Percaya

1853 Kata

“Khiya, ayo kita makan... “Nurul mengetuk pintu kamar Khiya. Khiya muncul setelah dua menit berlalu. “Duh maaf bu, Khiya jadi gak bisa bantuin Ibu.” “Udah gak papa...kamu keliatan lemes banget ...” “Hem, itu bu, Khiya tadi habis salat dzuhur, ketiduran. Makanya masih gini...” “Oalah, wajar sih, kamu dua jam di mobil, pasti capek banget,” kata Nurul. Sekarang ayo kita makan.. Farel sama ayah udah nunggu.” “Iya, bu, Khiya cuci muka bentar, Bu.” “Iya, ibu tunggu ya di meja makan.” Khiya mengangguk pelan, lantas kembali masuk ke kamar. Di kamar mandi, Khiya menatapi wajahnya yang pucat. Khiya tidak sakit, dia hanya cemas karena melupakan obat. Khiya hanya perlu menjaga dirinya agar kondisinya tetap baik selama di rumah mertuanya. Khiya tidak ingin dirinya merepotkan dan membuat pa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN