“Menurut kamu mana yang bagus, Yak? Crame atau merah muda?” tanya Khiya bingung, sembari menujukan dua gamis di depan layar ponselnya. Di sebrang sana, terlihat Aliya nampak menimbang-nimbang. “Emang kamu bawa jilbab warna apa aja?” “Putih, abu-abu, biru dongker dan kuning. Cuman itu yang aku bawa. Abu-abu sama kuning udah aku pakai tadi pas kemarin sama pagi tadi. “Ya udah gak ada pilihan, pak gamis crame dan jilbab putih.” “Emang cocok?” “Cocok sih, persis kayak ibu kosidahan.” Khiya cemberut. “Gue pikir sering jadi Sania, kamu jadi tahu cara pilih jilbab dan gamis yang kekinian gitu.” “Kan, cuman ini yang membedakan Sania dan Khiya. Kamu gak lupakan kalo Farel bisa membedakan orang dari penampilannya.” Khiya menunduk sedih, teringat penyakit yang Farel derita dan semua hal p

