Tegangan Tinggi

1151 Kata

Pak Andri mengatupkan bibir dan menghela napas. Ia melirik Doni yang tampak tenang duduk dengan sebelah lengan menempel pada lengan sofa pada bagian pinggir. Senyumannya terus mengembang menanti jawaban apa yang bakal didapatnya pagi ini. Bagaimana pun, ia bakal pasrah apa pun keputusan yang diberikan orang tua Esti. Namun, keyakinan hatinya sangat kuat. Hingga ia begitu percaya diri datang dengan tangan hampa. Pak Andri berdehem, ketika tiga orang di depannya menatap tajam, menanti ia membuka suara. “Mm ... begini ya. Saya belum bisa memberi keputusan bagaimana. Sebab, kau tahu sendiri. Esti masih punya ikatan dengan putra Raharja satu-satunya itu. Kami tak bisa seenaknya memutuskan perjanjian dengan keluarga Raharja begitu saja. Apalagi melihat kondisinya sekarang ini. Rasanya terlal

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN