Tertawa

1050 Kata

“Entahlah, Al. Kami sudah hampir tak punya harapan.” Ada rasa penyesalan dalam tiap embusan napasnya. Seperti sudah terlalu pasrah dengan apa yang bakal diinginkan Mbak Esti. “Jadi, kalian mengakhiri semua ini begitu saja?” tanyaku penuh selidik. “Mama dan Papa sudah pasrah dengan keputusan Esti. Jika dulu kami masih berusaha memberinya kepercayaan, sekarang dengan kondisi Bagus seperti itu, sepertinya tak mudah. Kami juga sudah tak punya alasan untuk tetap mempertahankan.” “Aku benar-benar kecewa dengan kalian. Tak adakah rasa empati dan belas kasih pada keadaan Bagus yang justru saat ini membutuhkan banyak support?” Mama menundukkan pandangan, seperti tak tahu harus menjawab apa lagi. Bi Sumi menatapku dengan pandangan sayu. Lantas berucap, “Den, lebih baik Aden fokus untuk sembu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN