17. Rozl

1031 Kata
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Sakti pulang ke rumah dan melihat ibunya yang sedang menonton televisi di ruang tamu. "Jam segini kamu baru pulang, main game sama teman-teman lagi?!" tanya Bu Verita seketika menoleh ke arah depan pintu menatap Sakti. "Aku nggak main game kok, Bu," sahut Sakti mengelak. "Jangan bohong kamu!" bentak Bu Verita. "Aku tidak bohong!" sahut Sakti, "Lagian Ibu tidak ada bukti jika aku main game!" "Ibu ada buktinya!" Ibu Verita beranjak berdiri lalu berjalan ke arah kamar Sakti anaknya. Tak lama kemudian Ibu Verita kembali lagi dengan membawa smartphone milik Sakti, lalu menunjukkannya kepada Sakti. "Ini apa!" Sakti terkejut saat menatap layar smartphonenya yang dipegang ibunya itu. Tampilan beranda game Battle Network ciptaannya bersama teman-temannya terpampang di layar smartphonenya. "Bagaimana bisa game buatan kami dapat digunakan menggunakan smartphone?!" gumam Sakti sembari mengerutkan keningnya. "Mulai sekarang dan seterusnya, waktumu untuk bermain dengan teman-temanmu akan ibu batasi!" ucap Bu Verita, "Untuk sementara ponsel ini ibu sita dulu." "Tapi, Bu." "Tidak ada tapi-tapian!" pungkas Bu Verita, "Sekarang kamu mandi, nanti malam ayahmu akan datang, kita makan malam bersama." "Hah?! Ayah datang?!" gumam Sakti dalam hati, "Bukankah ini belum waktunya ayah liburan?" "Kata ayahmu tadi di telpon, ada sesuatu masalah yang membuat semua karyawan di tempat ayahmu bekerja termasuk ayahmu menjadi terganggu," jawab Bu Verita. "Masalah?!" Sakti mengerutkan keningnya. "Sudah... Itu bukan urusanmu. Sekarang kamu mandi! Kalau nanti ayahmu datang dan kamu masih belum mandi, kalian berdua pasti berebut kamar mandi...." "Iya, iya...." Sakti berjalan langsung menuju ke kamar mandi, sementara ibunya kembali melanjutkan menonton acara televisi kesukaannya. Di dalam kamar mandi, Sakti masih belum bersiap untuk mandi. Ia menatap dirinya dari cermin. "Bukannya ayah bekerja di luar negeri?! Jadi, virus Reinka-99 juga sudah merambat ke negara tempat kerja ayah?!" pikir Sakti. Kemudian ia pun mulai mandi, dan tak lama kemudian ia keluar dari kamar mandi dan langsung pergi menuju ke kamarnya. Sakti menoleh ke arah meja di mana tempat dia meletakkan komputernya. "Aku penasaran, kenapa di dalam smartphoneku bisa ada game Battle Network?!" Sakti berjalan ke arah meja komputernya lalu duduk pada kursi di depan komputer. "Apa di komputer ini juga sama?!" Sakti menekan tombol power dan menghidupkan komputernya. Setelah beberapa menit menunggu, layar monitor di depannya pun mulai menyala. "Kenapa di komputerku tidak ada game Battle Network?!" pikir Sakti sembari. mengerutkan keningnya. Sakti menggeser mouse dengan tangan kanannya untuk menggerakkan kursor anak panah ke arah sebuah ikon shortcut yang berfungsi sebagai alat mengunduh aplikasi untuk komputernya. Loading.... Sakti menatap tulisan ini sampai hampir sepuluh menit. "Apa alat pengunduhnya tidak berfungsi?!" gumam Sakti lirih. Tak lama kemudian setelah tulisan 'Loading....' menghilang, seketika Sakti melihat tampilan beranda game Battle Network, bukan tampilan beranda penyedia aplikasi. "Ternyata dugaanku benar! Semuanya sudah dilapisi dengan server yang dipakai Battle Network! Apa Ecline yang melakukannya?! Orang itu hacker hebat...." Sakti penasaran bagaimana rasanya menjadi pemain biasa, bukan sebagai Game Master. "Aku coba main dari awal," ucap Sakti lirih sembari tersenyum saat mengarahkan kursor ke arah 'Mulai' dan menekan tombol kiri pada mousenya. "Baiklah, aku akan mencoba job yang berbeda." Sakti memilih job penyihir, dan dia pun memulai bermain. Sakti memerhatikan layar monitornya sambil menggerakkan karakter yang digunakannya dengan menekan tombol pada keyboard di depannya dengan tangan kiri, dan tangan kanannya dia gunakan untuk memutar pandangan layar dengan mengeser-gesernya ke kanan dan ke kiri. "Di mana monsternya?! Apa di sekitar sini monsternya sudah habis?!" gumam Sakti heran. Tiba-tiba, tak sengaja dia melihat sesosok karakter yang mengenakan jubah hitam. "Itu Ecline!" Namun, Sakti merasa aneh saat melihat karakter berjubah hitam itu sedang melawan sesosok monster berwujud ular raksasa berkepala dua di depannya. "Bukankah Ecline selalu menghalangi semua pemain untuk melenyapkan virus ciptaannya?! Tapi, kenapa dia yang malah mencoba melenyapkan virus itu sendiri?!" gumam Sakti. Sakti mengarahkan kursor anak panah ke arah karakter berjubah hitam itu. "Apa! Ternyata dia bukan Ecline!" sentak Sakti terkejut saat melihat dan membaca nama dari karakter berjubah hitam yang dilihatnya itu. "Rozl?!" Sakti menyebutkan nama dari karakter berjubah hitam itu, kemudian Sakti memeriksa status level dan item yang digunakan karakter berjubah hitam itu. "Ada delapan item langka yang dia gunakan dari hasil hadiah event... Status levelnya juga lumayan tinggi. Apa dia bisa mengalahkan monster itu sendirian?!" Sakti tak menyadari bahwa karakter berjubah hitam yang sejak tadi diperhatikannya sedang memakai kemampuan serangan area dengan radius delapan, sehingga karakter yang digunakan Sakti juga terkena dampak dari serangan itu karena karakter Sakti berada di jarak jangkauan serangan area milik karakter berjubah hitam bernama Rozl itu. Setelah empat kali karakter berjubah hitam bernama Rozl menggunakan kemampuan serangan area dan dampak serangannya mengenai karakter yang digunakan Sakti, sehingga Health Point yang dimiliki karakter Sakti habis dan tiba-tiba karakter Sakti dipindahkan ke zona hijau. "Hah?! Kenapa aku malah berpindah ke sini?!" Sakti merasa bingung karena karakternya berpindah tempat dan berada di dalam sebuah halaman rumah. Sejak tadi Sakti tidak sadar bahwa sudah terkena dampak serangan dari kemampuan serangan area. "Aku akan mendatanginya lagi dan memastikan siapa dia sebenarnya!" Sakti berpikir bahwa Rozl juga salah satu karakter yang digunakan oleh pemain dengan karakter bernama Ecline. Beberapa menit, karakter Sakti kembali tiba di dekat karakter Rozl yang sejak tadi masih bertarung melawan monster berwujud ular raksasa berkepala dua sendirian. Sakti melihat dan memerhatikan dengan serius. Tak lama kemudian, karakter berjubah hitam bernama Rozl kembali menggunakan kemampuan serangan area dan dampak serangan itu kembali mengenai karakter yang digunakan Sakti. "Jadi ini penyebab tadi aku tiba-tiba pindah tempat..." Sakti sudah menyadari bahwa karakternya tadi berpindah tempat bukan karena sesuatu yang dilakukan oleh Ecline, melainkan karena hal wajar yang baru disadarinya. "Sebaiknya aku mundur sedikit." Sakti menggerakkan karakternya melangkah ke belakang dengan menekan tombol pada keyboard di depannya untuk keluar dari jarak jangkauan kemampuan serangam area yang digunakan oleh karakter bernama Rozl. Namun, setelah Sakti sudah menjauhkan karakternya dari jarak jangkauan serangan, karakter Sakti malah diserang seseorang dari belakang. "Siapa yang menyerangku?!" Sakti menggerakkan karakternya berbalik badan ke arah di mana serangan yang mengenai karakternya berasal. "Karakter berjubah hitam lagi?!" Sakti kembali terkejut, lalu ia memeriksa nama dari karakter itu. "Ecline!" ucap Sakti terkejut. Ecline kembali mengayunkan pedang sabitnya untuk menyerang Sakti. "Dengan status level yang ku miliki saat ini, tidak ada kesempatan untuk melawannya...." Sakti pasrah dan bersiap menerima serangan dari Ecline.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN