Aku tercekat, tetapi berusaha sesantai mungkin menghadapinya. Pura-pura tersenyum kemudian memiringkan kepala ke kiri dan kanan. Alisnya bertaut. Memicingkan pandangan, seperti tak paham kenapa aku bisa berubah aneh. Tak biasanya. “Dari toilet,” jawabku tanpa mengubah ulasan senyum yang dibuat-buat. Tampak kebingungan memenuhi wajahnya kini. “Ya sudah, cepat masuk ke ruang makan. Makan malam sudah siap.” Aku mengangguk dengan mimik yang terus kubuat lucu, hingga membuatnya seperti ilfil. Kulangkahkan kaki meninggalkannya dengan beberapa kali melirik dan tersenyum. Ia bergidik, menggelengkan kepala lalu bergegas pergi dari tempatnya berdiri. Ku gerakkan kepala ke depan dan mengembuskan napas lega, setelah memastikan suster Dila benar pergi dan tak lagi curiga. Kaki sigap berbelok m

