Birthday Girl

1478 Kata
" Benar. Itu dia!. Itu Tiana." seru Galan dalam hati. Hati yang tiba- tiba berdetak hebat mengingat kejadian malam itu. Kejadian dimana ia tidak menyangka akan bisa sebajingann itu pada seorang wanita cantik yang tidak ia kenali. Dan karena kejadian itu pula, ia tidak pernah lagi berani menyentuh minuman beralkohol sedikitpun. Ada rasa bahagia yang ia rasakan saat ini karena akhirnya bisa bertemu dengan wanita itu lagi. Wanita yang langsung pergi meninggalkannya malam itu setelah ia membantunya berpakaian dan membuat wanita itu nampak merona. Dan harus ia akui, jika tadi ia sempat berpikir jika wanita ini adalah wanita yang sedikit liar dan bebas, nyatanya ia sangat manis dan masih sangat polos. " Nad, airpods saya ketinggalan. Saya naik---" ucap Zara ketika Nadya juga baru saja sampai dan sedikit berlari kecil menyusulnya. " Nggak usah, mbak. Biar saya aja. Itu mobil kita kan?" tanya Nadya sambil menoleh pada Galan yang masih berdiri di samping kendaraan mewah milik Zara dan menatapnya dengan penuh tanya. Zara lalu menoleh pada arah pandangan Nadya dari balik kacamata hitamnya dan kemudian menghembuskan nafas dengan perlahan. " Dia mau terus disana?" tanya Zara dengan sinis. " Oh... Maaf, mbak." ucap Nadya yang langsung memberikan isyarat agar Galan memajukan kendaraannya. Galan yang tentu selalu bisa bersikap tenang lalu memasuki kendaraannya dan sedikit memajukannya tepat di hadapan Zara lalu kembali turun untuk membuka pintu untuknya. " Mbak, saya naik dulu ya ambilin airpods nya." pamit Nadya yang hanya diangguki oleh Zara yang kemudian langsung masuk ke mobil dan duduk di kursi tempat duduknya. " Aku ingat wangi parfum ini. Ini Tiana... Tapi... Kenapa dia tidak mengenali aku? Apa dia lupa sama aku?" batin Galan sambil berjalan ke kursi kemudinya setelah menutup pintu disamping sang majikan. Diam- diam, Galan sesekali melirik dan mengamati Zara dari kaca spion yang ada di hadapannya dengan seksama. Bentuk wajah, bentuk alis, semuanya sangat mirip dengan Tiana. " Apa mereka saudara kembar?" batin Galan. " Maaf, saya lama. Ini, mbak..." ucap Nadya yang kini sudah duduk di samping kursi yang ada di samping Galan dan sedikit berbalik dan mengulurkan kotak putih kecil pada Zara. " Makasih." ucap Zara singkat meski itu malah terdengar bagai bisikan. " Pagi, mas. Pengganti mas Anton ya? Namanya siapa?" tanya Nadya dengan ramah dan sambil memasang sabuk pengamannya. " Galan. Nama saya Galan." jawab Galan mencoba untuk ramah pada Nadya. " Mas Ga---" " Galan saja." potong Galan dengan sopan. " Oke. Saya Nadya, saya tukang rias nya ibu Zara. Ya meskipun ibu Zara juga udah cantik tanpa saya apa- apakan." canda Nadya yang sepertinya tidak cukup lucu untuk dua orang lainnya hingga ia hanya bisa menggaruk kepalanya meski sama sekali tidak gatal. " Jalan sekarang?" tanya Galan. " Boleh. Hati- hati ya..." ucap Nadya lalu sedikit menoleh pada Zara yang hanya menggelengkan kepalanya karena tahu jika Nadya selalu tak tahan dengan pria berwajah tampan. Nadya lalu menoleh pada Zara yang sepertinya mulai mendengarkan lagu yang akan ia nyanyikan untuk acara amal nanti melalui airpods miliknya dan masih dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung kecilnya. " Kamu tinggal dimana?" tanya Nadya mencoba berbasa- basi. " Mulai hari ini saya akan tinggal di rumah pak Frans." " Oh ya? Emang lebih bagus sih. Kamu bisa siap setiap saat kalau harus mengantar ibu Zara." ucap Nadya. " Kok lewat sini?" tanya Nadya yang heran karena Galan mengambil jalan berbeda dari yang biasa mereka lalui untuk menuju yayasan milik Zara. Lebih tepatnya, milik suami Zara. " Kalau kita lewat jalan besar, kemungkinan kita akan terlambat 10 menit. Sekarang kita sudah terlambat 15 menit dan itu berarti saat kita tiba disana kita sudah terlambat sekitar kurang lebih 25 menit dari waktu seharusnya. Itu belum saya hitung dengan lama perjalanan kita. Kalau kita lewat jalan ini, kita hanya akan terlambat sekitar 5 menit karena jalannya cukup sepi. Dan meski jalannya kecil, tapi masih bisa dilewati oleh dua kendaraan dan kita hanya akan melewati beberapa meter jalan besar lalu akan sampai ke yayasan." jelas Galan dengan serius dan Nadya terlihat bingung dengan ucapan Galan. " Saya nggak ngerti... Ya terserah kamu sajalah." ucap Nadya dengan wajah polosnya. " Baik." Sepanjang perjalanan, tidak ada satupun diantara mereka yang berbicara sedikitpun. Nadya yang sibuk dengan ponsel di tangannya dan sesekali terlihat menertawakan sesuatu, sementara Zara masih terus menghadap ke luar jendela dengan airpods di telinganya dan bibir yang terkadang ikut bergerak. Sementara itu, Galan mencoba untuk tidak memikirkan soal Tiana dulu saat ini dan fokus mengemudikan kendaraannya dengan baik. " Kenapa dia terlihat tidak terkejut sama sekali dan bahkan terlihat biasa saja seolah kami memang belum pernah bertemu sebelumnya. Aku memang belum yakin dia adalah Tiana, tapi mereka berdua terlihat sangat mirip meskipun dengan kacamata hitamnya sejak tadi." batin Galan yang kembali diam- diam melirik sosok wanita yang duduk di belakangnya tersebut. Galan Flashback " Makasih..." ucap Tiana ketika Galan mengulurkan sepatu hak tinggi miliknya dan pria itu hanya tersenyum simpul. " Kamu... Mau ke tempat lain?" tanya Galan dengan kikuk dan kini mereka telah sama- sama berpakaian. " Kenapa? Kamu masih pengen?" tanya Tiana dengan menyipitkan matanya. " Bu--- Bukan... Maksud saya, kalau saja kamu mau ke suatu tempat, saya akan mengantar kamu. Atau mungkin kamu mau pulang, saya bisa---" " Saya nggak mau pulang. Kalau gitu, kamu ajak saya ke tempat kamu. Mereka pasti masih berkeliaran di sekitar sini." ucap Tiana. " Baiklah... Kalau begitu, kita jalan- jalan saja." jawab Galan yang masih merasa kikuk dan itu membuat Tiana merona. Baginya, Galan malah terlihat sangat manis dan lucu. Dan meski Tiana tidak begitu ahli dalam soal pria dan bercinta, namun ia tahu jika Galan juga tidak ahli dalam hal ini. Entah karena memang ruang gerak mereka terbatas dan tidak dalam kondisi yang memungkinkan, tapi Tiana bisa merasakan keterburu- buruan Galan dalam penyatuan mereka beberapa menit yang lalu. Sepanjang perjalanan, mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing- masing. Galan sendiri takut memulai pembicaraan mereka karena tak ingin lagi menyinggung perasaan wanita yang nampak mengantuk tersebut. " Kamu mau ke suatu tempat?" tanya