Sakti dan Anata menoleh ke arah pintu dan mereka melihat ayahnya Sakti, yaitu Pak Edwan berdiri di sana.
"Eh, Yah... Ada apa, Yah?" tanya Sakti.
Pak Edwan menatap ke arah layar monitor di hadapan Sakti, kemudian ia melangkah masuk mendekat ke arah Sakti dan Anata.
"Battle Network ya?!" ucap Pak Edwan.
"I-iya, Yah," jawab Sakti gugup, "Ayah jangan beritahukan ini dengan ibu ya, nanti ibu bisa sangat marah kalau tahu bahwa aku masih main game...."
Pak Edwan menepuk kepala Sakti pelan sembari tersenyum menatap Sakti, "Tentu saja, ayah tidak akan memberitahukannya pada ibumu. Apalagi ayah juga sekarang sering main game ini...." ucap Pak Edwan.
"Hah?! Ayah juga main ini?" tanya Sakti terkejut.
"Iya..." Pak Edwan mengangguk, "Ketika remaja dulu, saat ayah dan ibumu serta ayah dan ibu Nak Anata, kami sering bermain game juga. Bahkan kami sempat menang dalam sebuah kompetisi dan terkenal, loh...." jelas Pak Edwan kepada Sakti dan Anata.
"Game seperti apa, Om?" tanya Anata.
"Mirip dengan game yang kalian mainkan sekarang ini, dan dulu kami main bukan di komputer, tapi di Game Center," jawab Pak Edwan, "Sini, ayah akan tunjukkan akun yang ayah gunakan...."
Sakti beranjak berdiri dan sekarang bergantian, Pak Edwan yang duduk.
Pak Edwan Log-in dengan akun miliknya dan menunjukkannya kepada Sakti dan Anata. Pak Edwan memakai karakter dengan job Pedang. Semua item terlihat berkelap-kelip, aura kuat pun memancar menyelimuti sekujur tubuh karakter yang digunakan Pak Edwan.
"Wah!! Level ayah sudah mencapai tingkat tertinggi, status karakternya juga sangat sesuai dengan job Pedang," ucap Sakti.
Pak Edwan menggosok hidungnya dengan rasa bangga atas pujian anaknya itu.
"Oh iya, bagaimana kalau ayah membantu kami agar kami bisa lebih cepat menaikkan level?" tanya Sakti.
"Kekuatan itu bukan berasal dari cepat atau tidaknya kamu meningkatkan level, tapi kekuatan itu berasal dari pengalaman dari awal kau memainkannya, karena jika kamu dengan mudah menaikkan level tanpa usaha, maka lama-kelamaan kamu akan merasa bosan dengan game yang kamu mainkan, Sakti," ucap Pak Edwan memberi nasihat, "Ingatlah, setiap pohon besar yang menjulang tinggi itu pasti berasal dari akar pohon yang kuat itu sendiri. Jika akar pohon tidak kuat, maka pohon besar yang menjulang tinggi itu pasti akan tumbang dengan sendirinya," tambah Pak Edwan.
"Tapi, bagaimana jika yang membuat game itu kita sendiri? Apa kita punya hak untuk menjadi yang terkuat dengan cara cepat?!" tanya Anata.
Pak Edwan tersenyum sambil menggeleng, "Jika kita memainkan game yang kita buat sendiri, dan membuat peraturan yang hanya kita yang bisa memenangkannya, itu bukanlah sebuah permainan... Kita tidak merasakan sensasi apa yang nanti akan terjadi setelah mencapai sesuatu, karena kita sudah tahu kejadian apa yang selanjutnya akan terjadi...."
"Ayah...." ucap Sakti.
"Hhm?" Pak Edwan menoleh ke arah Sakti anaknya.
"Sebenarnya game Battle Network adalah game buatan aku, Anata, dan teman-teman hackerku, Yah," ucap Sakti memberitahu.
Pak Edwan tersenyum kemudian mengangguk, "Ayah sudah tahu itu.... Yang membuat game ini adalah kau, Anata, Yoland, Rico, dan Pom, kan?"
"Hah?!" Sontak Sakti dan Anata terkejut bersamaan.
"Bagaimana ayah tahu kalau kami yang membuat game Battle Network?!" tanya Sakti.
"Ya, tentu saja Ayah tahu." Pak Edwan menekan tombol Log-out, dan tampilan layar.monitor kembali ke beranda awal game Battle Network, "Bukankah dua huruf ini adalah inisial nama tim hacker kalian?!" Pak Edwan menunjuk layar monitor tepat ke sebuah logo dengan dua huruf T dan M di sana.
"Astaga! Ternyata kami ceroboh..." ucap Sakti sembari menepuk dahinya.
"Pantas saja Ecline bisa dengan mudah melacak koordinat IP internet yang kita gunakan," tambah Anata.
"Tidak ada yang perlu kalian sesali... Ayah sangat bangga dengan kau dan tim Trouble Maker-mu. Di saat semua orang sedang kebingungan mencari cara untuk mengatasi virus, kalian sudah jauh lebih dulu melangkah mendahului siapapun di negara ini," ucap Pak Edwan tersenyum bangga.
"Sakti, bisakah akun meminjam komputermu untuk membuat akun baru?" tanya Anata.
"Silahkan, Nak Anata...." Pak Edwan beranjak berdiri, "Ayah mau kembali ke ruang tamu dulu, takut nanti ibumu dan orang tua Anata malah ikut ke sini...."
"Sekali lagi, jangan beritahukan ini kepada ibu ya, Yah..." pinta Sakti.
"Kalian tenang saja," ucap Pak Edwan mengangguk, kemudian ia melangkah ke luar dan langsung turun melalui tangga menuju ruang tamu di mana istrinya bersama Pak Ardi dan Tante Kina berada.
"Sakti, bagaimana cara membuat akun baru?" tanya Anata sembari duduk di depan komputer Sakti.
Sakti pun memberikan arahan membantu Anata untuk membuat akun baru di game Battle Network.
Saat Sakti masih memberi arahan kepada Anata, tanpa disadari mereka ternyata Bu Verita sedang berdiri di depan pintu kamar Sakti yang dibiarkan terbuka.
Sakti tidak sengaja menoleh ke arah pintu kamar dan melihat ibunya berdiri di sana.
"Hah, Ibu?! Sedang apa ibu di situ?!" tanya Sakti tampak gugup. Sedangkan Anata bergegas menekan tombol Alt ditambah Shift pada keyboard untuk mengembalikan tampilan layar monitor ke beranda awal.
"Sepertinya kalian berdua itu sudah sangat dekat, ya?" ucap Bu Verita sembari tersenyum dan sedikit mengejek.
"Apa-apaan sih, Ibu!" ucap Sakti tampak kesal dicampur dengan rasa sedikit malu.
"Ibu juga dulu sama seperti kalian sewaktu ibu lagi muda dulu...." ucap Bu Verita kemudian melangkah menjauh dari kamar dan kembali menuju ruang tamu.
Sakti dan Anata menghela nafas.
"Hampir saja kita ketahuan... Fyuuh..." ucap Anata lega.
"Iya..." sahut Sakti, "Bagaimana, apakah akun barumu sudah berhasil dibuat?" sambung Sakti bertanya.
"Iya, baru saja selesai," jawab Anata, "Bagaimana kalau malam ini kita memberitahukan hal ini kepada Yoland, Rico, dan Pom?"
"Malam ini?! Bagaimana caranya?! Sedangkan handphone-ku masih disita ibuku," ucap Sakti.
"Kenapa kita tidak menemui mereka langsung saja?" tanya Anata memberi usul.
"Maksudmu, pergi ke luar sedangkan orang tua kita sedang asik berbincang-bincang di ruang tamu?! Mereka pasti akan bertanya kita mau ke mana!!!"
Anata berpikir sejenak, "Bagaimana kalau aku meminta izin untuk pulang lebih awal?"
"Alasannya?!"
"Eemmm...." Anata kembali berpikir, "Aku sakit perut!" ucap Anata seketika."
"Apa?! Sakit perut! Apa hanya kata itu yang terlintas di pikiranmu?!"
Anata mengangguk.
"Bagaimana kalau kita diam-diam ke luar?!"
"Tapi, jika mereka kembali ke sini dan tidak melihat kita di sini bagaimana?"
"Ya sudah, kita gunakan idemu..."
"Asiikk...." Anata beranjak berdiri.
"Apa hanya begitu ekspresi yang nanti akan kamu tunjukkan pada mereka?!"
"Kamu tenang saja, aku sudah terlatih untuk akting!!" sahut Anata kemudian menarik tangan Sakti ke luar kamar dan lansung menuju ruang tamu di lantai bawah.
"Anata kenapa, Sakti?" tanya Bu Verita saat melihat Sakti membantu Anata berjalan menuruni anak tangga.
"Aduuhhh...." Anata tampak meringis sembari memegangi perutnya.
"Anata sakit perut, Bu," ucap Sakti.
"Hah?! Sakti perut?! Apa yang kamu lakukan pada Anata?! Kenapa dia bisa sampai sakit perut begitu!!" Bu Verita tampak mulai marah.
"Hah?! A-aku tidak berbuat apa-apa, Bu..." sahut Sakti.
"I-iya, Moms... Sakti tidak melakukan apa-apa, kok... Ini cuman sakit perut bulanan Anata, Moms..." ucap Anata pelan memberitahu.
"Ooohh, tamu bulanan ya? Sebentar, biasanya ibu ada simpanan obat penahan rasa sakit." Bu Verita beranjak berdiri.
"Ti-tidak usah, Moms... Sepertinya Anata ingin pulang saja, mau istirahat. Rebahan sebentar paling sakitnya akan hilang kok, Moms...." ucap Anata.
"Ya sudah, kalau begitu kami bersiap-siap dulu..." Pak Ardi beranjak berdiri.
"Eee... Ardi, sebentar...." ucap Pak Edwan.
"Kenapa, Wan?" tanya Pak Ardi heran.
Pak Edwan melangkah mendekati Pak Ardi kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Pak Ardi.
"Naaahh...! Faham, kan?!" ucap Pak Edwan setelah membisikkan sesuatu kepada Pak Ardi.
"Ada apa sih, Yah?" tanya Bu Verita penasaran.
"Elah... Kamu ini, Bu... Kayak tak pernah muda saja..." ucap Pak Edwan.
"Eeemmmm...." Bu Verita mengangguk faham sembari sedikit tersenyum. Kemudian diiringi oleh Pak Ardi dan Tante Kina yang juga tersenyum.
"Nah, Nak Sakti... Bisakah Nak Sakti mengantarkan Anata pulang? Soalnya kami masih banyak cerita yang masih dikenang...." ucap Pak Ardi sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Sakti.
"Kunci mobil kamu yang pegang kan, Sakti," ucap Pak Edwan ayahnya Sakti.
"I-iya, Yah... Ini." Sakti menatingkan sebuah kunci mobil.
"Kamu bisa mengantarkan Anata ke rumahnya...." ucap Pak Edwan.
"Baik, Yah...." sahut Sakti, "Ayo, Anata...." Sakti membantu Anata berjalan ke arah luar rumah dan langsung menuju ke sebuah mobil berwarna merah maron yang terparkir tepat di samping taman di depan rumah kediaman Sakti.
Pak Edwan, Pak Ardi, Bu Verita, dan Tante Kina berdiri di pintu depan melihat Sakti yang membantu Anata berjalan menuju mobil.
Bu Verita tampak senang sekali saat melihat anak laki-laki semata wayangnya yang sedang berdekatan dengan seorang perempuan yang Bu Verita sukai.
Sakti dan Anata pun sudah berada di dalam mobil. Sakti membuka kaca mobil di sampingnya, "Saya berangkat dulu, ya..." ucap Sakti berpamitan.
"Iya, hati-hati ya...." sahut Bu Verita tampak senang saat melihat mobil warna merah maron yang perlahan berjalan ke arah luar melalui pagar besar yang bergerak otomatis.
Sakti menoleh ke samping kirinya di mana Anata masih berakting sakit perut, "Ooy, sudah aktingnya, sudah tidak kelihatan lagi...." ucap Sakti.
"Oh, sudah ya... He..."
"Sebaiknya kita ke rumah Rico dulu, karena rumahnya yang terdekat dari sini." Sakti menjalankan mobil berwarna merah maron berbelok ke kiri di persimpangan tiga di dekat rumah kediamannya, dan Anata pun mengangguk mengiyakan.
Tak berapa lama, mereka pun tiba di rumah kediaman Rico. Sakti dengan hati-hati memarkirkan mobil di depan rumah kediaman Rico.
Anata lebih dulu keluar dari mobil dan berjalan ke arah pintu depan rumah kediaman Rico kemudian Sakti menyusul.
Ning... Nung.... Anata menekan bel pintu depan rumah.
"Iya... Siapa ya?" Terdengar suara perempuan dari dalam rumah.
"Saya Anata, temannya Rico..." ucap Anata.
Terdengar suara langkah kaki yang menjauh ke arah dalam rumah kediaman Rico.
"Rico...! Di depan ada temanmu!" teriak perempuan itu.
"Anata, perempuan itu siapa?" ucap Sakti menanyakan siapa suara perempuan yang memanggil Rico itu.
"Itu kakaknya Rico...." jawab Anata.
"Rico punya kakak?! Aku baru tahu."
Tak berapa lama kemudian pintu terbuka, Jlek....
"Eh, Anata? Ada apa?" tanya Rico.
"Hai Rico..." sapa Sakti yang berdiri di belakang tubuh Anata.
"Heh! Ada Sakti juga...! Di saat seperti ini kalian berdua sempat-sempat saja untuk berkencan..." ucap Rico sedikit kesal.
"Eeeh... Kami tidak kencan," sahut Sakti.
"Lalu, apa yang kalian lakukan?! Jalan-jalan berdua?!" tanya Rico kesal.
"Kami memang sengaja mau kemari," ucap Anata.
"Iya, ada hal penting yang ingin kami beritahukan padamu," tambah Sakti.
"Apa itu?" tanya Rico.
"Apa kami bisa masuk dulu?" ucap Anata balik bertanya.
Rico menoleh ke belakang tepat ke arah dalam rumahnya, "Sepertinya kalau malam ini tidak bisa," ucap Rico.
"Kenapa?!" tanya Anata heran.
"Di dalam, orang tuaku sedang menjamu tamu yang ingin melamar kakakku," bisik Rico memberitahu.
"Ooh, kalau begitu kami jelaskan saja, sepertinya kamu lebih gampang memahami."
Sakti dan Anata pun memberitahukan hal yang bersangkutan dengan virus Reinka-99 dan game Battle Network.
"Jadi begitu ya?! Baiklah, malam ini juga aku akan membuat akun baru," ucap Rico setelah mendengar penjelasan dari Sakti dan Anata.
"Sakti, menurutmu di mana lokasi titik pertemuan kita?" tanya Anata.
"Bagaimana kalau kita berkumpul di stadion yang dulu aku pernah memancing virus berwujud naga raksasa dan naga itu dipaksa kembali ke lokasi dia berasal?" tanya Sakti memberi usul.
"Itu adalah zona hijau. Menurutku itu rencana yang bagus, karena jalur menuju ke sana juga tidak begitu sulit," ucap Rico.
"Bagus... Kalau begitu, setelah ini kami ingin berlanjut untuk memberitahukan kepada Yoland dan Pom," ucap Anata.
"Iya, terima kasih atas informasinya ya," sahut Rico tersenyum.
"Kami pergi dulu." Sakti dan Anata kembali berjalan menuju mobil dan masuk.
"Kalian berdua hati-hati ya...." ucap Rico sambil melambaikan tangannya.
"Iya," ucap Sakti.
Kemudian mobil berwarna merah maron itupun perlahan menjauh dari rumah kediaman Rico.
"Kita ke rumah Yoland dulu, dan setelah itu kita ke rumah Pom," ucap Sakti sembari mengendarai mobil dan sesekali menoleh ke arah Anata yang duduk di sampingnya.
Setelah beberapa menit, Sakti dan Anata pun tiba di rumah Yoland.
Sakti da Anata langsung menjelaskan kepada Yoland tentang hal yang bersangkutan dengan virus Reinka-99 dan game Battle Network.
Yoland pun mengiyakan dan sesegera mungkin untuk membuat akun baru.
"Baiklah, aku akan lebih dulu menunggu kalian di stadion," ucap Yoland.
Setelah memberitahukan kepada Yoland, Sakti dan Anata berlanjut untuk ke rumah Pom.
Tok... Tok... Tok.... Anata mengetuk pintu depan rumah kediaman Pom. Namun, tak terdengar jawaban.
Sakti memerhatikan suasana di sekitar rumah kediaman Pom yang terasa sedikit sunyi. Lampu-lampu yang menyala di sepanjang jalan pun sangat jarang.
"Apa Pom ada?" tanya Sakti kepada Anata.
"Aku tidak tahu, mungkin dia sudah tidur karena kekenyangan," jawab Anata.
"Apa benar?! Baru saja jam sembilan. Biasanya Pom belum tidur..." ucap Sakti, "Semua lampu rumah juga tidak ada yang menyala, mungkin Pom sedang tidak berada di rumah..." sambung Sakti menerka.
"Hhmmm, iya... Mungkin saja," ucap Anata, "Apa sebaiknya besok saja kita beritahukan pada Pom?" tanya Anata.
"Iya, besok, biarkan aku saja yang memberitahukannya kepada Pom," ucap Sakti.
Kemudian, Sakti dan Anata pun kembali menuju mobil berwarna merah maron.
"Sekarang bagaimana? Kamu mau langsung pulang?" tanya Sakti.
Anata mengangguk mengiyakan, "Aku ingin segera menyiapkan level karakterku," ucap Anata.
"Baiklah."
Sakti pun menjalankan mobil dan mengantarkan Anata pulang ke rumah kediamannya.