Gyan duduk bersandar karena kepalanya amat pening, di tangannya terdapat jarum yang terhubung dengan selang infusan. Ia sempat limbung untuk beberapa detik karena kekurangan asupan, Gyan nyaris tidak makan apa pun berhari-hari, ia hanya minum air atau s**u kapan ia ingat. Semua ini menyita waktunya sampai ia tidak memikirkan dirinya sendiri. Namun setelah pindah ke rumah sakit ini setidaknya suasana agak membaik, jarang ada obrolan yang memancing amarah ataupun perdebatan diantara mereka. Semuanya lebih memilih diam dan saling memahami, kamar inap Aruna juga sangat luas. Beberapa orang bisa menemaninya ketika keadaan stabil. Naasnya kondisi Aruna naik turun, bisa sangat drastis tanpa penyebab yang jelas. Gyan tersentak bangun setelah tidak sengaja memejamkan matanya beberapa detik, alar