Galan pada Tiana yang kini menyandarkan tubuhnya. " Pantai aja." " Oke..." ucap Galan dengan singkat. Galan lalu mengemudikan kendaraan yang ia sewa harian tersebut menuju jalan ke arah pantai dan hanya bisa tersenyum ketika menoleh pada Tiana yang kini sudah tertidur. Dan karena daerah tersebut memang tak jauh dari pantai, akhirnya Galan kemudian memarkirkan kendaraannya tersebut ke area parkiran dimana ada beberapa mobil yang juga terparkir disana. " Tiana... Tiana kita sudah sampai." panggil Galan dengan lembut. Galan akhirnya memutuskan untuk membangunkan Tiana setelah sudah sekitar lima belas menit lamanya mereka berada di atas mobil. Perlahan bulu mata panjang dan lentik wanita tersebut nampak bergerak dengan kening yang terlihat sedikit mengernyit. " Kita dimana?" tanya Tiana setelah memperbaiki posisi duduknya. " Ini... Jaket kamu?" sambung Tiana ketika ia melihat sebuah jaket berwarna hitam menutupi paha mulusnya. " Iya." " Makasih." ucap Tiana dengan gugup. Ia merasa pria di hadapannya ini memang seorang pria sejati. Ia bahkan tidak mencoba mengambil kesempatan atau menggodanya agar mereka bisa mengulangi apa yang tadi mereka lakukan. " Mau saya bantu?" tanya Galan ketika ia melihat Tiana nampak kesulitan untuk melepaskan sabuk pengamannya dan hal itu juga terjadi pada salah satu anak buahnya tadi. Tiana lalu mengangguk perlahan sambil menyelipkan rambut panjangnya ke telinga. Tatapan lekat dan tajam dari Galan setiap kali pria tersebut berbicara kini membuatnya selalu salah tingkah. " Ini memang macet. Agak sedikit butuh effort untuk---" " Terima kasih ya... Malam ini kamu sudah terlalu banyak saya repotkan." ucap Tiana setelah mengecup pipi Galan dengan lembut tepat disaat pengunci sabuk pengamannya sudah terbuka. " Ng... Kamu... Kamu mau minum sesuatu?" tanya Galan salah tingkah. " Kenapa? Kamu kira saya mabuk?" tanya Tiana sambil tersenyum dan bagi Galan, senyumannya sangat menawan. Deretan gigi putihnya dan lesung pipi yang nampak di kedua ujung bibirnya membuatnya terlihat semakin manis. " Maaf... Saya nggak bermaksud begitu. Saya hanya mau menawarkan kamu minum kalau saja kamu haus." " Ya ampun... Iya, saya tahu. Saya juga hanya bercanda." ujar Tiana tertawa kecil. " Kalau begitu, saya kesana sebentar. Kamu... Tunggu disini ya. Saya nggak lama." ucap Galan yang seolah takut Tiana akan pergi. " Iya... Saya tungguin disini. Saya mau main ke pinggir pantai sebentar ya..." jawab Tiana sambil menunjuk tepian pantai yang tak jauh dari posisi mobil mereka terparkir. Dan meski saat ini sudah pukul 2 malam, namum nyatanya beberapa muda mudi masih juga asik menikmati malam mereka. " Baik. Tapi... Tapi jangan masuk ke dalam air laut ya. Sudah tengah malam dan ini cukup berangin." ujar Galan dengan sopan. Tiana pun hanya mengangguk saja lalu keluar dari mobilnya meski dalam hati ia merasa sikap Galan lagi- lagi sangat manis kepadanya. Galan lalu berjalan meninggalkan Tiana yang masih berdiri tak jauh dari mobil mereka dan menatap punggung lebar miliknya. " Siapapun kamu, terima kasih sudah memberikan malam ulang tahun terindah dalam hidup aku." ucap Tiana sambil tersenyum getir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN