Kulirik jam dinding yang menempel di atas tembok ranjang. Menunjukkan pukul 08:30 pagi. Seketika aku tergopoh. “Sudah jam sekian, aku harus segera bergegas kembali. Pak Revan pasti sudah khawatir di luar sana. Aku harus bergegas dan tak mau membuat suster Selly kehilangan pekerjaannya.” Tanpa perlu kujelaskan pada mereka. Lucky dan Bagus sudah paham betul dengan nama-nama yang kusebut untuk membantuku sedikit bebas di luaran sini. Ki Pratna tentu tak mempermasalahkan. Ia tak butuh tahu lebih banyak tentangku dan masalah keluargaku. Ia hanyalah seseorang yang kebetulan terlibat tak sengaja, dan terjebak di sini sebab permainan yang kami lakukan. Dengan sejumlah uang yang diberikan oleh Bagus, Ki Pratna tak mungkin bocor begitu saja kepada orang lain. Apalagi, dia terlihat seperti tipika

