“Eh, Khiya, kenapa?” Nurul menghentikan kegiatan menyiram bunga, dia lantas berjalan tergopoh menghentikan laju motor Farel yang baru saja tiba di halaman. “Khiya kenapa? “tanya Nurul. Farel menghentikan motornya. “Gak kenapa-napa, Bu. Dia ketiduran pas pulang, makanya Farel tahan gini tangannya, biar gak jatuh.” “Oh..” Nurul menghela nafas lega. Farel memarkirkan motornya. “Kayaknya dia kelelahan jalan-jalan pagi,” kata Nurul, saat melihat wajah Khiya yang terlihat sangat pulas. “Iya, tadi dia ke kebun teh juga, Bu.” “Iya, di sana pemandangannya emang indah banget.” “Biar Farel bangunin Khiya sekarang.” “Eh, jangan!” henti Nurul. “Kenapa kamu harus bangunin dia? Kamukan bisa gendong dia masuk ke dalam. Kasihan Khiya kalo dibanguni.” Farel tertegun sesaat. Dia juga tidak

