Aku berjalan ke hadapan Galan dan menarik remote controlnya dan memainkan sebuah lagu untuk mengiringi gerakanku meliuk- liuk di tiang yang sudah ia persiapkan. Ia benar- benar sudah merencanakan balas dendamnya dengan matang. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan yang ia kenakan dengan tatapan mata tajam menatapku mulai melangkah. “Berhenti. Kemari dulu.” ucapnya yang membuatku langsung memutar badan dan melenggok sensual ke arah sofa tempat ia duduk. “Kenapa? Ada yang salah? Baju saya kurang terbuka?” tanyaku menantang sambil sedikit menunduk untuk mengikat sepatu ber hak tinggi yang membuatku semakin sensual saat ini. Nada memang memiliki selera yang berbeda. Aku bisa melihat jika ia menghela nafas dengan berat. “Apa kamu selalu setidak tahu malu ini?” tanya Galan

