Aku pura-pura bersikap tak kaget meski saat awal tahu tadi menampilkan ekspresi melongo. “Untuk apa kalian memberi kabar ini kepadaku?” Papa dan Mbak Esti saling pandang, terdiam sebentar. “Ini kabar bahagia, Al. Kakakmu akan menikah dengan lelaki pujaannya. Bagaimana mungkin kami tidak memberitahu kabar seperti ini padamu?” Aku terkekeh. “Untuk apa kalian memberitahuku, sedangkan saat acara itu tiba, aku tak kan pernah turut hadir di sana?” Hanya tatapan malu yang mereka berikan padaku. Sebab, apa yang kukatakan ini adalah kenyataan dan benar adanya. “Tak akan ada yang mau jika aku berada di tengah acara bahagia kalian. Begitu, bukan? Siapa yang tak bakal malu jika mempunyai keluarga tak waras sepertiku?” “Jangan berbicara seperti itu, Al!” Papa mulai tersulut emosi. Wajahnya merah

