Dua jam berlalu, Farel merengangkan pinggangnya terlebih dahulu lalu keluar mobil dan beralih membangunkan Khiya yang sejak satu jam yang lalu tertidur untuk segera turun. Mereka sampai di depan halaman rumah kedua orang tua Farel, yang terbilang cukup luas. Suasana dingin selalu menyelimuti tempat ini. Bahkan kalo diliat seperti berembun setiap saat, terlebih untuk rumah Farel yang halamannya di penuhi banyak bunga dan pohon rindang. Yang jika pagi, rasanya halaman rumah Farel selalu terlihat seperti hujan. Rumah yang orang tua Farel tempati tidak terlalu besar atau pun kecil, bangunnya pun di buat sedang ala-ala rumah pedesaan pada umumnya. Rumah itu berbahan dasar batu bata, tapi jika sekilas orang melihatnya seolah rumah itu di susun oleh papan, ayahnya sengaja memilih hiasan itu,

