Khiya berusaha bersikap seperti biasa, dia juga meminta Nurul untuk tidak mengkhawatirkan hal-hal yang tidak penting. Nurul juga berusaha untuk menepis semua pikiran buruknya. “Kenapa hening banget....” celetuk Sulaiman yang tidak terbiasa melihat istrinya hanya diam saja. Meski tidak ikut dalam obrolan pembicaraan, Sulaiman sangat menikmati suasana di meja makan tadi siang. Hangat dan ramai. Di mana tidak hanya terdengar suara sendok dan piring yang beradu pelan. “Rel, gimana pekerja kamu? “tanya Sulaiman, berbasa-basi. “Alhamdulillah baik, Yah,” sahut Farel seadanya. “Oh iya, puding mangganya mana? Ayah gak sabar mau cobain.” Nurul hendak beranjak dari duduknya, Khiya menghentikan pergerakan mertuanya itu. “Biar Khiya aja yang ambil, Bu,” suara Khiya parau. Hal itu menarik

