“Mama!” Mata kami saling bertemu pandang. Kami terdiam masing-masing. Berdiri dengan saling diam dan beradu tatap. Tampak keharuan yang terpancar di pelupuk mata Mama yang kini mulai berkaca-kaca. Sepertinya ia sudah tak sanggup lagi menahan. Maju beberapa langkah dan langsung menghujaniku dengan tangis dan usapan pada wajahku. Seperti serangkaian akting yang telah dipersiapkan. Usapan itu beralih pada tubuh. Ia memelukku erat dan menumpahkan bendungan air yang sedari tadi ditahan di mata. Isakannya membuatku larut dalam sendu. Aku memejam, tetapi tak ingin membalas peluknya. Sudah terlalu sakit hati ini merasa jadi anak yang terbuang. “Maafkan kami, Al. Maaf ...,” ucapnya di sela tangis. Meski ada sebersit kerinduanku padanya. Rasa kesal ini jauh lebih menyesakkan d**a, hingga diri in

