalu, apa kau ingat saat kita menyerangnya, tapi semua serangan kita tidak berdampak apapun padanya, begitu juga saat dia menyerang kita, tapi tidak berdampak apapun pada kita?" "Hhmmm... Iya aku ingat...." "Ternyata, semua itu bukan karena virus Reinka-99 yang berevolusi dan juga bukan karena kesalahan sistem yang berbeda," ucap Sakti menjelaskan. "Lalu, apa penyebabnya?" "Kesalahan ada pada kelima akun yang kita gunakan, sepertinya Ecline sudah melakukan sesuatu sehingga data dari akun yang kita miliki rusak...." "Bagaimana kau tahu bahwa bukan karena Virus Reinka-99 yang berevolusi?" "Tadi sore ketika aku sampai rumah, ibu menunjukkan padaku smartphone milikku yang layar depannya menunjukkan logo game Battle Network buatan kita...." "Hah?! Bagaimana bisa?!" Anata semakin heran. "Aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa melakukan itu. Setelah itu, karena penasaran, ku coba menyalakan komputerku dan membuka aplikasi App Market, tapi ternyata bukan tampilan App Market seperti biasa yang muncul, melainkan tampilan beranda depan game Battle Network," jelas Sakti. "Apa itu benar?!" Anata masih tidak percaya dengan apa yang dijelaskan oleh Sakti. "Ayo ikut aku." Sakti beranjak berdiri. "Mau ke mana?!" tanya Anata heran. "Akan aku tunjukkan sesuatu kepadamu." Sakti menarik tangan Anata ke arah pintu depan rumah dan masuk ke dalam. "Kalian berdua mau ke mana?" tanya Bu Verita seketika melihat Sakti bersama Anata masuk saat ia masih bercengkrama bersama Pak Edwan suaminya dan Pak Ardi serta Tante Kina. "Mau ke atas, Bu...." jawab Sakti sambil menarik tangan Anata menuju tangga. "Waah... Sepertinya mereka berdua sangat dekat," bisik Pak Ardi tersenyum senang. "Iya ya...." sahut Pak Edwan balas berbisik. "Waah, sepertinya suatu saat nanti mungkin kita akan jadi keluarga ya..." ucap Bu Verita ikut berbisik. Sementara itu, Sakti dan Anata sudah tiba di dalam kamar di mana komputer Sakti berada. Sakti duduk di depan komputernya, sementara Anata berdiri di samping Sakti. Layar monitor pun menyala. Sakti menggeser mouse menggerakkan kursor anak panah ke arah [Swich On]. Kemudian, Sakti mengarahkan kursor anak panah ke arah sebuah ikon berlogo segitiga dan menekan tombol kiri mousenya. Seketika setelah tulisan [Loading...] menghilang, Anata benar-benar melihat tampilan beranda depan game Battle Network. "Ternyata kamu benar," ucap Anata. "Sekarang aku akan menunjukkan sesuatu lagi padamu." Sakti log-in menggunakan akun baru, bukan akunnya yang asli yang merupakan akun seorang Game Master. "Kamu membuat akun baru?!" Sakti mengangguk mengiyakan. "Lalu, untuk apa?!" tanya Anata heran. "Sebentar lagi kamu akan melihatnya." Sakti mulai menggerakkan karakternya menuju ke lokasi di mana terdapat beberapa monster dengan Level 14, itu adalah level monster yang dapat dilawannya sekarang karena level yang dimiliki karakter Sakti baru mencapai Level 10, dan itupun berkat bantuan dari Rozl yang membantunya menaikkan level dengan cepat. Job yang digunakan Sakti di akun barunya adalah Penyihir. Sakti mulai menggerakkan karakternya menyerang ke arah salah satu monster yang memiliki Level 14. Ternyata benar, serangan Sakti berhasil kena dan memberikan dampak kepada monster itu. "Jadi, apa yang kau katakan tadi itu benar...." ucap Anata, "Lalu, menurutmu kita harus bagaimana?" sambung Anata bertanya. "Sebaiknya, kita beritahukan hal ini kepada yang lain dulu," jawab Sakti. Tiba-tiba, terdengar bunyi ketukan pintu dari pintu kamar Sakti yang dibiarkan terbuka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN